Tanda-tanda Intoleransi Laktosa Pada Bayi

Ditulis: Lariza Puteri

Jangan sampai salah, meski sekilas hampir sama, tanda-tanda intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu sapi.

Saat pertama kali punya bayi, ada hal baru (dan menarik) saya pelajari, yaitu tentang alergi pada anak. Kenapa? Karena kebetulan saya juga mengalami hal tersebut. Dan ternyata, selain alergi ada juga kondisi yang mirip-mirip dengan alergi susu sapi, tapi itu beda! Namanya intoleransi laktosa.

Tanda-tanda Intoleransi Laktosa Pada Bayi - Mommies Daily

Intoleransi laktosa terjadi saat tubuh kekurangan enzim laktase sehingga tidak dapat mencerna laktosa. Laktosa adalah jenis gula yang terdapat dalam susu. Padahal laktosa ini yang nanti akan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa, yang kemudian digunakan sebagai sumber energi. Sifatnya ada yang primer, yaitu defisiensi enzim laktase yang terjadi sejak lahir. Tapi ada juga yang sekunder atau yang terjadi akibat adanya infeksi pada saluran cerna yang mengakibatkan terjadinya defisiensi enzim laktase. Salah satunya saat terjadi infeksi virus rotavirus.

“Akibatnya, anak akan mengalami diare kronis yaitu diare cair, dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari dan berlangsung lebih dari 14 hari atau lebih,” kata dr. Fahmi Hasan, SpA, M.Kes, dari Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih.

Diare yang terjadi akibat intoleransi laktosa juga punya ciri khas tersendiri yang beda dengan diare akibat infeksi lain. Saat mengalami intoleransi laktosa, diare akan lebih cair dan berbuih, berbau asam, dan biasanya akan muncul ruam di sekitar pantat anak akibat asam dari laktosa. Selain itu anak juga akan mengalami kembung, sering buang angin, dan muntah.

Kalau anak mengalami gejala tersebut setelah minum susu, dokter Fahmi menyarankan untuk membatasi dulu asupan yang mengandung laktosa, susunya juga sebaiknya diganti dulu dengan susu yang bebas laktosa, atau dengan terapi pemberian enzim laktase buatan. Jangan lupa juga selalu pastikan anak mendapat cairan yang cukup agar tidak dehidrasi.

“Kalau terjadi berkepanjangan, intoleransi laktosa bisa mengganggu tumbuh kembang anak karena akan banyak vitamin, mineral, serta makronutrien yang tidak terserap secara optimal,” tambah dr. Fahmi.

Intoleransi laktosa ini lebih rentan dialami oleh balita, terutama yang disebabkan oleh infeksi rotavirus sebagai pencetusnya. Jadi menjaga kehigienisan lingkungan sekitar anak dan vaksin rotavirus juga sama pentingnya untuk mencegah intoleransi laktosa ini.

Berbeda dengan  intoleransi laktosa yang melibatkan saluran cerna, kalau alergi susu berkaitan sama daya tahan tubuh yang bereaksi berlebihan terhadap protein susu. Jadi reaksi atau gejalanya pun bukan cuma pada saluran cerna seperti diare, tetapi juga akan muncul reaksi alergi lain seperti ruam kulit, gatal-gatal, hingga sesak napas. Jadi sangat berbeda. Pada kasus alergi, anak sama sekali nggak boleh mengonsumsi produk susu. Jadi jangan buru-buru diagnosa anak alergi susu sapi, kalau ternyata anak intoleransi laktosa. Kalau masih ragu sebaiknya konsultasikan sama dokter untuk memastikan masalah apa yang sebenarnya terjadi sama anak kita.


One Comment - Write a Comment

Post Comment