Belum Terlambat Bagi Orangtua Generasi Z Mengajarkan Tata Krama di Dunia Maya

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Tata karma itu berlaku di dunia maya dan nyata. Permasalahannya, bagaimana mengusahakan anak bisa komitmen menjalankan prinsip tersebut?

Mumpung masih hangat, nih, kasus mahasiswa bibit unggul yang nyamber cuitan seorang animator Indonesia kelas dunia. Maksud hati ingin terlihat cerdas mengkritik, nyatanya hal yang dikritik nggak sesuai konteks. Begitu dibalas oleh si animator yang followernya puluhan ribu ini, mau nggak mau, dedek ini ‘dibully.”

Belum Terlambat Bagi Orangtua Generasi Z Mengajarkan Tata Krama di Dunia Maya - Mommies DailyImage: by Erik Lucatero on Unsplash

Walau nggak sedikit yang membela, banyak juga yang menasihati, menghujat, atau sekadar berkomentar sepedas rawit terhadap dirinya. Kisruh ini sebenarnya tidak harus terjadi kalau saja si mahasiswi sebelum berkomentar mau sedikit berusaha memelajari dulu konteks cuitan.  Nggak asal nuduh, dan berkomentar negatif. Nyatanya si mahasiswi nggak kenal juga sama si animator. Ngakunya, cuitan tersebut sedang numpang lewat di timeline-nya, dan dia gatal pengen komentar sebagai sesama animator.

Ah, etika di dunia nyata apa nggak bisa diterapkan di dunia maya? Kalau nggak kenal, kenapa komentar? Komentarnya nyelekit pula. Notabene dilakukan oleh dia yang lebih muda terhadap yang lebih tua. Sebegitu acuhnya kah generasi muda terhadap budaya tata krama?

Baca juga: Jangan Jadi Racun di Social Media

Sering saya dengar curhatan sesama orangtua, kalau generasi muda (baca: milenial) saat ini berdaya juang lemah, no sopan santun, dan arogan. Familiar dengan curhatan para generasi X & Y yang sudah jadi menduduki jabatan tinggi di sebuah perusahaan yang sering ngeluh, “Duh, anak sekarang ini kalau ngirim CV apa nggak diajarin sama dosennya dulu. Nggak ada subject email, nggak ada kata pengantar, ujug-ujug attach CV. Lah, situ mau apply sebagai apa?”

Kebiasaan cyberbullying juga semakin marak. Bahkan menyebabkan korbannya bunuh diri. Situasi yang mengizinkan seseorang berlaku sebagai anonymous dan bebas menghujat orang lain kian menjadi tanpa bisa dibendung lagi.

Salah siapa? Karakter yang udah dari sananya, atau salah pola pengasuhan? Sudahlah ya, sudah percuma mencari siapa yang salah. Kenyataannya, model attitude seperti ini menjadi jamak dan dianggap biasa oleh generasi muda saat ini.

But, no! Saya nggak mau ini terjadi pada anak-anak saya. Saya mau ketika mereka beranjak remaja, kemudian menjadi dewasa, tetap punya tata krama, menghargai orang lain, nggak main seradak seruduk, berpikir panjang, dan tentunya tetap open minded. Bahkan di dunia maya. Ini bukan mimpi yang muluk-muluk. Sebagai orangtua dari Gen-Z, kita bisa membantu mereka dengan melakukan hal-hal berikut ini.

1.Bangkitkan Kembali Punishment

Nggak berarti numpahin air minum lalu dikeplak atau hanya karena ngisengin si adik, si kakak dicubit sampai pahanya biru-biru, ya. Bentuk punishment itu banyak.  Kita sebagai orangtua, kan, bisa kreatif untuk menciptakan punishment yang nggak nyakitin fisik. Menulis janji untuk nggak berulah lagi sebanyak 100 kali di kertas, misalnya. Atau sesederhana berdiri di pojokan dengan satu kaki diangkat. Ketika dia melakukan hal di luar kendali dan bertingkah seenaknya dan merugikan orang lain, dia harus tahu konsekuensi dari perbuatannya.

2.Jangan dibelain terus

Sudah tahu anak kita salah, bukannya kita nasihati, malah kita sebagai orangtua maju jadi tameng. Prinsip hidup “anakku nggak pernah salah” ini bahaya banget, lho. Tingkah laku buruk yang selalu dibela akan membuat anak tumbuh dan mengetahui bahwa hal buruk  yang dilakukannya adalah sesuatu yang wajar.

3.Jangan lupa asah EQ

Asyik-asyik aja anak diikutkan les matematika, dimasukkan ke sekolah bilingual, eh trilingual ding, Mandarin udah jadi bahasa internasional ke dua di Indonesia, lalu lalai mengasah EQ. Pada kasus mahasiswa bibit unggul ini, harus diakui, kecerdasannya di atas rata-rata. Pemilihan kata dalam berargumen pun saya acungkan jempol. Sayangnya nggak dibarengi dengan kecerdasan emosi. Asah EQ itu sama pentingnya dengan asah IQ, mom. Dengan EQ yang baik, tentu anak kita bisa lebih memiliki empati. Kecil kemungkinan orang dengan EQ tinggi, di masa depan bakal follow Lambe Turah dengan akun anonim, cuma supaya bisa komen.

4.Berani mengakui kesalahan dengan rendah hati

Sudah tahu salah,  tapi malah lebih galak dari yang nggak salah.  Mengajarkan anak berani mengakui kesalahan dengan humble itu memang susah-susah gampang. Ya, siapa, sih, orang yang suka salah. Bagaimana pun melakukan kesalahan itu manusiawi, tapi berani mengakui kesalahan itu mulia. Asal jangan sampai kesalahan yang sama diulang lagi.

5.Punya akun media sosial di saat yang tepat

Saya pribadi, maunya, kalau bisa, dan anaknya bisa diajak kompromi, mereka baru punya akun media sosial ketika sudah berusia 18 tahun. Paling tidak cara anak berpikir di usia tersebut, jauh lebih matang daripada mereka-mereka yang sudah dibolehkan memiliki akun dan berinteraksi di media sosial di usia 9 atau 10 tahun.

Jangan lupa, setiap layanan media sosial memiliki batasan umur saat bergabung di layanan tersebut. Jadi kalau jelas-jelas dalam syarat dan ketentuan menyebutkan hanya yang berusia 15 tahun ke atas bisa bergabung, lalu ada orangtua yang santai mengizinkan anaknya yang berusia di bawah itu punya akun medsos, itu sama saja membiarkan anak di bawah umur, yang belum boleh punya SIM, bawa motor.  Mentalnya belum siap, kak! Apa jadinya kalau ia terpancing komen-komen negatif yang muncul di postingan dia? Apa jadinya kalau dia malah ikut-ikutan komen negatif di akun orang lain? Nantilah, akan ada saatnya dia bisa punya media sosial sendiri.

6.Silence is golden itu benar adanya

Itu tadi, ketika melakukan satu kesalahan pasti ada konsekuensinya. Kalau meminta maaf sudah, tapi masih di-bully juga, maka ajarkan anak untuk memegang teguh prinsip lama ini.

Baca juga: Berhenti Memamerkan Kebodohan di Social Media

Note: Poin-poin di atas ini merupakan pendapat pribadi yang didasarkan pada pengalaman penulis sebagai orangtua, dan praktisi digital. Jadi, kalau ada yang beda pendapat, monggo, dikomen dengan hati yang bersih, tenang, dan bebas emosi tinggi.


One Comment - Write a Comment

  1. Setuju banget! Nomor 1 itu saya banget. Anakku di rumah kalau sudah keterlaluan, konsekuensinya dihukum menghadap tembok di pojokan ruang tamu. Hanya menghadap tembok, sambil disuruh mikir apa kira-kira yang menyebabkan dia sampai dihukum ibu bapaknya. Bisa sampai satu jam, karena dia masih kelas 3 SD, yang kadang gak seberapa paham salahnya dia di mana hehe…. Habis menjalani hukuman, diajak ngobrol baik2 soal kesalahannya dia. Lumayan efektif :)

Post Comment