Minimal Invasive, Ketika Tindakan Operasi Jauh dari Kata Menyeramkan

Lewat metode minimal invasive, kini pasien nggak lagi harus berlama-lama dirawat. Kalau dulu luka operasi bisa sampai hitungan cm, kini luka sayatan bisa hanya sebesar ujung pulpen, bahkan sama sekali nggak ada bekas luka.

Bicara soal operasi, seumur hidup saya paling takut sama tindakan dunia kedokteran ini. Eh yak kok dapat juga giliran pasrah di atas meja operasi, saat harus melahirkan Caesar. Namun kecanggihan ilmu dan peralatan, memungkinkan luka sayatan di perut bawah saya, cuma setengah jengkal saja. Ya maklum aja, yang dikeluarkan kan, bayi sebesar 3,5 kg, hihihi.

Minimal Invasive - Mommies DailyImage: trust-gmits.com

Lain cerita dengan minimal invasive, yaitu “Tindakan bedah dengan luka sayatan yang lebih minimal. Setelah dilakukannya tindakan, pasien akan merasakan nyeri yang lebih sedikit, risiko komplikasi lebih rendah, serta masa pemulihan yang lebih singkat, bila dibandingkan dengan bedah konvensional.” Kata Chief Executive Officer (CEO) RS Pondok Indah Group, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS pada press conference “Solusi Minimal Invasive” di Jakarta akhir Agustus 2018.

Zaman dulu, kata dr. Yanwar tindakan operasi konvensional pada kasus usus buntu bisa memakan pemulihan 7 hari. Tapi sekarang 2-3 hari saja sudah bisa pulang. Ini artinya juga bisa mengurangi trauma pada tubuh.

Hal senada juga diungkapkan dr. Hery Tiera, Sp.U, Dokter Spesialis Bedah Urologi RS Pondok Indah – Pondok Indah & RS Pondok Indah – Bintaro Jaya. Dulu tuh, yang namanya bedah konvensional dianggap momok yang sangat menakutkan. Kenapa? Karena pasti akan meninggalkan luka sayatan yang besar. Tapi seiring berkembangnya teknologi, kini operasi sangat mungkin dilakukan dengan minim sayatan bahkan tanpa sayatan, penting banget kan ini buat kita para perempuan?

Penyakit apa saja yang bisa ditangani dengan metode minimal invasive?

Di kesempatan hari itu, ada tiga penyakit yang bisa ditangani dengan minimal invasive

1.Masalah pada jantung (kateterisasi jantung atau pemasangan stent pada jantung,  pemasangan alat pacu jantung, serta kebocoran sekat jantung akibat kelainan jantung bawaan)

Untuk kasus pemasangan stent pada jantung, kebetulan papa saya mengalaminya sekitar lima tahun yang lalu. Tahu nggak mommies? Lukanya nggak lebih besar dari ujung pulpen, yang ada di selangkangan pahanya. Canggih!

2.Masalah pada pembuluh darah misalnya varises

3.Penyakit-penyakit dalam rongga dada, seperti tumor paru, benda asing di dada, akumulaso udara atau cairan dalam rongga dada serta penyakit keringat berlebih.

4.Kasus batu di saluran kemih.

Pada setiap kasus, ada turunan metode minimal invasive lainnya. Yang akan ditentukan oleh tim dokter. Jadi bisa saja, (misalnya) kasus batu pada pasien A menggunakan metode A, tapi pada pasien B, pakai metode B. untuk kasus batu di saluran kemih, tergantung dari seberapa besar dan kerasnya batu.

Yang penting sekarang, mind set kita terhadap tindakan operasi, tidak lagi seseram zaman dulu. Kalau saat teknologi opeasi belum secanggih sekarang,  kasus batu pada kemih, harus menyayat bagian belakang pinggang, sekarang kata dr. Hery kasus ini bisa dilakukan dengan luka sayatan sangat kecil, atau tanpa sayatan.

Ada yang sudah punya pengalaman dengan minimal invasive ini?


Post Comment