Tantangan Memasukkan Anak di Daycare Saat Dia Sudah Besar

Dalam prosesnya ada empat tantangan yang saya temukan, nyerah? Ya nggak dong, keluarga saya mengatasinya dengan cara berikut ini.

Terhitung baru dua bulan, Jordy saya titipkan di daycare. Alasan sudah pernah saya jabarkan di artikel Kapan Pakai Pengasuh, Kapan Nitip ke Daycare. Nah, pas prosesnya ternyata ada beberapa tantangan yang saya dan suami temui.

Tantangan Memasukkan Anak di Daycare Saat Dia Sudah Besar - Mommies DailyImage: frank mckenna on Unsplash

1.Terlalu lama menunggu

Sekolah Jordy sebelumnya hanya memakan waktu kurang dari dua jam. Jadi nggak heran sih memang, pas “nyemplung” di aktivitas barunya di daycare dan sekaligus sekolah, menunggu 12 jam terasa berat buat dia.

Jordy pernah berujar gini: “Bunda, kalau jemput Jordy selalu udah gelap.” Karena belum mengerti konsep menghitung jam, saya jelaskan sesuai dengan nalarnya dia. Intinya saya kasih pengertian, jam pulang saya, ketika matahari mulai terbenam, artinya, langit sudah gelap. Sebelum pulang, masih harus ordek ojek online dulu. Belum kalau, lalu lintas lagi aduhai macetnya. Membuat Jordy berpikir dan paham, ada proses yang harus saya lewati, sebelum sampai di daycare. Sejauh ini berhasil, yeay!

Baca juga: Persiapan si Kecil Masuk Daycare

2.Menu makan yang beda dengan di rumah

Ini sih yang agak nggak tega. Lidah Jordy sudah terbisa makan menu keluarga, yang kaya bumbu. Bahkan dia sudah bisa makan nasi padang, hahaha. Toleransi dia sama rasa pedas, hampir setara dengan dewasa. Saya bisa maklum, saat dia mengeluh soal rasa makanan di daycare, yang kayaknya kurang “nendang.” Bisa saja sih saya bekelin makanan dari rumah, tapiii menurut saya, hanya akan menghambat adaptasi yang sedang dia jalani. Dan saya nggak bisa ngebayangin, setiap pagi mesti masak buat bekal saya, suami dan Jordy. Nggak lah, saya nggak serajin itu di dapur :p

Saya tekankan, menu pedas yang dia sukai di rumah, kan, masih bisa dimakan kalau pulang dari daycare. Atau seharian di sabtu minggu. Saya juga sudah list makanan kesukaan Jordy ke pihak manajemen daycare. Ternyata mereka mengabuli permintaan Jordy yang sudah bisa makan makanan pedas, kok.

3.Bahasa

Bahasa ibu kami di rumah, 80% menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris baru digunakan ketika saya membacakan buku cerita yang isinya Bahasa Inggris. Atau sesekali belajar berhitung, mengenal warna, binatang, dan nama-nama benda di sekelilingnya.

Sementara itu dalam kesehariannya, daycare Jordy 90% menggunakan Bahasa Inggris. Selama dua bulan ini saya pantau, Jordy perlahan mulai menyerap kosa kata baru, dan mempraktikkannya di rumah. Solusinya, saya dan pasangan berusaha menyamakan frekuensi. Menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang juga dipakai di daycare.

4.Adaptasi dengan orang baru dalam skala besar

Ini sih yang saya kagum dari otak anak-anak. Mereka cepat sekali menghapal nama-nama baru. Dua mingguan, masih ogah-ogahan menyebut siapa saja nama miss-nya. Pas udah sebulanan di sana, saya “banjir” nama teman-temannya dia, lengkap dengan menggambarkan masing-masing karakter mereka. Kuncinya kita mesti proaktif, setiap hari saya memancing Jordy ngobrol soal kegiatannya. Dengan begitu dia akan terstimulasi mengingat saja yang terlibat di cerita yang akan dia kasih tahu saya. Lama-lama, dia yang akan minta kita mendengarkan, kisah si A, B,C dan seterusnya yang nggak jarang bikin saya katawa ngakak.

Mungkin mommies punya jenis tantangan yang berbeda?

Baca juga: Rekomendasi Daycare di Jakarta Pusat dan Selatan


Post Comment