banner-detik
BEHAVIOR & DEVELOPMENT

Komunikasi Efektif: Bikin Hubungan Anak & Orangtua Less Drama

author

?author?27 Aug 2018

Komunikasi Efektif: Bikin Hubungan Anak & Orangtua Less Drama

Saat predikat orangtua diliputi berbagai tantangan. Yuk bikin hubungan antara anak dan orangtua less drama dengan komunikasi efektif.

Ketika anak lanang saya memasuki usia 4 tahun, ada kalanya pola komunikasi kami mulai memasuki episode ngeyel. Nggak jarang harus melewati proses tawar menawar, dan hasil berhasil, namun sering juga gagal, berujung dia ngambek dan bikin saya sakit kepala *__*.

Komunikasi Efektif - Mommies Daily

Sampai saya mendengar penjelasan dari Najeela Shihab, Inisiator Semua Murid Semua Guru dan Founder Keluarga Kita, barulah saya punya perspektif baru mengenai pola komunikasi sama si anak lanang ini. Sebetulnya saat talkshow berlangsung, komunikasi efektif yang dimaksud menyasar pada sektor cerdas digital. Tapi pada praktiknya, saya aplikasikan ke semua aspek kegiatan. Dan terbukti mengurangi eyel-eyelan di antara kami.

Jadi mommies, cara berkomunikasi  ada dua: tidak efektif dan efektif. Berikut ini penjabarannya, saya ambil contohnya untuk berbagai situasi:

TIDAK EFEKTIF

Nasihat:

Tuh, kan berdarah. Makanya mama bilang jangan lari-larian!

Interogasi:

Sudah habis berapa pulsanya buat main? Ayooo, lagi lihat apa itu di HP?

Menolak/mengabaikan perasaan:

Gitu aja ngambek, nggak usah temanan kalau diejek gitu, deh Jordy!

Perintah:

Pokoknya sekarang juga harus makan!

EFEKTIF

Refleksi pengalaman:

Dulu mama senang lari-larian pas main. Tapi kalau terlalu kencang, mama jadinya capek. Terus mama sering jatuh. Jadinya mama istirahat kalau capek, dan ngurangin lari-larian.

Menyatakan observasi:

Mama perhatikan, kamu sudah 1 jam online. Istirahat yuk, habis itu main di luar.

Empati:

Dulu mama waktu kecil pernah diejek sama teman-teman mama. Rasanya nggak enak, sedih. Tapi mama nggak mau terus-terusan sedih, yang penting mama nggak seperti yang mereka bilang.

Pilihan dan Anitipasi:

Kalau ngeliat jadwal kakak, sudah waktunya makan siang, nih. Habis itu mau main sepeda atau main lego?

Waktu belum ketemu formula yang tepat, saya membombardir Jordy dengan nasihat. Kata Mbak Ela, anak itu cenderung nggak mau dengar, lho kalau kita begini terus. Iyalah, yang ada Jordy makinan ngeyelnya. Soalnya komunikasi yang terjadi hanya satu arah. Kalau saya  flash back, apa yang pernah terjadi antara saya dan Jody, anak hanya akan merasa jadi korban. Nggak punya pilihan, nggak merasa dipahami bentuk emosi apa yang sedang terjadi dalam dirinya.

Tahu sih, ibu juga manusia biasa ya. Normal banget kalau sempat tersulut emosi, pas ngadepin ngeyelnya anak. Biar nggak keluar tanduk, saya selalu ingat kata-kata Mbak Vera Itabiliana Psikolog Anak & Keluarga, bahwa melihat anak itu sebagai makhluk yang masih belajar berperilaku, HARUS TETAP ADA DI KEPALA KITA. Sehingga ketika kita menegur anak, kita mendalaminya sebagai momen belajarnya anak.

Share Article

author

-

Panggil saya Thatha. I’m a mother of my son - Jordy. And the precious one for my spouse. Menjadi ibu dan isteri adalah komitmen terindah dan proses pembelajaran seumur hidup. Menjadi working mom adalah pilihan dan usaha atas asa yang membumbung tinggi. Menjadi jurnalis dan penulis adalah panggilan hati, saat deretan kata menjadi media doa.


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan