Stop Body Shaming Bayi dan Anak!

Beberapa hari lalu Ussy Sulistiawaty mengunggah foto bersama anak sulungnya Nur Amalia Putri. Saya sih nggak melihat apa yang salah di foto itu. Tapi ternyata netizen berpendapat sebaliknya.

anak ussy

Di foto itu, anak Ussy tampak mengenakan pakaian casual layaknya anak usia 13 tahun, kaos, celana jins dan sandal. Rambutnya terurai tanpa di-hairdo dan tampil tanpa makeup.

Beberapa followers Ussy ternyata menganggap penampilan itu terlalu polos dan meminta Ussy “mempermak” anaknya agar lebih enak dilihat seperti Aurel Hermansyah. Keterlaluan banget sih menurut saya.

Tapi memang masih banyak sekali lho orang yang senang sekali body shaming bayi dan anak kecil tanpa sadar ucapannya itu akan menyakiti. Ya menyakiti orangtuanya, ya menyakiti anaknya.

“Kok anak perempuan iteman sih ini nggak kaya kakaknya”

“Keriting banget rambutnya kaya mie goreng”

“Kurus banget, ibunya males masak pasti ya”

Akrab banget dengan kalimat-kalimat seperti itu kan?

Kalimat itu sebetulnya basa-basi tapi bisa jadi luka lho untuk anak dan ibunya. Anak bisa jadi terobsesi ingin kulitnya jadi lebih putih atau ingin rambut lurus karena dianggap lebih cantik untuk society. Padahal tidak semua orang harus cantik dengan standar yang sama kan.

Nah, saya sih udah terlalu kesal ya dengan komentar semacam itu jadi biasanya saya tegur. “Ibu, tidak sopan lho bilang seperti itu”.

Ini juga dilakukan oleh Ussy, Ussy membela dan bilang anaknya tidak perlu dandan apalagi permak karena usianya baru 13 tahun. Tapi terbayangkah jika anak Ussy yang membaca komentar-komentar pedas itu? Pasti ada perasaan tidak enak. Apalagi yang berkomentar dan saling menanggapi itu ada 2ribu lebih komentar.

Jangankan untuk anak kecil, diberikan pada orang dewasa saja kalimat seperti itu tidak pantas, tidak ada artinya, dan hanya akan menyinggung hati yang menerima. Untuk apa sih ya sebetulnya bertanya atau berkomentar kalimat semacam itu? Tidak bisakah basa-basi dengan memuji “cantik/ganteng sekali kamu” atau “bajunya lucu banget!” Jelas tidak akan menyakiti dan tidak akan membuat masalah.

Dengan demikian, ada satu ilmu lagi yang jadi PR orangtua masa kini: ajari anak menolak body shaming. Ajari anak untuk mencintai tubuhnya sendiri dan mengabaikan komentar orang lain. Ajari anak bahwa cantik itu tidak ada standarnya karena semua perempuan pasti cantik karena yang ganteng itu laki-laki.

Jika anak sudah lebih besar, ajari ia untuk berani beropini. Ajari ia untuk berempati, bahwa orang itu terlahir berbeda dan berbeda itu tidak apa-apa.

Jika anak sudah punya media sosial sendiri, sebisa mungkin ajari ia bahwa berkarya lebih penting daripada bentuk tubuh atau foto selfie. Ajari ia untuk mengidolakan orang yang tepat, yang punya positive body image dan hidup sehat.

Jadi ayo kita stop body shaming. Baik untuk orang dewasa maupun bayi dan anak-anak. Sudah siapkah mommies?


Post Comment