Pesan dari Survivor Kanker: “Kanker sangat mungkin untuk disembuhkan!”

Oleh: Rianti Fajar N

Penyakit kanker memang kelihatannya mengerikan banget, apalagi buat anak-anak, tapi ternyata banyak juga loh yang berhasil survive.

Kanker anak memang belum terlalu familiar di kalangan masyarakat kita. Sampai akhirnya ada Denada yang menceritakan soal perjuangan anaknya melawan kanker di Singapura. Buat kita yang awam pasti sedih banget ya ngeliat ada anak yang berjuang melawan penyakit berat kayak kanker. Saya pun begitu, sebagai seorang ibu saya turut merasakan juga yang dirasakan Denada. Anak sakit batuk pilek aja kayaknya sedih banget, apalagi sampai kena kanker.

Tapi kemudian saya ingat kalau sekitar 10 tahun yang lalu saya pernah punya project film dokumenter yang bercerita soal anak-anak penderita kanker. Alhamdulillahnya, narasumber saya yang saat itu masih berjuang melawan kanker tulang, sekarang udah survive. Bahkan dia sekarang bergabung di komunitas Cancer Buster Community (CBC).

Pesan dari Survivor Kanker - Mommies Daily

Kenalan saya itu namanya Nimas Mita. Dulu dia sakit kanker tulang tahun 2006 di usia 12 tahun. Nimas menjalani pengobatan sampai 2007. Selama setahun itu, Nimas melewati proses kemoterapi dan beberapa kali operasi besar. Rambut botak karena efek kemoterapi, kulit menggelap, operasi tulang kaki, pakai tongkat, hingga pasang pen, semuanya sudah pernah dia lewati. Saya ingat betul, ketika saya pertama kali ketemu Nimas di tahun 2008, dia selalu nangis setiap kami ngobrol soal penyakitnya. Tapi sekarang, dia malah jadi semangat banget waktu cerita soal pengalamannya tersebut.

“Tenang aja, aku udah berdamai kok sama masa-masa itu, jadi chill aja, hahaha”, begitu katanya.

Iya, sekarang Nimas malah senang berbagi sama anak-anak yang lagi berjuang melawan kanker. Bersama komunitasnya, CBC, ia rutin mengunjungi pasien kanker anak di RSCM dan RS Kanker Dharmais. Mereka juga sering roadshow ke daerah untuk mengunjungi pasien kanker anak di sana. Tujuannya pingin ngasih semangat dan ngasih pembuktian bahwa anak penderita kanker sangat mungkin disembuhkan.

Mereka juga membuktikan kalau anak-anak yang dulu berjuang melawan kanker, sekarang bisa jadi orang sukses. Di komunitas CBC, ada survivor yang sekarang sudah jadi dokter, arsitek, penulis, dan profesi lainnya. Nimas sendiri bahkan sekarang jadi lulusan gizi Universitas Indonesia dan jadi penulis di salah satu portal kesehatan. Meskipun Nimas cerita kalau ada beberapa temannya sesama survivor kanker yang ditolak kerja di perusahaan karena mereka pernah sakit kanker. Hal itu cukup menggelikan sih, karena pada kenyataannya ketika seorang anak sudah dinyatakan sembuh dari kanker, mereka sama saja kayak anak-anak lainnya. Pun mereka punya kemampuan yang bisa bersaing juga.

Itu juga yang jadi motivasi CBC buat terus mengedukasi masyarakat bahwa survivor kanker ini bisa loh punya kemampuan yang sama, sama anak-anak yang nggak pernah sakit kanker. Bahkan mereka sudah teruji ketangguhannya lewat usaha mereka melawan kanker. Mereka juga berusaha untuk meyakinkan pasien kanker, orangtua pasien, dan keluarganya, bahwa kanker itu nggak melulu berakhir dengan kematian. Banyak kok yang bisa sembuh.

Oh ya satu lagi, Nimas juga bercerita kalau waktu sakit kanker dulu dia nggak suka kalau ada orang yang mengasihani dirinya. Dia lebih senang kalau diperlakukan sama dengan anak-anak lain. Satu catatan juga buat kita untuk menghadapi anak-anak pasien kanker. Selain memberikan pendampingan dari sisi psikologis buat pasien kanker anak dan keluarganya, CBC ini juga turut menggalang dana buat pengobatan dan kegiatan edukasi kanker lainnya. Dari program edukasi yang mereka lakukan itulah, mereka berharap nggak ada lagi orang yang menganggap sebelah mata para survivor kanker dan para pasien kanker juga jadi semakin optimis buat sembuh.


Post Comment