Tak Perlu Paksa Anak Lomba 17-an Demi Belajar Berkompetisi

Pagi ini di suasana 17 Agustusan, saya dapat direct message via Instagram pribadi, seorang ibu bertanya soal anaknya yang tak mau ikut lomba karena takut kalah.

Apakah anak saya tak percaya diri? Kenapa ia tak mau ikut lomba karena takut kalah? Tanya ibu itu.

pendidikan-anak-indonesia

Saya jawab, bagi saya, urusan percaya diri tak semata karena tak mau ikut lomba. Percaya diri tak melulu diukur dari keinginan tampil atau ikut lomba. Apalagi bagi balita. Mau makan sendiri, bisa pakai baju sendiri, berani bilang terima kasih ketika diberi, itu sudah jadi bagian dari percaya diri.

Lagipula kan hanya lomba 17 Agustusan, seharusnya jadi menyenangkan kan, kalau anak malah jadi bete karena dipaksa, untuk apa ikut segala?

Kebetulan kemarin anak saya Xylo ikut ayahnya merayakan 17 Agustus di kantor. Suami ikut lomba balap kerupuk namun kalah. Sampai di rumah Xylo bertanya “kok kalah sih?”

Saya jelaskan kalau lomba itu hanya untuk seru-seruan saja. Seru makan kerupuk sama-sama, yang menang artinya kebetulan lebih cepat. Yang kalah ya karena makannya lebih pelan. Yang menang bukan berarti jagoan dan yang kalah bukan berarti payah.

Lagipula kalau ia tak mau ikut lomba 17-an memangnya kenapa?

Mungkin anak merasa tidak nyaman karena ditonton orang banyak, mungkin anak takut karena belum pernah ikut sebelumnya, mungkin anak ya tidak mau saja karena bukan tipe anak yang semangat ikut kegiatan ini itu. Orang dewasa saja ada yang memang senang berkegiatan dan ada yang tidak. Tidak apa-apa juga kan, kenapa harus dipaksa.

Apalagi untuk lomba-lomba yang diukur dengan selera juri seperti lomba mewarnai atau lomba menggambar. Saya sih sudah pasti tidak akan mengikutkan anak saya ke lomba semacam itu karena hanya akan mematikan kreativitasnya.

Terjadi pada saya yang selalu diikutkan lomba menggambar sejak kecil sampai akhirnya saya yakin kalau saya tidak bakat menggambar hanya karena saya selalu kalah. Baru di usia 28 tahun saya mencoba menggambar lagi dan ternyata saya bisa. Jadi mungkin dari dulu sebetulnya bisa, cuma semangatnya patah karena selalu kalah di lomba.

Ikut lomba dan menang, bukan jadi ukuran anak berprestasi, bukan jadi ukuran anak pandai berkompetisi, bukan pula jadi ukuran anak percaya diri. Karena yang terpenting adalah bagaimana kita mendefinisikan kompetisi, pentingnya latihan dan proses, serta keinginan untuk terus belajar hal yang baru.

Selamat merayakan ulang tahun, Indonesia!


Post Comment