Please, Stop Komentar Menyebalkan Ini pada Ibu Menyusui

Secara fisik, yang namanya ibu menyusui itu pasti lelah karena kurang tidur. Bayangin kalau mereka masih juga harus dengar komentar yang bikin mental down.

Stop-domestic-violence

Sesungguhnya, semua ibu pasti sudah berusaha memberikan yang terbaik selama mereka menjalani proses meng-ASI-hi. Jadi, please jangan lagi memberi komentar, seperti ini:

“Anaknya nangis, sudah haus banget, tuh, kasihan!”

Duh, kalau situ kasian, gimana saya yang ibunya? Tapi bukan berarti saya tega membiarkan anak menangis lama karena kehausan. Saat berada di tempat umum, para busui perlu lari sebentar ke ruang menyusui, kalau kebetulan agak sulit dijangkau, mereka perlu menyiapkan apron untuk memastikan tidak ada bagian tubuh yang terbuka, dan tentunya butuh waktu, itupun hanya beberapa menit. Jadi, wajar kalau anak menangis kencang

“Yah, nangis lagi, mau nenen lagi kali, tuh!”

Yang namanya bayi itu cara berkomunikasinya hanya melalui tangisan. Lapar, nangis. Popok penuh dan nggak nyaman, nangis. Ingin digendong, nangis. Kepanasan, nangis. Kedinginan, nangis. Kesakitan, nangis. Jadi, banyak hal yang bisa menjadi alasannya menangis, nggak cuma kepingin nenen.

“Nggak boleh makan pedas, kasihan bayinya!”

Well, sabar ya, Buibu. Selama menyusui, nggak bakal ada yang kasihan sama kita yang lagi ngidam sambal terasi, balado, rica-rica, semua jenis sambal, deh! Padahal, sih, ASI nggak akan langsung berubah jadi pedas rasanya ketika ibu habis makan sambal.

Yang penting, makannya bijak dan nggak berlebihan. Lagipula, mengonsumsi makanan pedas justru lebih berpengaruh pada kesehatan sang ibu. Bila mengonsumsinya secara berlebihan akan meningkatkan risiko ibu mengalami diare maupun gangguan pencernaan.

“Kok anaknya kecil, cukup nggak tuh ASI-nya? Nggak ditambah susu formula aja?”

Rasanya pingin jawab, “Kalau nggak tahu apa-apa, mending diam saja, deh!” Kalimat seperti ini sama sekali nggak dilandasi dengan alasan yang masuk akal. Hanya karena ukuran tubuh anak yang dilihat itu kecil, dianggap nggak normal, padahal yang komentar juga nggak paham-paham banget, ukuran berat badan yang normal itu seharusnya berapa.

Speaking of susu formula, nampaknya juga masih menjadi bahasan yang sensitif, ya. Keputusan untuk memberikan susu formula pada anak adalah murni hak sang ibu, kembali ke poin awal, kalau memang nggak tau mau komentar apa, mendingan diam saja, deh!

“Kerja pulang malam, nggak kasihan sama anaknya, jadi nggak bisa nenen?”

Kalau saja yang bertanya tahu bagaimana perasaan sang ibu yang galau ketika tiba waktunya kembali bekerja sehabis cuti melahirkan, yang nggak bisa resign semudah itu karena tetap butuh tambahan penghasilan demi kelangsungan hidup keluarga setiap bulannya. Kalau ingin kasihan, kasihanlah pada si ibu dengan cara mendukungnya dalam berjuang mati-matian demi si anak agar tetap mendapatkan ASI yang ia butuhkan.

Memompa ASI pun butuh perjuangan. Nggak semua kantor punya ruang khusus yang nyaman bagi para busui, bagaimana yang kerjanya nggak di kantor? Pulang malam adalah tuntutan pekerjaan, percayalah, nggak ada ibu yang memilih untuk lama-lama berada di luar rumah.

“Menyusui itu memang capek, jangan ngeluh!”

Sekadar sharing momen menyusui yang terasa cukup “seru” dan menantang di media sosial seringkali mengundang anggapan, “Ah, gitu aja curhat!” si ibu dianggap mudah mengeluh. Padahal semua ibu mengalaminya dan semua ibu berhak untuk mengutarakan perasaannya. Nggak sedikit orang yang merasa lega saat bisa curhat, mengungkapkan apa yang ia rasakan. Justru seringkali curhatan tersebut memancing sesama ibu yang sedang atau pernah mengalami hal yang sama, untuk berbagi pengalamannya. Alhasil, si ibu jadimerasa jauh lebih baik karena tahu bahwa dirinya nggak sendirian.

“Digendong terus, nanti bayinya bau tangan, lho!”

Sejauh ini belum ada fakta yang mengatakan bahwa bayi yang terlalu sering digendong akan mengalami yang namanya bau tangan. Lagipula, seorang ibu pasti sudah tahu kapan waktunya untuk menaruh bayi dan melepaskannya dari gendongan. Daripada komentar begini, mendingan tawarkan bantuan untuk gantian menggendong si bayi, kalau memang Anda adalah keluarga dekat.

Atau setidaknya, bantu si ibu melakukan hal lain selama kedua tangannya sedang menggendong. Lebih dari itu, tidak perlu komentar apapun, demi ketenangan si ibu :)

Yuk, hapus budaya nyinyir! Setiap ibu menyusui perlu didukung. Bila memang bisa, bantulah. Sebaliknya, bila memang tidak bisa membantu, diamlah.


Post Comment