Perlukah Balita Ikut Les Tambahan di Luar Sekolah?

Mendengar balita sekolah saja pasti sudah banyak yang kasihan dan mempertanyakan ibunya ya. Apalagi balita yang sudah sekolah dan masih juga harus les. Perlukah?

Perlu atau tidak perlu sebetulnya kembali ke orangtua masing-masing. Yang jelas, dikembalikan pada anaknya. Apakah anaknya jadi lebih bahagia atau justru kelelahan?

Siapkan Anak Kembali ke Rutinitas Sekolah Setelah Libur Panjang

Les atau aktivitas tambahan di luar rumah sudah banyak dibuka untuk anak yang berusia 6 bulan. Kegiatannya beragam dari dance sampai gym. Memasuki usia 4 tahun, selain preschool, makin banyak pilihan les yang bisa anak ikuti seperti berbagai macam olahraga hingga yang memicu adrenalin seperti skateboard atau tae kwon do. Les bahasa juga sudah bisa lho!

(Baca: Multilingual dan Speech Delay, Apa Ada Hubungannya?)

Yang pertama harus diperhatikan adalah les yang diambil tentu harus sesuai minat anak. Anak umur 4 tahun kan sudah bisa ditanya ya, kira-kira mau nggak les basket, misalnya. Atau kenalkan ia pada berbagai macam olahraga dan minta ia pilih salah satu yang ingin ia pelajari.

Jika anak masih di bawah 4 tahun, diskusikan saja dengan suami, apakah memang sudah perlu untuk ikut kegiatan di luar rumah. Dulu saya merasa masih sanggup bermain bersama anak seharian. Namun makin besar anak, makin banyak juga energinya. Makin bingung juga cari kegiatan di rumah yang edukatif dan bisa stimulasi baik sensorik maupun motoriknya.

Kedua, tanyakan dulu pada diri sendiri, untuk apa mendaftarkan anak les di usianya sekarang?

Kalau saya, selain untuk menambah skill anak, juga untuk mencari kegiatan saat weekend. Saat weekdays, Xylo (4 tahun) preschool setiap hari jadi di saat weekend dia sangat mati gaya dan ujung-ujungnya seharian hanya nonton YouTube.

Belum lagi jatah screen time dia hanya di weekend, kalau tidak diberi kegiatan bisa-bisa seharian hanya terus menerus memegang gadget. Akhirnya saya daftarkan les renang 2 jam di Sabtu sore. Lumayan untuk menghabiskan energinya yang berlebih.

(Baca: 21 Ide Aktivitas Seru untuk Quality Time Ibu dan Anak)

Ketiga, pastikan lesnya menyenangkan dan gurunya memang terbiasa menghandle balita. Banyak sekali kok moms tempat les semacam ini, dari olahraga, balet dan berbagai dance, sampai beladiri. Pastikan juga gurunya tau kapasitas anak sehingga tidak memaksa dan membuat anak kelelahan dan tidak enjoy.

Keempat, buat perjanjian dengan anak dan sounding sejak jauh-jauh hari tentang apa yang akan ia hadapi. Perjanjian baru kami setelah Xylo mulai les renang adalah dia tidak dapat screen time kalau tidak mau les. Dia setuju. Karena bayar les tentu tidak murah ya, sedih juga kalau di tengah jalan tiba-tiba mogok les.

Bagaimana dengan les baca tulis hitung (calistung)? Saya pribadi sebetulnya tidak masalah sih karena kan tergantung anak mau masuk SD mana. Kalau ternyata SD di sekitar rumah hanya ada SD negeri dan mewajibkan calistung ya mau tidak mau anak harus bisa kan sebelum masuk SD. Kalau memang SD tujuan tidak mewajibkan calistung, baru mungkin bisa dipikirkan ulang kenapa harus masuk les calistung segala.

Jadi bagaimana mommies? Anaknya sudah les apa saja?


Post Comment