Cara Tanamkan Sportivitas pada Anak

Ditulis oleh: Febria Silaen

Menanamkan sportivitas pada anak kayaknya bagus dilakukan di bulan Agustus ini, deh. Alasannya? Karena ada dua perhelatan besar yang bisa dijadikan contoh, yaitu Asian Games dan Hari Kemerdekaan RI ke 73.

Nah, biasanya dalam sebuah pertandingan akan ada yang menang dan kalah. Tentu saja yang menang akan mendapatkan hadiah. Tapi bagaimana dengan yang kalah?

Menukil kata Wendy Middlemiss, PhD, lektor kepala psikologi pendidikan di University of North Texas, Denton, “Bagi si kecil yang berusia 3 atau 4 tahun, mereka cenderung berpikir jika bermain untuk menang maka mereka harus menang. Sulit bagi mereka memahami kekalahan.”

Tanamkan Sportivitas Apda Anak - Mommies Daily

Lalu bagaimana mengenalkan, mengajarkan, dan menumbuhkan jiwa sportif pada balita? Ternyata kita hanya perlu mempraktikkan 3 cara simpel di bawah ini.

Mulai dari diri sendiri dan berikan contoh pada anak

Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka akan akan melihat dan meniru perilaku yang ditunjukkan orangtuanya. Jadi kalau ingin mengajarkan anak bersikap sportif ya memang harus dimulai dari diri sendiri. Sebab, kalau mau jujur pada diri sendiri sering kali dalam lomba yang diikuti oleh si kecil, justru kita sebagai orangtua yang berlaku tidak sportif. Bahkan melakukan banyak cara supaya menang. Orientasi menang dengan berbagai cara bahkan mengintimidasi anak untuk menjadi pemenang.

Nah, mulai sekarang hindari perilaku yang bisa memberikan pengaruh negatif pada anak. Jangan sampai anak mengejar kemenangan dan menangkap pesan untuk dia selalu jadi juara dengan melakukan berbagai cara. Berikan contoh dengan mengikuti lomba dan tunjukkan usaha maksimal dengan cara yang positif. Dan biarkan anak melihat reaksi kita menyikapi kekalahan.

Atau ketika kita dan suami sedang menonton pertandingan, jangan sekali-kali menghina atau menjelekkan lawan. Perilaku di atas akan menanamkan pada anak bahwa menghina dan menjelekkan orang lain adalah hal yang wajar.

Mengikutsertakan anak pada berbagai lomba dan kompetisi

Bagaimana anak bisa memahami tentang kompetisi kalau tidak pernah mengikutinya? Jadi cara terbaik untuk menanamkan sportivitas adalah dengan mengajak anak mengikuti lomba dan kompetisi. Dengan memiliki pengalaman berkompetisi sesuai kemampuan anak dan bakatnya, maka anak juga belajar untuk disiplin. Patuh pada waktu maupun mengikuti aturan yang dibuat oleh penyelenggara.

Berikan pemahaman tentang konsep menang dan kalah. Jelaskan bahwa setiap ia melakukan permainan yang bersifat kompetisi, akan ada yang mengalami kemenangan dan kekalahan. Anak akan merasakan keduanya secara bergantian, dan tentu hal ini sangatlah wajar –akan terjadi pula dengan teman-temannya-.

Menjauhkan dari fokus untuk mendapatkan hadiah

Ingat, jangan menargetkan anak untuk menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan. Tapi berikan motivasi bahwa hal terpenting adalah prosesnya dan bukan hasilnya. Berikan pemahaman bahwa yang terpenting adalah supaya anak mau melalui proses kompetisi dengan jujur dan menerima apapun hasilnya dengan lapang dada. Penting bagi anak untuk menikmati sebuah proses tanpa harus terbebani harus menang. Sebab itulah peran orangtua sangat penting untuk mendampingi si kecil, tak hanya saat menang tapi juga saat ia kalah.

Tunjukkan penghargaan kita terhadap hasil yang diperoleh anak. Dan memberikan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan dengan maksimal. Dengan menanamkan sportivitas sejak dini dan mereka memahami nilai sportivitas, anak akan mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan kuat menerima tantangan serta tahan banting.

Di satu sisi anak juga mampu menghargai kebaikan dan keberhasilan orang lain serta tidak mudah stres saat mengalami kekalahan. Tetapi mau kembali berjuang dan berusaha lebih baik.

“Sportsmanship for me is when a guy walks off the court and you really can’t tell whether he won or lost, when he carries himself with pride either way.” Jim Courier


Post Comment