Tahapan Emosi Anak Pasca Orangtua Bercerai

Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, yang hingga kini masih terkaget-kaget menghadapi emosi anak pasca perceraian.

Tahapan Emosi Anak Pasca Orangtua Bercerai - Mommies Daily

Dari awal rencana perceraian sudah saya dan mantan suami putuskan, hal pertama yang saya pikirkan adalah efeknya ke anak-anak. Makanya, selama proses perceraian berlangsung, cukup sering saya membawa anak-anak ke psikolog anak ataupun berdiskusi dengan mbak Vera melalui telepon dan WA. Pesan mbak Vera selalu sama, apa pun perjanjian pasca bercerai yang disepakati, tempatkan kepentingan anak di urutan pertama, walaupun itu berkesan nggak adil bagi salah satu pihak orangtua.

Awalnya, saya sempat optimis bahwa anak-anak cukup mampu menghadapi perpisahan orangtuanya, mengingat mereka sendiri sempat berujar bahwa mendingan mama dan ayah berpisah daripada terus menerus berantem. Ternyata, harapan saya nggak semudah kenyataan *__*. Tahapan emosi yang ditunjukkan mereka pun cukup up and down, seperti berikut ini:

1. Sempat menerima dengan baik

Ini adalah masa-masa ketika proses pengadilan sedang berjalan dan anak-anak beberapa kali bertemu dengan psikolog anak. Saat saya mengajak bicara mereka secara baik-baik, tanggapan mereka sangat positif. Mereka memahami bahwa mama dan ayah sudah tidak bisa bersama lagi, sehingga berpisah memang jalan terbaik daripada bertengkar terus. Nah, kalau dibandingkan dengan masa setelahnya yang mereka kemudian marah, bisa dibilang periode ini mereka santai karena perpisahan belum benar-benar mereka alami. Mereka tahu mama sama ayah mau pisah, tapi mama dan ayah masih satu rumah, belum ada perubahan jadwal dan kawan-kawannya.

2. Malu

Ini adalah perasaan pertama yang diucapkan oleh kakak setelah perceraian sudah benar-benar terjadi. Malu dengan teman-teman, malu kalau teman-teman tahu orangtuanya sudah nggak sama-sama lagi, malu bagaimana menjelaskan ke orang lain tentang perpisahan orangtuanya. IMO, mungkin karena masyarakat kita masih menganggap bahwa keluarga bercerai sama artinya dengan keluarga broken home yang akan menghasilkan anak-anak bermasalah. Mereka lupa bahwa banyak kok anak dengan orangtua bercerai justru malah berprestasi.

Saat itu saya hanya bisa bilang, kenapa harus malu kalau orangtua bercerai? Daripada tetap satu rumah namun selalu berantem dan nggak bahagia?

3. Bingung

Ketika saya dan ayahnya pisah rumah, ketika ada pengaturan baru berkaitan dengan jadwal kegiatan mereka, ketika ada pembagian waktu kapan mereka tinggal sama ayah dan kapan mereka tinggal sama mama, barulah mereka bingung. Bingung kenapa harus berubah? Memangnya nggak bisa ya bercerai tapi tetap seperti dulu?

4. Marah

Setelah menjalani perubahan-perubahan, setelah rutinitas mereka ‘terganggu’, barulah timbul rasa marah yang terwujud dalam perilaku-perilaku emosional. Marah kenapa mama dan ayah berpisah, marah karena perpisahan ini membuat hidup mereka berubah, marah karena nggak bisa sama-sama lagi, marah, marah dan marah. Di tahap ini, kesabaran saya sebagai ibu benar- benar teruji banget. Ada kalanya saya nyaris lepas kendali, karena lelah menghadapi perilaku si kakak yang selalu menantang. Sampai akhirnya saya praktikkan apa pesan mbak Vera: Kenyaman anak yang terutama.

Jadi begitu si kakak maunya tinggal sama ayah, meskipun hak asuh di saya, karena dia merasa nyaman di rumah lamanya, di mana sudah banyak teman dan dekat dari sekolah, ya sudah, saya relakan. Dan ini keputusan tepat, karena emosi kakak menjadi lebih tenang.

5. Cemburu

Cemburu dengan teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh. Cemburu melihat teman-temannya yang masih bisa liburan bareng.

6. Menerima

Dalam kasus saya, anak saya yang paling kecil malah yang lebih dulu pada akhirnya menerima kondisi ini. Ya sudah, kalau memang harus berpisah. Toch marah-marah atau nangis juga nggak akan mengembalikan kondisi mama dan ayah menjadi bareng lagi. Itu yang sempat dia katakan, dan membuat saya sangat terharu.

Tahapan Emosi Anak Pasca Orangtua Bercerai - Mommies Daily

Bukan berarti setelah tahap menerima ini maka semua akan lancar-lancar saja, saya yakin sih masih ada kejutan-kejutan lain yang menanti, bisa kejutan menyenangkan atau kejutan yang membuat saya mengusap dada. Namun apa pun itu, saya yakin, pada akhirnya kami akan tetap menjadi keluarga yang solid dan saling menyayangi :).

Baca juga:

5 Alasan Tertinggi Penyebab Perceraian


Post Comment