Breastfeeding Week: Saatnya Kita Belajar Punya Hati Nurani

Menyusui itu harusnya merupakan momen menyenangkan, bukan momen penuh julid atau sedih-sedih! Selamat menyusui dengan cara apa pun untuk semua ibu menyusui di luar sana!

Bulan Agustus sudah kembali hadir, berarti ada dua momen penting yang biasanya kami angkat di bulan ini….

Pertama: Breastfeeding Week yang jatuh pada tanggal 1 – 7 Agustus

Kedua: Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Kali ini saya sedikit ingin menulis tentang fokus kami di Breastfeeding Week, kami nggak mau lagi membahas tentang manfaat ASI (which is saya yakin, informasi dan kesadaran tentang hal ini sudah melimpah ruah), juga nggak mau membahas mengenai masalah-masalah menyusui, karena tahun kemarin kami sudah membahas tuntas tentang hal ini, kecuali ada informasi terbaru, tentu saja kami akan menyampaikannya kepada komunitas tercinta kami. Kali ini, kami ingin membahas mengenai hati nurani pada ibu-ibu yang sedang menyusui.

Awal Juni lalu, saya menjadi narasumber untuk event Samsung di Surabaya dengan topik mengenai tantangan ibu millennials! Ketika ditanya oleh MC mengenai apa saja sih tantangan ibu saat ini, saya menjawab salah satunya adalah: tekanan dari lingkungan sekitar yang memaksa kita untuk menjadi ibu ‘sempurna’. Apalagi tahu sendiri kan, kekejaman ibu jari netizen di social media mengalahkan kejamnya ibu kota bagi para pendatang baru yang nggak punya skill mumpuni.

Yes, tekanan dari kanan kiri akhirnya membuat kita keras terhadap diri sendiri, menyamakan standar kita sebagai ibu dengan standar ibu-ibu lain, padahal belum tentu kondisi kita sama. Dan, salah satu sumber perdebatan, kekisruhan, kejulidan di antara para ibu adalah urusan susu menyusui!

Marilah kita belajar memiliki hati nurani untuk diri sendiri dulu deh. Karena nungguin orang untuk menggunakan hati nuraninya bagi kita belum tentu mudah! Jadi, gunakan saja dulu kompas hati nurani kita untuk diri kita sendiri!

Breastfeeding Week: Saatnya Kita Belajar Punya Hati Nurani - Mommies Daily

- Memposting puluhan botol berisi ASIP di dalam kulkas ditambah caption “Duh, ASIP-nya kebanyakan nih, mau ngasih orang tapi kata mama jangan, jadi aku buang aja deh sebagian.”

Nggak ada yang salah sih dengan captionnya, ya suka-suka aja, namanya juga ASIP milik sendiri. Mau disimpan, mau dibuang, mau dijadikan popsicle yang bebas, tapi mari kita gunakan hati nurani.

Ketika kita ingin membuat ASIP kita, mungkin di luaran sana ada ibu-ibu yang berjuang untuk mendapatkan ASI sebanyak 10ml saja dan tetap tidak berhasil. Lalu melihat ada orang yang ingin membuang ASIP-nya in the name of karena kebanyakan dan nggak boleh donor ASI.

Social media kita memang hak kita sepenuhnya, tapi mungkin kita perlu belajar menggunakan hati nurani ketika ingin posting sesuatu. Apakah kira-kira postingan kita hanya akan membuat seorang ibu di luar sana merasa merasa depresi karena ASIP yang tak kunjung keluar?

- Nggak ngerti deh sama ibu-ibu yang asik-asik ngasih sufor buat anaknya, padahal ASI itu kan makanan terbaik buat bayi. Usaha dulu kek, jangan gampang nyerah main ngasih sufor!

Selamat untuk kalian yang ASI-nya melimpah ruah dan anak bisa tumbuh montok berkat ASI. Tapi nggak semua standar hidup itu bisa disamakan dengan standar hidup milik kalian. Mereka yang ngasih sufor ke anaknya pasti tahulah ASI adalah yang terbaik, namun ketika mereka memilih memberikan sufor ke si kecil, pasti ada alasan – alasan yang kuat yang membuat mereka memutuskan memberikan sufor. Belajar menggunakan hati nurani sebelum sibuk menghakimi keputusan orang lain.

- Apaan sih, menyusui anak sampai anak umur 3 tahun. Lebay banget… pingin banget dianggap sukses menyusui. Padahal kan dua tahun juga cukup.

Laaah, memang kenapa sih bu ibu kalau ada seorang ibu yang mau menyusui anaknya sampai usia 3 tahun? Mbok ya biarin aja selama mereka tidak merugikan kalian! Mungkin ibu itu ingin bonding lebih lama dengan si anak, mungkin anaknya yang susaaaaaaaah minta ampun buat disapih, atau ada kemungkinan-kemungkinan lain, yang balik lagi, hanya ibu itu yang tahu alasannya sesungguhnya. Siapa kita yang asik-asik berjulid ria!

- Dih, foto-foto selfie sambil menyusui, payudara kemana-mana, memamerkan aurat, nggak malu apa kalau dilihat sama laki-laki lain?

Iyalah, kali memang dia mau pamer. Iyalah, mungkin dia nggak tahu malu. Tapi, mungkin juga lho dia memposting foto-foto brefie (breastfeeding selfie) setelah puluhan kali mencoba menyusui langsung namun selalu gagal, dan baru kali ini akhirnya berhasil!

- Minumin anak pakai botol, bingung puting baru tahu lho! Makanya menyusui itu langsung!

W.O.W

Selamat juga untuk kalian yang bisa 24 jam bersama si kecil sehingga nggak perlu repot-repot menyimpan ASIP di dalam botol, menghangatkan, memerah dsb-nya. Masalahnya, nggak ssemua seberuntung Anda, ada sebagian besar dari kami yang harus bekerja, atau mengurus anak yang lain, atau memang sulit melakukan perlekatan. Daripada menghakimi, bagaimana kalau mendoakan agar suatu hari nanti kami bisa menyusui langsung? (Eh, walaupun nggak penting juga sih….)

See, terlalu banyak hal sepele yang kadang kita ributkan, kita pikirkan. Kalau orang lain nggak bisa menggunakan hati nuraninya untuk menjaga sikap, kenapa nggak dimulai dari kita?

Selain belajar untuk berhati-hati dalam menampilkan sesuatu atau mengucapkan sesuatu di ranah social media, kita juga perlu menyaring apa yang kita lihat, follow atau kita jadikan role model. Dan tanya ke diri kita sendiri: Apa iya ini tekanan dari orang lain, atau saya yang menekan diri saya sendiri??? 

Jangan terlalu keras pada diri sendiri, kalau itu hanya membuat kita menjadi pribadi yang bitter terhadap hidup. Menyusui itu harusnya merupakan momen menyenangkan, bukan momen penuh julid atau sedih-sedih!

Selamat menyusui dengan cara apa pun untuk semua ibu menyusui di luar sana!


Post Comment