Caesar Hanya Boleh Dua Kali, Kata Siapa?

Anggapan caesar hanya boleh dilakukan sebanyak dua kali, masih sering bersliweran di masyarakat. Bagaimana fakta yang sebenarnya dari kata pakar?

“Operasi caesar cuma boleh duka kali, lho!”

Kira-kira begitu kalimat yang sering saya dengar dari lingkungan sekitar, ketika tahu saya melahirkan anak pertama dengan jalan ini. Tapi anggapan tersebut perlahan luntur, tatkala sahabat saya melahirkan dengan cara caesar untuk ketiga kalinya. Dan hingga kini keadaannya sehat walafiat.

Caesar Hanya Boleh Dua Kali, Kata Siapa? - Mommies Daily

Nggak mau percaya begitu saja, saya langsung tanya ke ahlinya. Kata dr. Riyan Hari Kurniawan, SpOG dari RS Dr. Cipto Mangunkusumo, RS Pelni dan Klinik SamMarie Wijaya, sebetulnya tidak aturan pasti, operasi caesar boleh dilakukan berapa kali. “Namun, semakin sering dilakukan operasi, maka akan semakin meningkatkan risiko terjadinya komplikasi, seperti cedera usus atau kandung kemih, perlunya dirawat di ICU setelah operasi, lama waktu operasi, lama perawatan setelah operasi, infeksi rahim atau luka operasi, kebutuhan transfusi darah, diperlukannya pengangkatan rahim, posisi ari-ari yang menutupi jalan lahir, pelengketan ari-ari ke dinding rahim, dan lain-lain, jelas dr. Riyan.

Melihat begitu banyak risiko yang kemungkinan akan dihadapi, saya pribadi sih lumayan seram ya, kalau harus melakukan operasi caesar berulang kali. Berikutnya, soal jarak antara satu operasi dengan tindakan operasi berikutnya.

Riyan menjelaskan, untuk jarak minimal, hal ini pun tidak ada aturan baku. Penyembuhan otot rahim setidaknya memerlukan waktu 6 bulan. Jarak antar kehamilan pada pasien yang pernah dilakukan operasi caesar berhubungan dengan risiko robekan rahim. Jarak antar persalinan yang < 18 bulan lebih berisiko terjadinya robekan rahim (jika dilakukan persalinan normal pada pasien yang pernah operasi caesar sebelumnya).

Sebagai pasien yang pernah melalui operasi caesar, ada rasa penasaran, bagaimana sih para dokter menjahit perut yang saya tahu secara anatomi tubuh, terdiri dari beberapa lapis. Sejalan dengan pemaparan dari dr. Riyan, dia bilang “Penjahitan pada operasi sesar dilakukan beberapa lapis dengan menggunakan jenis benang dan teknik penjahitan yang berbeda. Lapisan yang secara berturut-turut dijahit, dari dalam, adalah otot rahim, jaringan pelapis dinding perut bagian dalam (peritoneum), otot perut, jaringan pelapis otot perut (fasia), jaringan bawah kulit, dan jahitan kulit.”

Nah, selain metode jahit pada umumnya. Mommies pernah dengar nggak tentang metode “lem?”. Menurut dr. Riyan, “lem” adalah istilah awam untuk menggambarkan jahitan kulit dengan penempatan benang yang tipis dan persis di bawah kulit luka, sehingga benar-benar tidak tampak benang jahitannya dan akan terlihat seperti di “lem” pada luka perut bekas operasi caesar. Jadi secara teknik, masih menggunakan benang, tapi karena tipis secara kasat mata tidak terlihat.

Mengingat risiko yang dihadapi lumayan tinggi, jika operasi caesar dilakukan terlalu sering. Jadi ya, lebih baik bijak menentukan jarak kelahiran, dan jumlah anak :D


Post Comment