Pengalaman Ibu Dampingi Anak Sakit Kanker Darah

Ditulis oleh: Febria Silaen

Kabar tentang anak Denada, Shakira (5) yang sedang berjuang dengan penyakit Leukimia, atau kanker darah, membuat saya kembali memutar memori dua tahun lalu.

Tahun 2016 saat menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Fatmawati, saya dipertemukan dengan pasien cilik yang didiagnosa sakit kanker darah. Saya pun berkenalan dan akhirnya berteman dengan ibu anak tersebut yang selalu mendampingi saat kemoterapi.

anak-sakit-kanker

Ketika pertama bertemu, saya tidak menduga kalau anak perempuan berusia 6 tahun dengan kulit putih bersih dan rambut hitam sebahu dan poni yang tertata rapi itu sakit kanker darah. Saya hanya melihat dia sedikit pucat dan selalu memakai masker.

(Baca: Leukemia yang Dialami Anak Denada, Gejala Apa yang Patut Mommies Ketahui?)

Setiap kali bertemu juga, saya selalu melihat raut wajah yang letih dari si ibu, tapi senyumnya tidak pernah lepas ketika kami berpapasan. Kami pun bertukar cerita. Bagaimana ia dan keluarga menyikapi kondisi sakit anaknya.

Berikut hal yang bisa dilakukan oleh orangtua ketika mendampingi anak sakit kanker:

Support dari keluarga dan lingkungan jadi modal utama untuk menjalani kenyataan

Menghadapi kenyataan anak terkena kanker darah itu seperti tersengat listrik, begitu kata teman saya. Sedih, hancur dan rasa bersalah mengintimidasi hari-hari, penyesalan seperti tidak ada akhirnya. Menangis dan meratapi kenapa harus anak yang menderita, bisakah tergantikan oleh kita, ibunya. Tapi ini kenyataan yang harus dihadapi. Teman saya pun memaksa diri untuk tidak larut dalam kesedihan.

Dengan bantuan suami, orangtua dan juga sahabat terdekat, ia mengaku bisa menerima. Menceritakan kondisi kesehatan anak kepada keluarga terdekat dan juga tetangga merupakan cara terbaik. Setidaknya, orang di sekitar kita bisa memaklumi kondisi yang ada. Ketika kita mungkin jarang bersosialiasi dan lebih banyak diam.

Menerima bantuan orang lain atau komentar dengan hati terbuka

Stres, sedih, belum lagi tekanan dari kanan kiri yang mengomentari sakit anak memang tidak bisa dimungkiri. Tapi larut dalam kondisi tersebut bisa mambuat ibu depresi. Jadi cara menyikapinya adalah membiarkan orang berbicara dan tidak berusaha untuk melakukan pembenaran.

Fokus saja pada proses penyembuhan anak. Dan ketika orang ingin memberikan bantuan,baik materi atau non materi jangan sungkan karena memang kita membutuhkan bantuan.

Jadi sebaiknya, ketika Moms dalam kondisi gundah gulana, coba minta bantuan orang lain. Istirahat dan tenangkan diri dengan mendengarkan musik atau berjalan kaki menghirup udara segar di pagi hari.

Jujur kepada anak tentang penyakit yang diderita dan perubahan yang akan dialami

Saat mendengar vonis dokter tentang sakit anaknya, teman saya sempat ragu untuk menyampaikan kepada si anak. Butuh waktu untuk bisa menceritakan tentang kenyataan yang sedang mereka hadapi.

Tapi ingat ya Moms, sebaiknya jangan pernah memberikan informasi jika kita sendiri belum siap karena hal ini juga akan mempengaruhi kondisi psikologis dan emosionalnya. Kelola emosi dan hati untuk kuat serta sabar bahwa apa yang dilalui lambat laun bisa diterima. Ingat, Mom harus lebih kuat karena anak membutuhkan kekuatan dari seorang ibu.

(Baca: Kesetiaan Suami yang Teruji Saat Sakit Menghampiri)

Ketika menyampaikan penyakit kepada anak, langkah selanjutnya adalah memberitahu tentang proses pengobatan yang dilalui. Jelaskan dengan kalimat sederhana dan jujur.

Sebab, pada kenyataannya memang anak akan mengalami berbagai efek samping dari kemoterapi yang akan dijalankan nanti. Mulai dari rambut rontok, badan kurus hingga anak akan lebih banyak berada di rumah dan rumah sakit dan waktu bermain mereka akan berkurang.

Mom juga harus memberikan semangat kepada anak, bahwa semua efek samping ini memang harus dirasakan sebagai proses menuju kesembuhan. Bila nanti sudah dinyatakan sembuh, anak bisa kembali beraktivitas dan bermain bersama teman.

Mengelola stres dan emosi

Meski anak yang sakit, orangtua juga perlu mengontrol emosi dan kadar stres yang ada dalam diri mereka sendiri. Coba untuk rileks agar tubuh dan pikiran dapat lebih difokuskan untuk kesembuhan si buah hati. Di saat kondisi diri sendiri sudah tenang dan emosi stabil maka Mom bisa kembali berfokus pada kondisi kesehatan dan kondisi kejiwaan dari si buah hati.

Menjalankan tugas sehari-hari juga bisa membantu Mom dan buah hati untuk bisa melalui situasi yang berat ini.

“Hari-hari memang terasa berat. Tapi berusaha tetap menjalani hari seperti biasa dan memberikan kondisi yang tidak selalu menakutkan kepada anak adalah terapi terbaik bagi kami menjalani kenyataan ini. Tetaplah menikmati hari demi hari.” Demikian pesan teman saya yang juga menjadi penyemangat saya sebagai penyintas kanker.


Post Comment