6 Tips Membesarkan Anak Optimis

Ada yang ingin punya anak optimis? Saya salah satunya karena saya kadang sebal pada orang yang terlalu pesimis. Padahal menjadi pribadi optimis bisa dilatih dan diajarkan sejak kecil.

anak optimis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, optimis adalah orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal. Orang seperti ini biasanya lebih percaya diri dan positif memandang segala masalah.

Bagaimana cara membesarkan anak optimis?

1. Kurangi mengeluh di depan anak

Mengeluh itu tidak apa-apa dan manusiawi, tapi sebisa mungkin jangan lakukan di depan anak. Mengeluhkan hal seperti “duh macet, telat deh jadinya kan” atau “capek banget hari ini ibu di kantor” hanya akan membuat anak memandang masalah secara negatif.

Buat kalimat menjadi lebih positif seperti “besok bangunnya lebih pagi ya” atau “hari ini kerjaan ibu banyak sekali dan selesai lho”. Sulit ya sepertinya ahahaha tapi tidak ada salahnya dicoba!

(Baca: 10 Anak Indonesia Berprestasi Favorit Netizen)

2. Pastikan anak tahu, ia dicintai

Luangkan waktu setiap hari untuk cuddling dan katakan kalau kita sayang sekali padanya. Setiap ingat, saya juga selalu bilang “ibu dan ayah sayang kamu lho”. Anak yang selalu disayang dengan kalimat positif seperti ini bisa jadi lebih optimis di masa depan karena kekhawatirannya berkurang.

3. Beri tanggung jawab sejak kecil

Bila menumpahkan air ya lap sendiri, kalau habis bermain ya bereskan sendiri, bangun tidur ya rapikan kasur sendiri. Memberi anak tanggung jawab juga memberi mereka kesempatan untuk merasa bisa karena dipercaya.

4. Biarkan anak selesaikan masalahnya sendiri

Jadi jika ia memang berbuat salah pada temannya, ia yang harus minta maaf. Jangan kita wakili! Katakan pada anak, berbuat salah itu tidak apa-apa tapi meminta maaf adalah konsekuensi utama. Juga ketika ia berkonflik dengan temannya, jangan langsung mengintervensi, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

(Baca: Ketika Michelle Obama, Victoria Beckham Hingga Kim Kardashian Bicara Tentang Dunia Ibu Bekerja)

5. Validasi kesulitannya

Anak saya sedang belajar menulis dan langsung kecewa ketika ia salah atau terbalik menulis huruf. Biasanya saya langsung bilang, saat belajar, salah itu tidak apa-apa. Saya juga memberi contoh lain, paling gampang adalah menceritakan saat ia bayi dan baru mulai belajar jalan ia jatuh berkali-kali. Tapi sekarang buktinya bisa jalan bahkan lari dan berenang. Ini untuk menunjukkan bahwa jatuh dan salah itu tidak apa-apa, yang terpenting adalah tidak berhenti mencoba.

6. Anggap serius masalah yang dihadapi anak

Kadang kita sering sekali meremehkan masalah anak ya. Padahal masalah yang menurut kita “gitu doang” bisa jadi sangat besar lho untuk anak. Jadi dengarkan mereka dan diskusi untuk mencari solusi. Jangan diremehkan karena tidak ada orang yang suka masalahnya disepelekan kan?


Post Comment