Aturan Zonasi Sekolah: Pro dan Kontra

Ditulis oleh: Febria Silaen

Siapa di sini mommies yang mendukung aturan zonasi sekolah atau sebaliknya merasa dirugikan dengan sistem yang satu ini? Sebelum sibuk nyinyir, pahami deh bahwa sistem ini untuk jangka panjang sebenarnya bagus, lho!

Sepertinya masih tetap hangat membicarakan tentang penerapan sistem zonasi sekolah untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang menuai protes dari kalangan orangtua khususnya para ibu. Sebabnya karena anaknya tidak diterima di sekolah yang dituju bukan karena nilai rendah tetapi karena sistem zonasi yang baru diberlakukan tahun ini.

Bahkan di Tangerang. Banten, kisruh sistem zonasi berlangsung layaknya film laga. Ratusan warga masuk ke Gedung SMP 23 Pinang dan menyandera Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang, Abduh Surahman. Ironinya mereka tidak hanya menyandera Pak Abduh, tetapi juga menyegel gedong sekolah. Para orangtua mengaku melakukan hal ini karena kecewa anaknya tidak diterima di sekolah tersebut.

Baca juga:

Memilih Sekolah untuk Anak yang Tepat

Duh, kok yang sampai seperti itu ya. Sebelum mengomentari dengan gaya netizen zaman now yang lebih banyak nyinyir, ada baiknya kalau kita memahami sistem zonasi sekolah tahun ini.

Menukil dari akun instagram resmi Kemendikbud @kemdikbud.ri, ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang sistem zonasi dalam PPDB 2018.

1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda) wajib menerima calon peserta didik berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah dengan kuota paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

2. Domisili calon peserta didik yang termasuk dalam zonasi sekolah didasarkan pada alamat di kartu keluarga (KK) yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

3. Radius zona terdekat dalam sistem zonasi ditetapkan oleh pemda sesuai dengan kondisi di daerah tersebut dengan memperhatikan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut; dan jumlah ketersediaan daya tampung sekolah.

4. Penetapan radius zona pada sistem zonasi ditentukan oleh pemda dengan melibatkan musyawarah/kelompok kerja kepala sekolah.

5. Sistem zonasi menjadi prioritas utama atau terpenting dalam PPDB jenjang SMP dan SMA. Setelah seleksi zonasi baru kemudian dipertimbangkan hasil seleksi ujian tingkat SD atau hasil ujian nasional SMP untuk tingkat SMA.

Benar, bahwa yang menjadi prioritas utama dalam PPDB adalah zonasi bukan lagi nilai yang bersaing. Pantas saja orangtua yang memiliki anak dengan nilai terbaik tapi tidak diterima di sekolah yang dituju melakukan aksi protes. Sebab, siswa yang kebetulan rumahnya memang sesuai dengan aturan sistem zonasi meski nilainya bukan yang terbaik namun bisa lolos penerimaan.

Kok sepertinya kurang adil ya. Ketika siswa yang sudah bersusah payah belajar untuk mendapatkan nilai terbaik agar lolos di seleksi penerimaan sekolah lanjutan malah kalah bersaing dengan siswa yang nilai pas-pasan. Tunggu dulu, sebelum menghakimi bahwa sistem zonasi ini lebih banyak mudarat daripada maslahatnya, ada bagusnya deh kita membaca opini dari para orangtua di bawah ini:

Aturan Zonasi Sekolah: Pro dan Kontra - Mommies Daily

Frida, ibu dua anak

“Semoga kita bisa open minded yang untuk membantu program pemerintah. Tujuannya tentu ingin membuat semua sekolah merata kualitasnya. Tidak ada lagi sekolah favorit, atau gaji guru yang sama karena adanya sekolah unggulan dengan semua fasilitas yang lengkap. Ya, semoga sistem zonasi ini bisa membawa dampak positif untuk pemerataan pendidikan anak-anak.

Aries Margono, bapak dua anak

“Sistem zonasi dan tidak melihat aspek nilai sebagai prioritas utama memberikan kesan kurang greget buat anak-anak. Mereka jadi kurang berkompetisi untuk mendapatkan sekolah yang diincar.”

Winda Verlita

“Kalau menurut saya sistem zonasi ini bagus banget lho. Karena anak-anak tidak perlu lagi sekolah jauh-jauh dari tempat tinggal. Dan tentu tidak usah terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Kasihan banget kalau mereka sudah bangun sebelum ayam berkokok untuk berangkat sekolah.

Sisi positif lain dari sistem zonasi ini adalah yang tadinya sekolah bukan favorit bisa berubah berisi anak-anak pintar yang ada di wilayah zonasi itu. Jadi memang tujuan jangka panjang sistem zonasi ini aalah untuk menghilangkan sebutan sekolah favorit dan non favorit. Jadi biar semua merata, seluruh sekolah negerinya.”

Andre Satria

“Tujuan dari penerapan sistem zonasi ini sebenarnya baik agar siswa tidak perlu melakukan mobilisasi jauh dari rumahnya. Tapi memang ada catatan yang perlu diperhatikan adalah tentang pemerataan kualitas sekolah dan kurang informasi soal sekolah-sekolah yang berada di lingkungan dekat rumah serta standar kualitasnya alias akreditasi sekolah tersebut.”

Jadi intinya, tujuan jangka panjang dai sistem zonasi ini yang dilihat adalah pemerataan kualitas pendidikan di seluruh sekolah (harapannya begitu). Wajar kalau ada pro kontra, asal jangan berlebihan.

Daripada nyinyir tanpa isi, sebaiknya tugas kita sebagai orangtua adalah memberikan pembelajaran soft skill untuk masa depan anak. Karena tidak selalu nilai bagus itu menjamin kesuksesan anak di masa depan bukan?

Yuk bekali Si Kecil untuk belajar menerima kegagalan, kemandirian dan pantang menyerah dan keahlian untuk modal menghadapi persaingan masa depan.

Baca juga:

Percaya Dulu Pada Anak, atau Anak Mandiri Dulu


Post Comment