Kampung Leles, Kampung Ramah Anak Punya Satgas Pengamanan Gadget

Kampung Leles, Yogyakarta yang memiliki satgas khusus untuk mengontrol penggunaan gadget di kalangan anak-anak membuat saya berani bilang, masyarakatnya sungguh well educated. 

Gadget dan anak. Dua unsur di zaman yang serba modern ini, rasanya sulit untuk dipisahkan. Bukan pemandangan yang aneh, ada anak yang anteng menatap layar gadget-nya. Di restoran, ruang tunggu dokter, di dalam mobil dan lain-lain. Meski gadget juga bisa mendatangkan manfaat, jangan lupa, segala sesuatu yang berlebih tetap tidak baik.


Kampung Leles - Mommies Daily

Image dari Kumparan.com

Baca juga: Lepaskan Anak dari Kecanduan Gadget

Hal inilah yang disikapi bijak oleh warga Kampung Leles RW Condongcatur, Depok, Sleman Yogyakarta. Warga di sana punya aturan untuk penggunaan gadget. Pukul 16.00 – 18.00 semua anak-anak dialihan bermain di luar ruangan. Jadi bukan tanpa paksaan, melainkan anak tetap punya alternatif kegiatan. Akses jalan ditutup untuk umum. Anak punya pilihan permainan. Aturan tak asal dibuat, tapi ada kompensasi yang menyertai. Ada area untuk bermain sepak bola, voli dan lain-lain.

Selain itu, pukul 19.00 – 21.00, anak wajib belajar di dalam rumah, dan didampingi orangtua.  Oh iya, di jam belajar itu, orangtua juga nggak boleh mainan HP. Agar fokus memerhatikan anaknya, children see, children do, kan?

Bikin aturan nggak setengah-setengah

Namanya satuan tegas (satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Tak hanya soal gadget, aturan yang dibuat juga melarang anak yang belum genap 18 tahun dan belum memiliki SIM, mengendarai sepeda motor. PPA juga rutin mengingatkan warga sekitar tentang imunisasi. Dan yang bikin saya makin ingin main ke sana dan kenalan sama para satgas, pendidikan seksual sejak dini juga diberikan. Di beberapa titik tempat anak bermain, terpampang nyata tulisan, bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh orang lain.

Baca juga: Fakta! Kecanduan Gadget Bikin Anak Kurang Empati

Dampaknya nyata!

Sejak diselenggarakan 2015 lalu. Di desa tersebut tidak ada korban kekerasan, tidak ada anak yang merokok, semua anak mendapatkan pendidikan layak di sekolah. Orangtua makin sadar, bahwa anak-anak punya hak yang sangat luas, dan dilindungi oleh undang-undang. Tak sekadar, sekolah layak. Mendapatkan lingkungan bermain yang layak, juga menjadi salah satu hak mereka.

Tim satgas bergerak menyosialisasikan berbagai aturan ini,  melalui berbagai macam media. Mulai dari pengajian, PKK, ronda, di tengah proses gotong royong, saat warga RT & RW berkumpul, sampai sistem jemput bola, dari rumah ke rumah.

Sama sekali tidak ada unsur pemaksaan. Satgas melakukannya dari hati ke hati. Seperti dilansir dari Kumparan, satgas ini terdiri dari 39 unsur masyarakat. Mulai dari tokoh masyarakat, pengurus sampai remaja.

Di antara mommies ada yang sudah pernah ke Kampung Leles? Saya kok tertarik banget ke sana, ya.


Post Comment