Saya Bekerja Bukan Demi Anak

“Demi anak” rasanya jadi alasan umum pasangan menikah untuk bekerja mati-matian. Bagi saya sendiri, saya bekerja bukan demi anak.

curhat-ibu-bekerja

Sejak kecil, saya selalu membayangkan saya menjadi perempuan bekerja. Pergi setiap hari dan bukan hanya di rumah mengerjakan tugas rumah tangga. Mungkin karena ibu saya ibu rumah tangga dan tampak membosankan sekali harus di rumah seharian. Saya bertekad, di masa depan saya harus bekerja agar tidak terjebak di rumah sepanjang hari.

Delapan tahun bekerja ternyata saya suka sekali bekerja. Saya suka pergi ke luar rumah untuk bertemu dengan orang dengan frekuensi yang sama dengan bonus gajian setiap bulan.

Untungnya suami juga nggak pernah mengizinkan saya untuk berhenti kerja. Ia mau saya terus ada di luar rumah agar saya tidak bosan dan akhirnya rewel serta merecoki dia yang sedang di kantor. Meski saya seorang ibu, saya tetap punya kehidupan sendiri. Bagi saya, membesarkan anak bukan berarti menghapus jati diri.

Karena ya, saya bisa saja diam di rumah dan full 100% mengurus anak. Gaji suami cukup kok, gaji kan katanya masalah gaya hidup aja. Tapi apakah saya bahagia kalau diam di rumah? Apakah saya akan happy bertemu anak kalau harus 24 jam bersama dia?

Saya yakin nggak sih.

Dengan ibu yang tidak punya bakat menjadi ibu rumah tangga, anak saya juga memang jadinya lebih sehat di daycare. Di daycare, caregiver-nya sudah melalui berbagai training, gurunya bersertifikasi. Mereka adalah orang-orang profesional yang merawat anak berdasarkan teori, bukan insting keibuan semata.

Judge me all you want. Saya punya kehidupan sendiri, anak saya juga berhak atas kehidupannya sendiri. Kami punya quality time sepuasnya di malam hari dan di akhir pekan. Waktu bersama yang jadi benar-benar berkualitas karena merasa harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kan sudah tidak bertemu seharian?

Jadi ya, saya bukan bekerja demi anak saya. Saya bekerja untuk kebahagiaan saya. Saya bekerja untuk kebebasan finansial sebagai perempuan untuk membeli apapun tanpa seizin suami.

Dan itu tidak apa-apa. Kalau kalian bekerja demi anak, bagus dong! Anak memang harus diperjuangkan dan mendapat fasilitas terbaik yang bisa orangtuanya beri. Kalau kalian tidak bekerja demi anak, ya tidak apa-apa juga. Bekerja, tidak bekerja, berhenti bekerja, apapun alasannya adalah pilihan kalian sendiri.

Yang penting, jadilah ibu yang bahagia agar anak dan keluarga selalu bahagia. :)