Persiapan si Kecil Masuk Daycare

Karena manusia pasti butuh adaptasi, termasuk anak, pada lingkungan terbarunya yang bernama daycare.

Persiapan si Kecil Masuk Daycare - Mommies DailyImage: by Tanaphong Toochinda on Unsplash

Setelah lebaran 2018 ini, saya mantap tak lagi menggunakan jasa pengasuh untuk menjaga anak saya Jordy uang berusia 4 tahun. Lelah dengan berbagai macam drama yang dihadirkan, ke tengah keluarga kecil kami. Entahlah, ART zaman sekarang, kurang gigih menerima masukan, berujung ngambek. Belum lagi urusan domestik, yang mengondisikan mereka mengajukan izin berulang kali untuk pulang kampung halaman. Cukup!

Baca juga: Kapan Pakai Pengasuh, Kapan Nitip Anak ke Daycare?

Risikonya saya harus banting setir mencari alternatif. Siapa yang nantinya akan menjaga Jordy, selama saya dan suami kerja? Daycare adalah jawaban yang paling logis untuk kondisi kami saat ini. Diperkuat, memang sudah lama, kami ingin pisah rumah dari orangtua. Dua momentum besar untuk Jordy. Pindah ke daycare, menghabiskan waktu sekolah dan bermainnya di sana, dan pindah tempat tinggal.

Saya mau bahas dulu, yang bagian daycare, ya, mommies. Bagaimana saya dan suami mencicil memberitahukan perihal lingkungan barunya yang bernama daycare.

1.Sounding, sounding, sounding

Poin ini juga diamini sama Icha, tim kerja saya di Mommies Daily. Pas pindah daycare, dia bilang berkali-kali ke Xylo anaknya, ada daycare baru yang jadi tempat tinggalnya. Saya bilang hal yang sama ke Jordy, jaaauuuuuh sebelum saya mendaptkan daycare yang sreg di hati.

Tujuan saya, Jordy terpapar dengan kata-kata daycare. Kosa kata baru yang butuh penjelasan lebih lanjut. Info seputar daycare yang berulang kali saya sounding ke Jordy adalah:

-Apa itu daycare

-Bisa ngapain aja di sana

-Ada apa saja di sana, buat dia main dan belajar

Menggaris bawahi. Apa yang Jordy lakukan selama di rumah, juga bisa dilakukan di daycare. Bahkan aktivitasnya lebih beragam. Dan punya banyak teman di sana.

2.Perlihatkan visualisasi lingkungan daycare

Pas sudah yakin dengan satu daycare. Saya rajin memperlihatkan foto-foto keadaan di sana. Kebetulan daycare yang saya pilih sudah punya banyak image di Google, dan instagramnya. Agar Jordy punya bayangan sebelum terjun langsung dititipkan di sana

3. Survei langsung

Ini dia momen yang ditunggu-tunggu. Ngajak Jordy, melihat langsung seperti apa lingkungan barunya nanti. Di luar dugaan saya, dia malah nggak mau pulang, hahaha. Banyak mainan, pengurus dan para pengasuhnya friendly. Beberapa DC bisa trial beberapa hari, Dengan begitu, mommies bisa punya waktu lebih leluasa untuk menentukan, anak mommies betah nggak di DC pilihan mommies dan pasangan. Di DC pilihan saya ini nggak ada. Makanya wajib hukumnya buat survei langsung.

4.Katakan bentuk emosi apa yang akan dia alami di sana

“Jordy nanti di sana seru, lho kamu punya banyak teman.”

“Nanti di daycare, mainan Jordy banyak. Bisa main bareng sama teman-teman Jordy.”

“Di sana Jordy bisa A, B, C dan seterusnya.” (bentuk kegiatan spesifik yang mommies tahu, bisa dilakukan di sana.)

Katakan sesuatu yang memancing ia merasakan bentuk emosi tertentu – senang dan excited!

5.Evaluasi

Pas sudah lihat gambar dan survei langsung. Tetap jadikan DC menjadi salah satu topik pembicaraan sehari-hari. Misalnya pas pulang dari DC, saya tanya ke Jordy. “Gimana Jordy, kamu suka kan sama DC-nya?” sesuai harapan Jordy angguk (huuufftth legaaaa, ahahaha.)

Baca juga: Rekomendasi Daycare di Jakarta Pusat dan Selatan

Ada mau berbagi tips lainnya?

 


Post Comment