Kesetiaan Suami yang Teruji Saat Sakit Menghampiri

Ditulis oleh: Febria Silaen

Saya ingin berbagi pengalaman ketika saya sakit kanker dan bagaimana suami sangat sabar menemani dan merawat.

Bicara tentang sebuah hubungan pasti ada unsur kesetiaan di dalamnya. Dan bicara tentang kesetiaan itu lumayan random sih, hahaha. Nggak ada aturan atau standar yang pasti tentang kesetiaan :D. Mau itu usia pernikahan baru seumur jagung atau sebaliknya sudah belasan hingga puluhan tahun, kesetiaan belum tentu otomatis tercipta. Itu harus terus diusahakan.

Ada pasangan yang diterpa ujian ‘ringan’ lantas kesetiaan hilang. Ada pasangan yang mendapat ujian super berat, namun tetap setia sampai akhir. Ujian kesetiaan bisa datang kapan saja dan melalui apa saja. Seperti penyakit, misalnya. Menurut saya itu adalah ujian kesetiaan yang tidak mudah dilalui oleh setiap pasangan. Apalagi kalau pasangan, menderita penyakit yang menakutkan, seperti kanker. Saya dan beberapa teman penyintas kanker merasakan ujian kesetiaan ini dalam biduk rumah tangga kami.

Seperti kisah saya sendiri yang sejak tahun 2016 sempat mengalami pengobatan kemoterapi akibat hamil anggur dengan keganasan. Sebelum kemoterapi, saya sempat menjalani operasi angkat rahim. Dan ini membuat kondisi badan saya lemah. Sulit untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Kemudian, setelah itu menjalani kemoterapi yang juga tidak mudah untuk saya jalani. Seperti yang diketahui banyak orang, kemoterapi bisa membuat pasiennya lemas, dan mengalami berbagai dampak. Misal, mual, diare hingga kondisi tubuh yang drop. Dan di sinilah bukti kesetiaan dari pasangan, yaitu suami sepertinya diuji.

Kesetiaan Suami yang Teruji Saat Sakit Menghampiri - Mommies Daily

Bagaimana tidak, saya yang biasanya lincah dan bisa mengerjakan banyak tugas rumah tangga dan bekerja, kini lebih banyak beristirahat di tempat tidur. Sulit untuk bisa mengerjakan peran sebagai ibu dan istri saat menjalani kemoterapi. Saya pun didera perasaan rendah diri ketika saya merasa nggak mampu menjadi seorang istri dan ibu. Bahkan ada perasaan takut ditinggal oleh pasangan karena merasa tidak percaya diri atas kelemahan fisik yang dialami. Belum lagi ketika, saya harus menerima kenyataan rambut botak, alis hilang dan raut muka yang tidak lagi segar.

Apalagi ada beberapa teman yang sama-sama penyintas kemudian cerita, sejak dirinya divonis kanker dan harus menjalani berbagai pengobatan, suaminya malah dengan ringan hati meninggalkan mereka. Bahkan anaknya pun juga ikut ditinggal. Jerk!

Bersyukur karena saya memiliki suami yang masih setia hingga saat ini bersama saya. Kami berdua merasakan bagaimana jatuh bangunnya kami ketika saya sakit.

Suami, mengambil alih peran saya sebagai istri dan ibu ketika saya harus banyak beristirahat. Suamilah yang mengurus rumah, mengurus anak dan juga mengurus saya. Dia memastikan bahwa saya tetap bisa beristirahat dengan baik tanpa perlu memusingkan apa pun selain penyakit dan pengobatan yang saya jalani.

Selain mengambil alih urusan rumah tangga dan anak, suami juga menjadi teman curhat dan penyemangat. Dia nggak pernah berhenti mengingatkan saya untuk jangan pernah patah semangat, dia juga yang selalu meningkatkan rasa percaya diri saya kembali, sedangkan saya paham situasi ini sendiri juga nggak mudah buat pak suami.

Hal lain yang membuat saya bersyukur memiliki dia sebagai suami saya adalah kerelaannya menemani saya menunggu di ruang tunggu rumah sakit saat berobat. Tanpa melupakan membawa kebutuhan saya seperti makanan dan minuman. Bersyukurnya lagi ternyata suami saya nggak sendirian, kok. Banyak juga suami-suami lain yang turut serta menemani istri-istri yang sakit. Bahkan, saya pernah melihat seorang bapak yang sudah berusia lanjut, tetap setiap mendorong kursi roda yang ditumpangi istirnya dan menemani. Hal-hal seperti ini membuat saya percaya akan artinya cinta dan setia, hehehe.

Semakin terharu begitu saya mendengar salah satu alasan bapak tua itu rela menemani istrinya yang jatuh sakit:

“Saya belum bisa memberikan apa-apa buat istri. Dulu saya sibuk bekerja dan tidak pernah memberikan kejutan yang romantis. Jadi ini yang saya bisa lakukan, menemaninya berobat dan terus berada di sampingnya,” kata bapak itu ketika saya sesekali bertukar cerita.

Terima kasih untuk para suami yang masih setia menemani istri yang menderita kanker. Cinta dan kesetian bukan hal yang perlu dikejar dan diuji setiap waktu. Tapi kondisi saat susah dan sedih, itu akan menjadi bukti dari sebuah ujian kesetiaan dalam rumah tangga.


Post Comment