Libur Panjang dan Ibu Bekerja yang Mulai Mati Gaya

Libur panjang yang kayaknya nggak kelar-kelar ini sudah mulai membuat saya mati gaya, karena bingung mikir mau mengajak anak ke mana lagi?

Yes, saya mulai mati gaya mikirin apa yang bisa dilakukan oleh kedua anak saya besok? Lusa? Seminggu kedepan? Dan seterusnya. Padahal, saya masih beruntung lho karena kantor tempat saya bekerja itu mempunya kebijakan work from home selama bulan puasa setiap hari Rabu dan libur dua minggu untuk Lebaran. Nggak kebayang apa kabarnya para ibu bekerja yang kantornya nggak seroyal kantor saya dalam memberikan libur (puk puk kalian semua :D).

Tapi, tetap saja, memasuki minggu-minggu terakhir libur, kepala tetap pusing, apalagi isi dompet, ahahaha. Masalahnya, pertama, saya paling nggak doyan datang ke destinasi wisata di saat musim liburan karena pengunjungnya pasti membludak, cuma bikin kaki pegel antre dan nggak bisa maksimal nyicipin semua wahana yang ada! Masalah kedua, kalau sering-sering pergi lama-lama kantong bisa kritis juga sih. Kelar liburan kemudian saya cuma makan siang mie instan di kantor kan juga nggak lucu. Masalah ketiga, saya sendiri nggak betah libur kelamaan, apalagi usia kedua anak saya yang sudah memasuki usia di saat mereka menganggap kehadiran mamanya sering-sering di dekat mereka sama artinya dengang gangguan, ahahaha.

Nggak jarang, kerjaan saya sekarang ini adalah nyoretin angka-angka di tanggalan untuk menghitung berapa hari lagi anak-anak kembali sekolah, hehehe. Bukannya nggak senang kalau anak-anak libur, tapi mungkin jangan panjang-panjang amat juga ya, dua minggulah waktu yang pas untuk menjaga keharmonisan hubungan mama dan dua anak laki-laki, menjaga kesehatan dompet dan menjaga kewarasan emosi mama, ahahahah.

Lalu, lalu, lalu, karena masih ada sisa dua minggu lagi menjelang masuk sekolah, apa yang bisa saya lakukan (selain curcol di tulisan ini) demi menghindari drama-drama orangtua vs anak? (FYI, kedua anak saya sendiri juga KANGEN sekolah, yeaaaaaaah, mama bahagia).

Libur Panjang dan Ibu Bekerja yang Mulai Mati Gaya - Mommies Daily

1. Ajak menginap di hotel yang dekat-dekat. Ini sangat-sangat membantu terlebih dengan situasi seperti saya yang sedang maidless karena ART memberikan janji palsu. Bagi kedua anak saya, timbang pindah tidur dan bisa icip-icip beragam makanan ketika breakfast aja udah cukup membuat mereka bahagia kok, hihihi. Tapi ya itu, bujet harus disesuaikan. Saya Alhamdulillah bisa ‘nodong’ ayahnya untuk ikut urunan.

2. Pilih destinasi wisata mulai dari yang paling butuh biaya besar sampai yang paling murah alias gratis. Setelah gajian akhir bulan Juni kemarin, saya segera membuat list, destinasi wisata di Jabodetabek yang disukai anak-anak, kemudian membuat urutan, mana yang tiketnya paling mahal hingga yang bisa gratis. Makin ke tengah bulan kan keuangan menipis tuh, jadi di saat keuangan menipis, destinasi wisata sudah beralih ke tempat-tempa yang tiketnya murah meriah. Biasanya macam museum atau perpustakaan.

3. Menginap di rumah saudara. Mulai dari rumah eyangnya, hingga om atau tantenya. Di rumah eyangnya, anak-anak saya bisa main bareng sama adik sepupunya. Di rumah om-nya, kedua anak saya bisa main-main sama anjing peliharaan si om. Di rumah tantenya, kedua anak saya bisa bantu-bantu kerja di usaha bengkel tantenya. Rutinitas yang berbeda membuat mereka nggak lagi merasa bosan. Murah meriah, aman da nada nilai edukasi (saya bangga pada diri sendiri, ahahaha).

4. Ajak anak beres-beres rumah. Berhubung ART juga belum kunjung datang, saya mengajak anak-anak beres-beres rumah, mulai dari dua tempat yang mereka suka, kamar mereka sendiri dan kamar main. Di dua tempat ini anak-anak bisa tiba-tiba menemukan ‘harta terpendam’ alias barang-barang mereka yang udah lama hilang. Makanya mereka doyan. Baru pelan-pelan beralih ke ruangan-ruangan lain yang kurang menyenangkan.

5. Ajak ke kantor. Untung anak-anak saya punya banyak CS di kantor saya, hehehe. Mulai dari om Bani, om Aga, om Youma, om Heri, tante Esti, tante Dende hingga tante Fihan, ahahaha. Jadi mengajak anak-anak ke kantor bisa jadi solusi banget untuk masalah saya yang satu ini. Kantor saya berasa rumah kedua bagi kedua anak saya :D.

6. Gadget sang penyelamat. Inilah saat di mana saya membiarkan anak-anak sedikit bebas memegang gadget. Tapi tetap nggak bebas-bebas amat sih. Secara jumlah jam harian lebih banyak memang dibanding ketika mereka nggak libur panjang, tapi tetap saya breakdown. Misal, pagi 1,5 jam, siang 1.5 jam dan malam 1,5 jam. Selama saya masih bisa tracking apa yang mereka tonton atau lihat, ya sudahlah, toch ini hanya musim liburan aja (pembelaan diri seorang ibu yang sudah nggak ngerti mau ngapain lagi).

Nah, mari kita saling menguatkan ya mommies dalam memasuki masa-masa akhir liburan panjang kali ini. Semoga kita diberi kekuatan dan kesabaran luar biasa :D.


Post Comment