Manfaat Menulis untuk Anak dan Keluarga

Mari giatkan lagi aktivitas menulis bersama anak. Manfaatnya tidak hanya untuk tumbuh kembangnya, lho. Tapi juga bisa buat bonding anak dan orangtua.

Di antara mommies, masih ada nggak yang masih rajin menulis? Maksud saya, menulis konvensional di atas kertas, ya. Kalau saya masih. To di list harian, saya tuangkan di agenda. Walau ada laptop dan HP, menulis, dan nantinya mencoret daftar kerjaan kalau sudah selesai punya kepuasaan tersendiri, lho. Nggak percaya, coba praktikkan, deh.

manfaat menulis - mommies DailyImage: by Cathryn Lavery on Unsplash

Sayangnya generasi muda sekarang, apa-apanya sudah tergantung sama gadget (yang emang nggak semua, sih, ya). Padahal dulu saya ingat banget, SD ada mata pelajaran, “Menulis Indah”. Menulis di buku bergaris dan bersambung. Sekarang apa masih ada pelajaran itu, mommies? Soalnya bisa melatih kesabaran tuh. Dan mengasah motorik halus anak. Oh iya, pada masa SMP saya juga masih menulis diary.

Makanya waktu saya datang ke acara Sinar Dunia (SiDU), yang mengambil judul “Membangun Generasi Cerdas Indonesia Melaui Kebiasaan Menulis,” Mei lalu di Jakarta, saya senang! Tema yang jarang terjadi, di era yang serba canggih. Tinggal tekan keypad di komputer, semua huruf dan angka, sudah keluar.

Rasa senang saya sementara waktu bercampur sedih. Setelah mendengar fakta yang dibeberkan Nurman Siagian, Pakar Edukasi Anak dari Wahana Visi Indonesia. Beliau menyoroti kemampuan anak-anak SMA dan kuliah, untuk menulis kalimat dengan kaedah Bahasa Indonesia yang benar, dan menulis analitis masih sangat rendah. Riset Kemendikbud 2016 lalu menunjukkan. Rata-rata Nasional 73%, angka tersebut kata Nurman masih kurang.

Tentu, sebagai orangtua kita nggak bisa berpangku tangan sama Pemerintah 100% dong. Kalau kerjaannya hanya mengeluh, kapan majunya negera ini, lewat anak-anak yang dititipkan ke kita? Mulai saja dari dalam rumah. Karena kata Mbak Nurman lagi, kebiasaan menulis tangan korelasinya sangat signifikan dengan intelejensi anak. Karena saat anak mencoba menulis, artinya ia sedang mengonstruksi apa yang ada dalam pikirannya. Sebelum hasilnya dibaca orang lain.

Sebaiknya memang dimulai dari usia dini, jangan hanya disadari saat usia dewasa. Ditemukan fakta di beberapa tempat. Keterangan dari Mbak Nurman. Usia SD, masih ada anak yang pegang pensil saja susah. Ini nih, akibat penggunaan gadget yang tidak imbang dengan kegiatan lainnya.

Meski di antara mommies, saya yakin banyak yang sibuk. Yuk sempatkan ajak anak belajar menulis. Sudah banyak kan media yang seru dan menarik perhatian anak. Manfaat menulis yang saya catat dari Nurman, antara lain menguasai huruf dan fonemik, memperkaya kosa kata, dan meningkatkan anak menangkap pelajaran.

Ada lagi jalan unik menjadikan menulis, sebagai alat bonding antara anak dan orangtua. Adalah Melly Kiong, Praktisi Mindful Parenting, juga membagi kiatnya. Lewat tulisan, menurut Melly ia jadikan komunikasi non verbal sejak anaknya TK, walau belum bisa membaca.

Misalnya urusan makan siang, yang kadang jadi tantangan tersendiri buat para ibu. Di kotak makan siang anaknya. Ia selalu menyelipkan tulisan di kertas kecil, setiap hari, dengan tulisan yang berbeda. Waktu makan siang, selalu jadi momen yang ditunggu anaknya di sekolah, karena excited mau melihat. Apa lagi tulisan dari ibunya. Mommies sudah kehabisan ide? Ajak pak suami dong, buat menulis :)

Nah, dengan begitu. Manfaat menulis bisa dirasakan seluruh keluarga, kan?


Post Comment