Saya Rindu Kembali Bekerja Setelah Cuti Melahirkan

Berbeda dengan ibu-ibu lain yang katanya galau saat harus kembali bekerja setelah cuti melahirkan, saya malah nggak sabar bekerja kembali. Ada yang sama seperti saya?

“Huhuhu, kok nggak tega ya ninggalin si kecil yang baru umur 2 bulan ini ke kantor?”

“Duh, ASI-nya cukup nggak ya kalau gue kembali bekerja?”

“Moga-moga baby sitter-nya bisa dipercaya…”

Itu adalah beberapa penyebab keresahan hati para ibu yang harus kembali bekerja setelah masa cuti melahirkannya kelar, kalau berdasarkan cerita teman-teman saya, bukan based on pengalaman saya pribadi, hahahaha.

Soalnya seingat saya, dulu itu kekhawatiran saya terbesar ‘hanyalah’ apakah ASI cukup atau nggak. Kalau urusan tega atau nggak, saya tega-tega aja karena sejujurnya saya rindu kembali ke kantor. Saya rindu berkumpul bersama teman-teman kantor, rindu dengan deadline pekerjaan, rindu dengan minum-minum cantik sepulang bekerja. Saya rindu semua itu!

Bukannya saya nggak sayang anak-anak saya yang baru lahir, bukannya saya senang dan sengaja membebaskan diri dari tugas sebagai ibu baru, tapi somehow, saya merasa dengan kembali bekerja setelah 3 bulan mengurus bayi baru yang jam tidurnya asal-asalan, yang minum ASI-nya super kuat, yang demanding banget menuntut waktu saya (ya iyalah, namanya bayi kan masih bergantung sama kita, ya, ibunya :D), yang membuat saya lupa akan artinya pemakaian skincare dan mandi sehari dua kali, membuat saya seperti menemukan kembali gairah hidup, hehehe.

Tahu kan kalian, gairah hidup ketika akhirnya dunia saya tak hanya seputaran saya, bayi, ASI, dokter anak dan imunisasi.

Saya Rindu Kembali Bekerja Setelah Cuti Melahirkan - Mommies Daily

Lalu, apakah sikap saya ini berarti saya bukan ibu yang baik? Ya nggak laaaaah (kemudian nge-gas :D). Karena toch, walaupun saya kembali bekerja dan kembali sibuk, saya tetap memastikan anak-anak saya yang baru lahir itu terjaga dan terlindungi di tangan orang-orang yang saya percaya.

Di tengah kelegaan saya kembali menginjakkan kaki ke kantor tercinta (pada masa itu), saya tetap melakukan beberapa hal ini agar hidup saya ketika kembali bekerja setelah cuti melahirkan tidak terlalu dipenuhi drama sekian babak:

1. Manage expectation

Untuk segala hal! Saya sudah bilang kan, kekhawatiran terbesar saya adalah stok ASIP cukup atau tidak? Jadi, sejak si kecil berusia satu bulan, saya sudah memompa ASI dengan harapan memasuki waktu kembali bekerja stok ASIP-nya mencukupi. Namun, saya juga mengingatkan diri sendiri sih, kalau memang ternyata nggak cukup, ya jangan menjadi beban. Pompa sebisa mungkin, atur jadwal kerja sefleksibel mungkin, kalau sudah berusaha sekerasnya tapi realitas berbanding terbalik? Kemudian si kecil terpaksa diberi sufor, ya sudah jangan stress.

Ini berlaku juga untuk hal-hal lain. Ekspektasi terhadap baby sitter, ART atau keluarga yang dimintakan bantuan menjaga si kecil. Prinsip saya, selama faktor keselamatan dan kesehatan anak tidak terabaikan, ya sudahlah. Banyak maklum aja.

Baca juga:

Manajemen ASIP Untuk Ibu Bekerja

2. Mengajak si bayi ke kantor

Ini salah satu cara saya untuk mengenalkan dunia ibunya ke anak-anak saya. Biasanya sebelum hari kembali bekerja yang sah datang, saya suka membawa anak-anak saya bermain ke kantor. Mengenalkan mereka ke teman-teman saya, mengajak mereka mampir dari lantai satu hingga lantai empat (dulu kantor saya ada 4 lantai). Begitu juga ketika saya sudah official kembali bekerja, ada masanya saya mengajak anak bayi ikut ke kantor. Umumnya ketika si kecil lagi bad mood ditnggal mamanya atau saya lagi kangen si kecil, mengajak ke kantor bisa menjadi solusi yang mudah.

3. Morning routine trial

Seminggu sebelum kembali bekerja, saya suka melakukan uji coba atau simulasi kegiatan pagi hari. Dimulai dari jam bangun pagi, kegiatan pagi yang harus saya lakukan, briefing ART atau baby sitter hingga melakukan adegan perpisahan pada si kecil, ahahaha. Termasuk di dalamnya kalau memang urusan memandikan harus saya serahkan ke baby sitter, ya saya harus mematuhinya, walaupun saat itu saya masih standby di rumah. At least ini membuat semua pihak menjadi terbiasa dengan rutinitas.

4. Mencari dukungan dari sesama working mom

Paling senang karena waktu saya hamil dan melahirkan anak pertama, itu berbarengan dengan teman satu kantor, hanya beda satu minggu. Jadi kami bisa berbagi cerita tentang informasi-informasi seputar bayi baru. Memang menyenangkan mempunyai dukungan, kan :D.

Bagi saya pribadi, ketika saya nggak galau saat harus kembali bekerja setelah cuti melahirkan, ketika saya bisa santai tanpa merasa bersalah, ya itulah saya. Don’t apologize for raising a person and doing a paid job.


Post Comment