Surat untuk Suami Tersayang, Dari Ibu Bekerja

dear-suami

Dear suami,

Terima kasih lho, udah ngizinin aku jadi ibu bekerja. Meski technically kalau kamu nggak ngizinin, aku nggak akan nikah sama kamu sejak awal hahaha. Kamu tahu sendiri sejak kita belum nikah, aku bukan tipe perempuan yang bisa seharian di rumah dan hanya ketemu anak.

Terima kasih karena kamu ngerti bahwa kerja itu jadi bagian hidup aku. Kamu ngerti banget kalau kerja itu jadi liburan singkat dan me time setiap hari biar aku tetep waras menghadapi hidup yang penuh tagihan, dan anak-anak yang selalu butuh perhatian.

Karena kita berdua kerja, ya tentu urusan rumah tangga juga kita handle sama-sama. Berbagi tugas rumah tangga jadi salah satu hal yang aku banggakan lho dari kita. Kamu nggak pernah ragu untuk cuci piring, cuci baju, atau beres-beres rumah.

Aku tau banget banyak suami di luar sana yang rikuh untuk ngerjain tugas rumah tangga. Tapi ya nggak apa-apa juga sih, mereka rata-rata bayar asisten untuk ngerjain semuanya. Fair enough. Poinnya kan berbagi tugas ya. Bisa dikerjakan sama-sama, atau delegasi ke asisten rumah tangga.

Aku juga seneng lho karena kamu mengapresiasi aku bukan cuma sebagai istri dan ibu, tapi juga sebagai perempuan bekerja. Kamu selalu sabar dengerin cerita aku seputar kehebohan yang terjadi di kantor. Kamu juga ikut sumbang saran solusi kalau aku lagi punya masalah urusan kerjaan.

Kamu mungkin nggak tahu ya, dengan aku kerja, aku jadi ngerasa nggak kalah dari kamu. Kamu punya segudang cerita tentang bos dan tim, aku juga punya. Kita nggak akan pernah kehabisan cerita.

Aku juga seneng banget karena kamu nggak pernah ngeluh meski kadang aku harus kerja sampai malam atau bahkan menginap. Kamu bisa handle semua urusan rumah dan anak dan nggak pernah bikin aku khawatir.

Ya aku khawatir sih, khawatir anak nangis nyari aku terus kamu nggak bisa nenangin dia. Tapi yang sering terjadi adalah, anak-anak “lupa” sama aku kan? Mereka nanya aku tapi mungkin main sama kamu terlalu seru, aku pergi satu dua malam sih nggak terlalu ngaruh ya hahahaha.

Ada lho temenku yang harus pendidikan di luar kota selama sebulan. Suaminya support banget karena pendidikan ini jadi lompatan buat karier istrinya. Dia memastikan dan meyakinkan temen aku biar nggak khawatir dan galau meski harus keluar rumah sebulan.

Tapi nih ya, suaminya malah ngomel tiap istrinya mau video call anak-anak karena kalau istrinya nggak video call, anak-anak kalem dan nggak rewel. Begitu muka istri muncul di layar, anak-anak jadi malah rewel ahahahaha. Ada-ada aja yaaa.

Jadi, sekali lagi, terima kasih untuk semuanya. Untuk penerimaan kamu pada kesukaan aku bekerja, untuk kesepakatan kita tentang tugas rumah tangga, untuk apresiasi dan tempat aku untuk cerita apa aja, untuk support kamu yang mendukung karier aku.

Aku sayang kamu.

Love,
Istrimu yang senang kerja biar bisa beli skin care pakai uang sendiri. :)


Post Comment