Ayah Adalah Cinta Pertama Saya

Ditulis oleh: Febria Silaen

Cinta pertama seorang anak perempuan adalah sosok ayahnya

Bagi saya kalimat di atas ada benarnya. Meski saya bukan tergolong anak perempuan yang memiliki kedekatan erat dengan ayah semasa kecil, tapi ayah yang saya sapa bapak ini adalah cinta pertama dan pacar pertama.

Sesungguhnya, saya bisa dibilang bukan tipe anak perempuan yang memiliki banyak waktu bersama bapak. Bukan juga tipe anak perempuan yang bisa bermanja-manja dengan bapak. Sebab, saat usia di bawah lima tahun, sepertinya bapak dan ibu saya dalam kondisi tidak harmonis rumah tangganya.

Tidak banyak yang bisa saya ingat tentang kenangan masa kecil yang indah bersama bapak. Karena, sampai usia tujuh tahun saya bersama ibu. Tapi setelah melewati segala usaha dan perjuangan bapak, akhirnya saya bisa tinggal dengan beliau dan ibu tiri saya.

Ketika itu yang saya ingat adalah sosok bapak yang tidak banyak bicara. Benar-benar minim suara. Beliau menghabiskan waktu mengajar di sebuah sekolah. Tapi meski minim bicara ada banyak hal baik semasa kecil yang tidak pernah bisa saya lupakan.

dad-first-love

Meski bapak pernah gagal dalam rumah tangga, tetapi bagi saya beliau adalah cinta pertama saya dan pacar pertama. Karena alasan berikut ini :

Bapak tidak pernah lupa membawakan buah tangan setelah bekerja. Buah tangan bukan mainan mahal. Maklum saja, beliau guru yang hanya memiliki kendaraan vespa dengan tiga anak. Saya dan dua adik tiri saya.

Bapak membawakan buah tangan berupa papan putih untuk bisa saya buat rumah-rumahan. Beliau tahu hobi saya adalah main rumah-rumahan.

Bapak juga tidak pernah lupa hari ulang tahun saya dan adik. Kebetulan kami ulang tahun di bulan yang sama dan tanggal yang sama. Meski ulang tahun sama, tapi bapak membelikan dua kue ulang tahun.

Bapak selalu mengajak keluarganya untuk belanja bulanan dengan mengendarai vespa. Bayangkan, lima orang di vespa dengan belanjaan. Tapi kami menikmatinya. Beliau tidak melupakan kami anak-anak yang membutuhkan hiburan kecil, mandi bola setelah belanja bulanan.

Bapak yang mengajarkan saya naik sepeda roda dua untuk pertama kalinya. Meski sibuk dan terlihat dingin sama keluarga, tapi saya masih diberikan waktu sore hari untuk berlatih naik sepeda roda dua.

Bapak juga tidak pernah marah dengan mulut yang menyerocos. Dia lebih banyak diam kalau marah. Dan itu yang saya pahami untuk bisa memperbaiki diri.

Bapak orang yang jarang memuji bahkan minim pujian. Meski kami, anak-anak memiliki prestasi baik di sekolah, beliau tidak pernah memberikan apresiasi terhadap nilai kami. Tapi kami selalu ditraktir di restoran cepat saji dekat sekolah. Jadi setelah bagi rapor kami pasti makan bersama. Dan entah mengapa itu menjadi motivasi saya untuk bisa mendapatkan nilai lebih baik supaya diajak makan ayam renyah lagi.

Bapak tidak pernah memaksa saya mengikuti keinginannya. Saya bebas memilih jurusan kuliah, memilih jenis pekerjaan yang sangat berbeda dengan keluarga. Hanya saya yang menjadi penulis di keluarga besar di tengah semua saudara adalah orang-orang dibidang akutansi, guru, medis dan teknik.

Bapak juga tidak pernah mengomentari pilihan pacar bahkan suami pilihan saya. Meski Bapak orang Batak, saya memilih suami orang Jawa Timur. Pesan beliau hanya saya wajib mencari lelaki yang bertanggung jawab dan bisa melindungi.

Bapak adalah perawat terbaik. Setiap kali kami sakit, beliau siap berjaga 24 jam menemani kami, memberikan minum dan menggantikan baju.

Bahkan, saat saya melahiran delapan tahun lalu, beliau juga ikut menemani. Dan ketika saya harus melalui operasi angkat rahim dua tahun lalu, bapak meminta agar beliau yang menjaga. Setiap saya mengerang sakit, beliau tanpa banyak kata hanya mengusap kening saya.

Bapak lebih banyak diam ketika hatinya gundah gulana. Bahkan ketika saya harus menjalani kemoterapi dan pengobatan selama dua tahun pun beliau tidak banyak bicara. Tapi beliau berusaha hadir dan menemani saya.

Bapak adalah koki terburuk karena masak telur dadar isi cabe rawit selalu gosong. Tapi saya suka merindukan telur buatannya.
Dan itu semua yang membuat saya mengatakan Bapak adalah cinta pertama saya. Karena beliau mempunyai cara tersendiri untuk menyayangi anak perempuannya. Dan saya jatuh cinta dengan caranya.

Saya pun berharap, suami saya akan menjadi pacar pertama putri saya dan suami saya adalah kesatria baginya.

“A Father is always making his baby into a little women. And where she is a women he turns her back again”. Endid Bagnold


Post Comment