Usia Pernikahan Bukan Jaminan Rumah Tangga Langgeng

Ditulis oleh: Febria Silaen

Entah kenapa saat menikmati foto-foto pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle, tiba-tiba terbersit pertanyaan dalam hati “Langgeng, kah, pernikahan mereka ini?”

Hahahaha, kesannya saya iri ya atas pernikahan mereka?! Bukan kok, bukan iri, karena sejujurnya, walaupun butiran debu ini nggak kenal sama mereka, tapi melihat perhelatan royal wedding Pangeran Harry dan Meghan Markle saya ikut bahagia. Tidak hanya tentang acara demi acara yang ramai diberitakan, tetapi juga melihat aura kebahagian yang terpancar dari wajah kedua pasangan.

Tapi, kenapa pertanyaan itu muncul? Mungkin karena di mata saya kayaknya kok pernikahan mereka seperti impian gitu, lho! Apalagi belum lama ini saya juga mengikuti berita infotainment tentang kabar cerainya komedian Sule dan Lina, istrinya.

Pernikahan yang sudah 20 tahun terbina itu kabarnya pupus. Saya jadi ingat juga beberapa kalangan selebriti yang usia pernikahan lebih dari 20 tahun, seperti Lidya Kandou- Jamal Mirdad yang membuat saya kaget luar biasa. Ada juga pasangan Camelia Malik-Harry Capri, Abdee Negara “Slank” dan Anita Dewi Farida malah memilih pisah alias cerai.

Padahal usia pernikahan mereka ada yang sudah 25 tahun. Ah, ternyata, artikel yang pernah saya baca tentang usia rawan pernikahan yang perlu diwaspadai yaitu usia 3,5 dan 7 itu hanya teori.

Buktinya, usia pernikahan sudah tidak bisa menjadi patokan bagi sepasang suami istri untuk menjadi semakin kokoh dalam menjalani biduk rumah tangga. Menjalani bahtera pernikahan hingga berpuluh tahun lamanya ternyata tak menjamin hubungan tersebut bakal bertahan hingga maut memisahkan.

Meski ada studi dari AS menemukan bahwa pasangan yang telah 20 tahun bersama dilaporkan lebih bahagia daripada yang baru menikah. Studi ini dilakukan Pennsylvania State University dan Brigham Young University. Tapi itu juga tidak bisa menjadi patokan, setelah menikah lebih dari 10 tahun atau bahkan 20 tahun lebih maka pernikahan itu bebas dari perceraian. Dan kalau diperhatikan, alasan menggugat cerai atau akhirnya memutuskan pisah adalah karena merasa tidak cocok atau kehadiran orang ketiga dalam biduk rumah tangga.

Menurut Ajeng Raviando, Psi dari Teman Hati Konseling, perceraian adalah keputusan yang besar dan bukan sulit. Apalagi jika sudah memiliki anak. Namun, bukan artinya juga ketika kondisi rumah tangga sudah tidak lagi harmonis, kita harus pura-pura untuk tetap harmonis. Sebab, itu malah membahayakan di mana kehidupan rumah tangga yang terlihat rukun ternyata keropos dan rapuh. Usaha untuk menutupi konflik dalam rumah tangga lambat laut tidak akan terselesaikan dan bercerai menjadi jalan keluar bagi masing-masing pasangan.

Usia Pernikahan Bukan Jaminan Rumah Tangga Langgeng - Mommies Daily

Jadi apa saja sih yang menjadi pemicu perceraian meski usia pernikahan sudah di atas 20 tahun?

Kurangnya Komunikasi

Jika pasangan suami istri sudah tidak memiliki waktu berkomunikasi yang baik karena kesibukan masing-masing bisa menjadi pemicu awal ketidakharmonisan rumah tangga. Pasangan suami istri memang harus memiliki waktu untuk sharing. Tapi jika sharing atau ngobrol tidak lagi sering dilakukan atau ada pihak yang merasa tidak lagi nyaman saat berkomunikasi dengan pasangannya maka segeralah menyadari dan memperbaiki hubungan.

Memiliki Harapan yang Tidak Realistis

Menurut Ajeng, Psi, setiap manusia memiliki harapan yang cukup tinggi ketika menikah. Salah satunya mengharapkan adanya perubahan yang baik bukan sebaliknya. Usia pernikahan tidak menjadi jaminan bahwa pasangan akan mengerti dan berubah sesuai yang diinginkan. Seringkali yang terjadi perceraian karena masing-masing pasangan mengharapkan perubahan dari pasangannya. Padahal perilaku yang dituntut untuk berubah belum tentu menjadi hal yang mengganggu rumah tangga. Jadi, jangan terlalu bermimpi dan realistis saja.

“Power” Dalam Perkawinan

Dalam pernikahan adanya pihak yang dominan atau memiliki “power” lebih dibandingkan pasangannya ternyata bisa menjadi pemicu konflik yang akan berakhir pada perceraian.

Hilangnya Rasa Cinta

Pasangan yang sudah menikah berapa tahun pun harus tetap menjaga cinta. Dikatakan Ajeng, Psi, cinta itu proses yang terus menerus berlangsung hingga akhir hayat. Membiasakan untuk tetap mengungkapkan kata sayang dan memberikan perhatian kepada pasangan bisa dilakukan terus menurus dan jangan bosan.

Selingkuh

Memang sulit untuk bertoleransi dengan perselingkuhan. Namun, kadangkala pasangan suami istri perlu saling memaafkan dan menyadari kekurangan masing-masing yang bisa menjadi penyebab atau alasan kenapa ada pihak yang berselingkuh.

Hubungan Seks

Memiliki hubungan seks yang sehat dengan pasangan ternyata menjadi penguat pernikahan. Seks dipercaya dapat memperkuat bonding suami istri. Upayakan untuk memiliki waktu khusus dengan pasangan untuk bermesraan.

Hmm, ternyata semakin bertambah usia pernikahan harus lebih peka dengan penyebab perceraian. Jangan merasa kondisi rumah tangga baik-baik saja karena usia pernikahah sudah berjalan lama.

Semakin tua usia pernikahan, menurut Ajeng, pasangan harus makin banyak menyediakan waktu untuk saling intropeksi dan memperbaiki hubungan.


Post Comment