Tidak Mau Sekolah, Seorang Anak Diminta Mengumpulkan Sampah Oleh Ibunya. Ini Dia Pelajaran yang Bisa Kita Petik

“Kok tega banget sih, nyuruh anak mengumpulkan sampah plastik?”, tapi justru dari penggemblengan mental seperti ini. Kelak dia bisa tumbuh jadi pribadi yang punya daya juang tinggi.

Di minggu ini, ramai diberitakan seorang anak di Bangkok mendapatkan pelajaran hidup berharga dari ibunya. Ceritanya berawal, si anak, nggak mau berangkat sekolah. Si ibu memutuskan, daripad marah-marah, dia menyuruh anaknya memungut sampah dan botol plastik di jalanan, untuk djuali lagi.

anak tidak mau sekolah, diminta mengumpulkan sampah

Total si anak berjalan, sepanjang 2,2 km, hingga bisa terkumpul sebanyak 2 kg sampah. Merasa sudah melakukan tanggung jawabnya. Si anak mengajukan beberapa permintaan kepada ibunya. Pertama, ia minta pulang naik bisa, dan yang kedua, anak ini minta dibelikan es krim. Kedua pertanyaan tadi, si ibu jawab dengan, apakah uang dari hasil mengumpulkan sampah sudah cukup untuk pulang naik bisa dan makan es krim?

Ujung-ujungnya, anak tadi mengutarakan, kelelahan, panas dan ingin pulang. Tanpa peduli lagi dengan kedua permintaan di awal. Gong-nya, ibu bertanya kepada anak: “Jadi mau sekolah atau kerja?”. Si kecil yang sedang kelelahan yakin menjawab, “Aku mau sekolah!.”

Pas membaca kasus ini, saya langsung teringat kalimat dari sahabat abang ipar saya, kira-kira begini bunyinya: “Jangan memudahkan anak, untuk menyusahkannya di kemudian hari.” Ngerti banget kok, anak adalah darah daging kita, harus dilindungi, merasa nyaman, dan dimengerti emosinya. Masalahnya, dengan cara seperti apa?

Melindungi kan, nggak harus selalu bilang iya, membuat dia nyaman tidak selalu harus berada di sisi dia? Mengerti apa yang anak rasakan, juga tidak selalu seiya sekata dengan permintaan mereka, toh? Apa yang dilakukan seorang ibu di Bangkok tadi, menurut saya berusaha menanamkan nilai kerja keras. Setiap orang punya tanggung jawabnya masing-masing, sesuai dengan usianya. Sekolah, adalah tanggung jawab anak untuk masanya sekarang.

Justru dengan diberikan tanggung seperti itu, anak akan merasa tertantang untuk menyelesaikannya. Tapi pada prosesnya, jangan sedikit-sedikit dibantu. Biarkan dia meresapi, kalau mau sesuatu harus melalui proses tertentu.

Saya pernah cerita, di depan satu kantor. Saya tidak lagi mendapatkan aliran dana uang kuliah dan biaya hidup di Bandung dari papa saya. Alasannya? Saya lulus kuliahnya nggak tepat waktu, seperti yang saya janjikan di awal. Meskipun, keterlambatan saya masuk akal. Kuliah sambil kerja. Itupun, semua mata kuliah udah selesai.

Saya berani berbuat, artinya konsekuensi juga harus saya tanggung. Saya harus mencari dana tambahan, dengan cara motret, untuk menutupi uang sewa kost-kostan dan biaya hidup sehari-hari. Walau mama, tetap memberikan sedikit bantuan, tapi saya tidak bisa 100% berharap sama dia.

Hasilnya? Sekian tahun kemudian, saya bukan anak perempuan yang gampang nyerah. Kerja di ibu kota Jakarta yang super duper macetnya, sudah jadi makanan saya sehari-hari.

Hal yang sama terjadi pada beberapa teman saya, yang sekian episode hidup mereka sudah sangat struggle. Ya punya masalah keluargalah, harus merantau untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ada pula yang orangtuanya bercerai dan lain-lain. Justru dari situasi sulit, anak akan berlajar bagaimana caranya harus bertahan dan mencari cara keluar.


Post Comment