Anak SD Hamili Anak SMP, Bagaimana Kita Harus Bersikap?

Malam hari kemarin saya dikejutkan oleh chat dari Mbak Fia, managing editor Mommies Daily yang share berita tentang anak SD hamili anak SMP di Tulungagung, Jawa Timur. Kini siswi SMP itu tengah hamil 6 bulan. Saya sejenak berpikir kok … bisa? Anak SD-nya kan baru kelas 5?

anak sd hamili anak smp

Ternyata si anak SD sering tidak naik kelas hingga kini usianya 13 tahun. Jadi ya, keduanya jelas sudah puber, kenalan di pantai, tukar no hp, dan kemudian pacaran. Tapi tetep aja lho ya, anak 13 tahun menghamili seseorang yang dia sebut sebagai pacarnya itu bikin nyes banget di hati.

Apalagi ternyata mereka sering berduaan di rumah anak laki-laki yang kebetulan sering kosong dan sudah pernah ditegur oleh tetangga. Yang paling bikin emosi, ayah si anak laki-laki sempat bilang bahwa biar saja anaknya sering berduaan di rumah dengan pacarnya “sebagai pembuktian burungnya yang baru disunat”.

Flash back ke zaman saya SMP dulu, ada teman SMP saya yang hamil juga saat duduk di kelas 3. Tapi pacarnya itu sudah lulus SMA jadi “pesan moral” yang saya dapat dulu adalah “wah jangan pacaran sama orang gede nanti hamil”. Contoh dari kurangnya pendidikan seksual ya padahal kalau sudah sama-sama puber ya tandanya bisa hamil. :(

Saat bertanya pada suami dan beberapa teman sekantor, mereka juga rata-rata punya teman SMP yang hamil. Jadi cerita ini bukan hal baru ya. Tapi mengingat saya duduk di bangku SMP itu sudah hampir 20 tahun lalu, saya jadi miris memikirkan masih ada kasus serupa.

Apa itu tandanya pendidikan seksual kita jalan di tempat? Kenapa masih saja sering terdengar anak SMP yang hamil? Kita harus bagaimana agar anak kita terhindar dari hal-hal seperti ini?

Ya pendidikan seksual harus dimulai sejak anak masih kecil, bukan menjelang puber. Caranya dengan mengajarkan, nama-nama bagian anggota tubuh (kuping, vagina dan penis), menjelaskan dengan benar dari mana bayi lahir, dan sebagainya. Nah justru saat SMP, pendidikannya sudah “naik kelas” ke arah tanggung jawab seksual.

Menurut Psikolog Anak Mbak Vera Itabiliana, anak SMP biasanya mulai suka dengan lawan jenis karena pada saat itu anak baru mulai puber dan belum bisa mengendalikan libidonya. Olahraga teratur bisa sangat membantu untuk mengatur libido.

“Naksir-naksiran antar lawan jenis terjadi secara alami. Tidak bisa dimatikan. Jangan tutup mata kalau anak punya kebutuhan. Umpamanya seperti kita masak air, tapi lubangnya kita tutup. Tidak dibiarkan uapnya keluar sedikit demi sedikit, sambil kita kontrol,” ujar mbak Vera.

Nah di sini peran orangtua yang sangat vital. Kita bisa menjelaskan bagaimana hubungan yang sehat tergantung nilai keluarga masing-masing. Jika diizinkan pacaran, pacaran yang seperti apa. Jika tidak diizinkan, alasannya harus kuat dan anak harus tetap merasa disayang bukan dilarang. Karena jika dilarang, bukan tidak mungkin ia jadi berniat untuk membangkang.

Kalau sudah begini, komunikasi antara anak dan orangtua jadi kuncinya. Kalau memang diizinkan pacaran, buat aturan yang jelas. Misal boleh pergi sama pacar asal diantar atau tawarkan pacar anak main ke rumah saat kita ada di rumah. Jadi tetap di bawah pengawasan, daripada dilarang sama sekali, nanti yang ada dia sembunyi-sembunyi. Bangun suasana menyenangkan, diskusi hubungan yang sehat seperti apa. Rasa sayang yang murni seperti apa, kalau lawan jenis benar-benar sayang sama kita, harusnya seperti apa sikapnya.

Makin anak besar PR-nya makin banyak ya. Semoga tidak terjadi lagi kasus anak SD hamili anak SMP dan kasus hamil muda karena kecelakaan lainnya. Kalau mommies sendiri, bagaimana menjelaskan soal tanggung jawab seksual pada anak?


Post Comment