Single Mom Survival Guide, Fibra T Amukti, Bekerja Menjadi Stress Release Saya Pasca Bercerai

“Bekerja membuat saya bisa memiliki hal lain untuk dipikirkan selain diri sendiri dan anak-anak. Bekerja membantu saya melampiaskan emosi in a good way.”

Demikian sepenggal kalimat dari Fibra T. Amukti atau akrab dipanggil Fia, pribadi yang menurut saya cukup kuat menjalani segala macam drama perceraian. Walau,sebagai rekan kerja satu tim, saya nggak tahu persis, gejolak apa yang sedang berlangsung di hati dan pikirannya saat itu.

Single Mom Survival Guide, Fibra T Amukti

Sejauh saya mengenal Fia sebagai Managing Editor Mommies Daily, saya menganggap bahwa dia bisa tetap menjalankan perannya dengan baik meskipun di tengah-tengah kesibukannya mengurus perceraian dan juga jadwalnya yang bolak-balik ke psikolog anak. At least, dia tetap berusaha menunaikan tanggung jawabnya. Dan sebagai partner kerja yang baik, saya dan Mbak Adis (Tim Editorial MD terdahulu) berusaha menjadi teman berbagi. Ngajak Fia nonton, atau makan siang di luar, sejenak menghela napas, dan membuat dia menemukan kembali dirinya.

Secara keseluruhan, saya bisa bilang, Fia melalui semua proses ini dengan baik. Kenapa saya bilang begitu? Walau sempat terlihat bukan Fia yang utuh, dia bisa segera menata kembali hidupnya. Mulai dari tampilan wajah, yang nggak kucel lagi (saya sampai komentar, seperti kanebo kering *__*, maaf yaa Mbak Fia, hahaha). Dan semangatnya menjalani hari.

Apa saja yang membuat Fia cepat move on, dan tetap menomor satukan dua anak lanangnya Bagus dan Djati? Langsung aja, simak obrolannya berikut ini, ya.

Moving on tips ala Fia?

1. Selalu ingat alasan kenapa perceraian saya terjadi. Ini membuat saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil nggak salah. Mengingat semua pertengkaran yang terjadi antara saya dengan mantan suami, ketidak cocokan yang semakin menjadi-jadi di akhir-akhir pernikahan kami, berhasil meyakinkan hati kecil saya, bahwa memang ini yang terbaik untuk keluarga kami.

2. Fokus pada anak-anak. Semua rencana-rencana saya, semua kegiatan saya, semuanya melibatkan anak-anak. Saya hanya ingin sebisa mungkin membuat anak-anak tetap merasakan bahagia di tengah ‘ketidakbahagiaan’ yang sedang mereka hadapi. Selalu mengingatkan diri sendiri ketika saya merasa down, bahwa anak-anak butuh kehadiran mamanya yang kuat dan bahagia.

3.Berulang kali membisikkan mantra ke diri sendiri bahwa saya layak untuk bahagia. Ketika menjalani proses perceraian dan awal-awal menyandang status sebagai single mom, itu adalah masa terberat saya. Ditambah saya tipikal orang yang tidak terbiasa berbagi cerita. Saya nggak semangat kerja, sebentar-sebentar nangis, bahkan dandan aja malas. Sampai dibilang muka saya seperti kanebo kering, ahahahha.

Sampai suatu hari, saya memandang diri saya di depan cermin, saya seperti nggak mengenali sosok Fia yang selama ini mandiri, kuat, cerewet, bahagia. Kemudian saya mikir, kenapa saya harus membiarkan orang lain memberikan pengaruh negatif segitu kuatnya pada diri saya?? Start dari situ, saya jadi semangat lagi untuk memperbaiki diri dan mengembalikan Fia yang saya kenal, bahkan dalam kondisi yang lebih baik lagi.

4.Bersosialisasi dan berkenalan dengan banyak orang baru. Ini sangat membantu saya untuk tidak terus fokus pada masalah.

Bagaimana menjalankan life after divorce (untuk diri sendiri dan anak)?

Saya belajar untuk lebih realistis dan sedikit lebih santai dalam menjalani keseharian saya bersama anak-anak. Semua ini karena saya ingin membuat anak-anak lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan barunya. Saya mencoba lebih memahami anak-anak, karena saya sadar betul, mereka juga merasakan marah, bingung kecewa, sedih dan nggak tahu harus berbuat apa.

Single Mom Survival Guide, Fibra T Amukti

Bagaimana menjaga hubungan baik dengan mantan suami?

Mengurangi ego dan menyadari bahwa sekarang tujuan saya dan mantan suami hanyalah untuk kebaikan anak-anak ke depannya. Ibarat kata, kami sudah gagal memberikan sebuah keluarga yang utuh untuk anak-anak kami, jadi jangan juga kami gagal memberikan kebahagiaan bagi mereka setelah perceraian terjadi. Bukan berarti pasca bercerai kami jadi adem ayem, ahahaha, salah besar. Tetap ada pertengkaran, namun setidaknya kali ini anak-anak tidak harus menyaksikan. Dan secara frekuensi, sudah pasti jauuuuh berkurang.

Berkomunikasi lewat Whatsapp, karena ini memberi saya lebih banyak waktu untuk berpikir sebelum menuliskan kalimat-kalimat. Seringkali saya bisa terselamatkan dari mengeluarkan kalimat pedas jika sedang jengkel dengan perilaku mantan suami karena saya memaksa diri untuk berpikir berkali-kali sebelum menulis dan mengirimkan whatsapp tersebut, hehehe.

Dan terus mengingatkan diri saya bahwa bagaimanapun, mantan suami adalah ayah dari anak-anak saya. Jadi, dia tetap berhak untuk mengetahui perkembangan anak-anak dan ikut andil dalam setiap keputusan yang menyangkut anak-anak.

Ada nggak kekhawatiran terbesar pasca bercerai dan how to handle it?

1. Kekhawatiran terbesar saya adalah bagaimana kedua anak saya menanggapi perceraian orangtuanya. Bagaimana dampaknya terhadap emosi mereka. Dan memang luar biasa banget di awal-awal. Emosi mereka sangat nggak stabil. Ada kalanya mereka sayaaaaaang banget sama saya, namun tiba-tiba berbalik marah-marah. How to handle? Saya intens berkomunikasi dengan psikolog anak, yaitu Mbak Vera Itabiliana. Saya selalu bertanya ke Mbak Vera, bagaimana saya haru bereaksi. Dan saya juga meminta bantuan dari keluarga besar, agar mereka juga lebih memahami perilaku anak-anak. Hingga ke guru di sekolah. Saya usahakan memiliki komunikasi yang baik dengan berbagai pihak.

2. Saya takut kehilangan anak-anak saya. Kalau berdasarkan putusan pengadilan, hak asuh anak-anak jatuh ke tangan saya. Namun, saya mencoba untuk bersikap ‘adil’ dan membagi hari bersama ayahnya. Masalahnya adalah, beberapa anggota keluarga besar mantan suami yang tak jarang mengatakan hal-hal  buruk tentang saya. Terlebih mantan suami menempati rumah tempat anak-anak bertumbuh sejak bayi, sudah pasti mereka merasa lebih nyaman dan lebih punya banyak teman di sana.

Menyikapi hal ini, saya sebisa mungkin juga membuat suasana yang nyaman di rumah saya, dan menunjukkan bahwa saya berbeda dengan mereka yang kerap menjelek-jelekkan saya. Saya percaya, anak-anak bisa melihat dengan hati kok. Kids go where there is excitement. They stay where there is LOVE.

Hal yang membuat hidup pasca bercerai akan baik-baik saja?

1. Klise mungkin, tapi memang nyata, kekuatan doa yang utama. Perceraian membuat saya kembali menjadi ‘anak baik,’ rutin ke gereja serta berdoa (huhuhuhu). Di saat-saat saya benar- benar terpuruk, berdoa dan hadir di gereja membuat saya merasa yakin bahwa seberat apa pun masalah yang hadir, saya punya Tuhan dan Yesus yang akan menjaga dan menguatkan saya.

2. Kehadiran keluarga dan teman-teman dekat yang selalu memberikan saya semangat, dukungan dan selalu menyediakan diri mereka kapan pun saya butuh bantuan mereka. Kapan pun saya butuh berbagi beban. Mereka selalu ada. Dan ini yang membuat saya menjadi lebih mudah menjalani semuanya.

Single Mom Survival Guide, Fibra T Amukti

3. Pekerjaan saya. Believe it or not, bekerja menjadi stress release saya. Ada hal lain untuk saya perhatikan selain anak dan diri sendiri. Di sini saya bisa melupakan sejenak keruwetan hidup pasca bercerai. Dengan bekerja juga membantu saya melampiaskan emosi in a good way.

Single Mom Survival Guide, Fibra T Amukti

Punya panutan single mom, yang ngebuat  Mbak Fia berpikir, life after divorce akan baik-baik saja?

Well,  buat saya, siapa pun perempuan bercerai yang tetap mampu mengurus anak dengan baik, memiliki hubungan yang baik dengan anak, tidak berperilaku sebagai ‘korban’ mereka adalah inspiring people di mata saya.

Thank you for sharing, dan tetap semangat, ya, Mbak Fia


One Comment - Write a Comment

  1. Hello :) Maaf hanya sekedar tanya saja, apa boleh tahu email mba Fibra? Artikel ini menginspirasi saya dan relate dgn kehidupan saya juga. Ada yg ingin saya tanyakan sehubungan dengan pengalaman dari mba Fibra. Terima kasih :)

Post Comment