Prakarya Anak, Disimpan atau Dibuang?

biaya masuk tk dan preschool 2018

Anak saya, Xylo baru berusia 4 tahun, tapi ia sudah mulai ikut “kelas” di daycare-nya sejak usia 1 tahun. Waktu itu “pelajaran”-nya belum berpengaruh pada kondisi rumah karena sekadar menyanyi atau kegiatan motorik lainnya.

Masuk usia 2 tahun, ia mulai membuat prakarya di sekolah, finger painting, melipat, menempel, dan banyak lagi. Dalam waktu singkat, rumah saya berubah dengan tumpukan prakarya di mana-mana. Belum lagi laporan harian dari daycare yang entah kenapa nggak pernah saya buang. Menumpuk di salah satu sudut rak di kamar.

Mau dibuang kok rasanya tega sekali ya? Ini kan hasil karya anak, siapa tahu besar nanti jadi seniman. Kan hasil karya waktu kecil bisa ikut pameran. Sungguh ibu visioner sekali.

Masalah mulai terasa ketika masuk preschool dan setiap hari ia bisa membuat lebih dari satu prakarya, saya akhirnya pusing sendiri dan mulai mengambil tumpukan itu, memeriksanya satu per satu, kemudian saya buang SEMUA.

Bagi kalian yang tidak sentimentil dan tidak pernah menyimpan kenangan pada barang, hal seperti ini mungkin biasa saja. Tapi bagi saya yang hobi menyimpan tiket nonton bioskop, tiket dan gelang nonton konser (bahkan yang didatangi dengan mantan-mantan pacar hahahaha — saya buang saat pindah rumah), membuang prakarya-prakarya ini rasanya berat.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi disimpan pun untuk apa? Hanya akan jadi sarang debu. Apalagi sebagian besar hanya kertas berisi satu atau dua garis coretan pensil warna. Karena Xylo sedang tidak mood mewarnai. Masa iya harus disimpan juga?

Sebelum saya buang, semua prakarya itu saya foto dulu. Kalau dia sedang mau difoto, maka saya minta ia memegang prakarya itu baru kemudian difoto. Semua fotonya saya arsip rapi memakai fitur Google Photo.

(Baca: Tips Merapikan Koleksi Foto Digital Anak)

Dari banyak sekali artikel yang saya baca, saya rangkum tips untuk menyimpan atau membuang prakarya anak ya:

1. Simpan yang benar-benar spesial seperti kartu ucapan hari ibu atau surat pertama yang ia tulis sendiri. Buang yang sekiranya sering ia buat.
2. Masukkan ke dalam boks khusus dan kategorikan boks itu berdasarkan usia atau level pendidikan anak. Misal preschool, TK A, TK B, dan seterusnya.
3. Boks terlihat kurang rapi? Moms bisa menggunakan map dengan isi plastik yang biasa digunakan untuk menyimpan dokumen kertas. Masukkan prakarya ke dalam plastik dokumen, dan simpan di dalam map itu.
4. Jika anak sudah bisa diajak berdiskusi, diskusikan dengan anak mana prakarya yang boleh dibuang dan mana yang tidak.

Semoga berguna ya, moms!


Post Comment