Reflection on Childhood: Nola B3, “Dari kecil saya terbiasa diajarkan untuk berjuang.”

Berbagai prestasinya di dunia tarik suara tak perlu diragukan lagi. Dan beberapa tahun belakangan, ia berhasil mendampingi anaknya Naura menapaki dunia yang sama. Bahkan, menjajal seni peran. Bagaimana pengalaman di masa kecilnya membentuk karakternya, sehingga menjadi sosok perempuan sukses seperti sekarang?

Siapa sih yang nggak tahu penyanyi trio B3? yang sempat berganti nama dari AB Three. Salah satu personilnya, adalah Nola. Ibu dari Naura, Neona dan Adiono yang sampai sekarang masih eksis di dunia tarik suara. Bahkan, anak sulungnya, Naura, berhasil mengikuti jejak ibunya.

Reflection on Childhood: Nola B3, “Dari kecil saya terbiasa diajarkan untuk berjuang.” - Mommies Daily

Bagaimana ya, sosok Nola di masa kecil, apa yang menempa dia hingga bisa menjadi Nola yang sekarang? Simak obrolan MD, dengan Nola berikut ini, yuk, mommies.

Tolong ceritakan dong, tiga hal yang paling kamu suka, dari diri kamu?

Yang pertama saya orangnya simple. Misalnya, ketika saya membuat keputusan, cara berpikir dan saya orangnya nggak mau ribet tapi jelas. Dan saya merasa diberi kelebihan, melihat sesuatu yang berpotensi terlalu rumit untuk dijalankan. Kedua, saya bekerja dari hati (poin ini buat saya penting banget). Artinya, melakukan Sesutu dengan sepenuh hati, jadi kalau mengerjakan pekerjaan nggak mau setengah-setengah. Dan berangkatnya dari perasaan dulu, kalau saya senang dan bisa terjun di situ, saya pasti melakukannya dengan tulus. Nggak melulu melihatnya dari segi materi. Tapi kalau saya lihat bentuk kerjasamanya enak. Lingkungan sekitar juga mendukung, saya pasti akan turun tangan secara total dan sepenuh hati. Dan yang terakhir dedikasi.

Pengalaman masa kecil apa sih, yang bisa membantuk kamu, sampai memiliki tiga poin itu?

Mungkin karena saya terlahir dari keluarga yang cukup simple. Tidak banyak aturan, tapi jelas bahwa apa yang dijalankan, apa adanya. Maksudnya, tidak ajarkan bohong dengan keadaan. Menerima segala apapun itu, apa adanya. Dan kebetulan orangtua saya adalah pendidik. Saya tinggal di daerah, dan dari kecil saya terbiasa diajarkan untuk berjuang. Kalau ingin menjadi seorang penyanyi, ya ikut lomba, harus mau berlatih, bertanggung jawab. Karena untuk bisa meraih sesuatu itu, kita harus melakukan usaha, dan ada prosesnya. Dari hal-hal seperti itu terbentuklah karakter saya seperti sekarang, tanpa saya sadari.

Ada nggak film atau buku, favorit kamu yang paling berkesan?

Saya tuh sebetulnya senang membaca. Tapi karena saya orangnya terlalu simple. Dan membaca dengan tenang, dalam waktu yang cukup panjang, saya kayaknya nggak betah. Saya lebih senang dalam bentuk visual, seperti film. Contohnya, Wonder. Dia mempunyai anak yang berkebutuhan khusus, dan memberanikan diri untuk sekolah di sekolah umum. Guru di sana juga selalu menjelaskan. Anak-anak hadir dengan berbagai macam karakter. Dalam film tersebut, si guru berpesan. Semua pasti ada sebab akibat, yang berangkatnya dari rumah – anak bisa terbentuk dengan berbagai macam karakter.

Kita tidak bisa menyalahkan orang lain begitu saja, pasti ada latar belakang di balik itu. Setelah nonton Wonder, saya berpesan ke anak-anak, bahwa nggak ada yang sempurna, termasuk diri sendiri. Yang penting bagaimana kita bisa menerima kekurangan diri sendiri, tapi kita juga harus bangga dengan diri sendiri. Dan harus menerima kekurangan orang lain, jangan selalu menuntut untuk dimengerti. Kita juga harus paham dengan kondisi orang lain yang mungkin mereka tidak menginginkan hal itu terjadi terhadap dirinya, tapi kondisi yang membuat mereka mencoba bangkit dari hal-hal yang tidak mereka inginkan.

Contoh kasusnya, saya berpesan ke anak-anak. Kalau ada teman, yang iri dengan kondisi kita saat ini. Pasti ada latar belakangnya, kenapa mereka seperti itu. Mengajarkan mereka untuk bersikap positive thinking dan memahami kondisi orang lain. Pasti ada sebabnya deh. Mungkin di rumahnya, selama ini kurang diperhatikan. Tidak melulu melihat sesuatu, dari sisi yang negatif.

Ada nggak sih, obrolan atau pesan dari orangtua, yang sampai sekarang membekas. Dan menjadi quote of life kamu?

Saya itu diajarkan orangtua, khususnya ibu. Apapun dilakukan, dengan sekuat tenaga, untuk diri sendiri, anak-anak dan masa depan, tanpa menyakiti perasaan orang lain. Misalnya, melihat orang lain sukses kita tidak senang, itu sama saja syirik, dan sama saja menyakiti hati orang lain dan diri sendiri. Jadi buat saya, kalau memang mau sukses, lakukan dengan tenaga sendiri, tanpa memanfaatkan orang lain.

Terus, pasrah dengan apapun yang terjadi. Setelah melakukan sesuatu, dengan sepenuh hati dan kerja keras. Kalau berhasil, itu karena sudah rezeki dan restu yang dikasih Tuhan, bukan semata-mata kehebatan kita.

Thank you for sharing, Mbak Nola :)


Post Comment