5 Fakta tentang Generasi Alfa yang Perlu Diketahui para OrangTua

Setelah Gen Z, kini lahirlah gen Alfa. Akan secanggih apa mereka dari para gen Z pendahulunya?

Bulan-bulan ini, saya sedang bersuka cita karena menyambut kelahiran dua keponakan saya. Belum lagi, sebelumnya saya juga baru menjenguk beberapa sahabat yang habis melahirkan. Segera saja, linimasa media sosial saya dipenuhi oleh Instastory dan Facebook Story bayi-bayi imut. Mereka lahir di satu dekade setelah kelahiran Pi (11), anak saya. Kalau Pi masuk dalam sebutan Gen Z, lalu bayi-bayi ini masuk generasi apa? Dan akan secanggih apa mereka dari para Gen Z pendahulunya?

Gen Z adalah sebutan untuk generasi yang lahir dari tahun 1996 – 2010. Generasi yang lahir setelah tahun 2011, mendapat sebutan generasi Alfa. Itu berarti usia Alfa yang tertua saat ini adalah 7 tahun atau setara usia kelas 1 SD atau usia masuk SD. Di seluruh dunia, sebanyak 2,5 juta Alfa baru terlahir setiap minggunya. Dan, tak lama lagi, mereka bakal menjadi generasi yang paling berpengaruh. Seperti apa sih, karakteristik mereka?

5 Fakta tentang Generasi Alfa yang Perlu Diketahui Para Orangtua - Mommies Daily

1. “Mereka akan menjadi orang yang paling mengerti teknologi dan tidak mengenal dunia tanpa media sosial,” demikian prediksi Dan Schawbel, peneliti dari Future Workplace

Alfa sudah mengenal smartphone dan touchscreen sejak baru lahir. Start up teknologi pun berlomba-lomba merebut perhatian para Alfa ini. Sebutlah, Snapchat, merilis Snapkidz (Snapchat untuk anak, tanpa fitur add friend dan share messages). Google merilis Google Home, yang memudahkan pencarian lewat komunikasi voice control. Salah satu iklan terbaru Google Home, misalnya, tentang seorang bocah gen Alfa yang sedang dibacakan buku dongeng tentang paus biru oleh ayahnya. Sembari dibacakan, si anak tak henti bertanya-tanya tentang paus biru. Ayahnya tak kehabisan akal, melempar pertanyaan ke Google Home, yang segera saja memuaskan rasa penasaran si anak. Bayangkan, kalau dari ‘piyik’ saja teknologi sudah secanggih itu, ketika mereka beranjak besar, akan banyak terjadi lompatan inovasi teknologi yang belum terbayangkan saat ini.

2. Mereka adalah anak yang sangat dimanja dan dibesarkan dengan value parenting terbaik oleh orangtua millennial mereka

Alfa berpotensi memiliki orang tua yang lebih tua karena para generasi millennial menunggu lebih lama untuk menikah dan memiliki anak. Menurut statistik, hanya 6 dari 10 millennial yang dibesarkan oleh kedua orang tua. Secara alami, millennial menempatkan pernikahan dan punya anak menjadi prioritas yang lebih penting di atas karier dan kesuksesan finansial. Mereka menempatkan nilai tinggi pada pengasuhan yang lebih baik dibanding mereka dulu. Menjadi orang tua sangat penting bagi identitas mereka.

3. Mereka adalah influencer sosial sejak bayi

Tak sedikit yang menghasilkan pendapatan jutaan dolar setiap bulannya dari media sosial mereka. Sebutlah, Laerta (@fashion_Laerta) bocah kecil bergaya bak fashionista, atau Ryan Youtuber cilik dengan akun Ryan ToysReview, yang memiliki lebih dari 13 juta subscriber. Di Indonesia, ada baby Kirana (yang sekarang punya adek bayi), di akun Instagram mamanya @Retnohening, yang follower-nya mencapai 1,1 juta.

4. Mereka memiliki lebih sedikit kontak manusia dari generasi sebelumnya

Gen Alfa akan menjadi generasi yang paling terhubung namun menghabiskan lebih sedikit waktu untuk bersosialisasi, berbicara dan bermain dengan teman-temannya. Akan ada tantangan psikologis yang mereka alami, mereka akan merasa lebih kesepian meskipun terhubung online.

5. Mereka akan lebih mandiri, lebih terdidik, dan lebih siap menghadapi tantangan besar

Gen Alfa harus menghadapi tantangan terbesar dunia, termasuk pemanasan global dan krisis finansial. Mereka akan mendapatkan pendidikan yang lebih kuat melalui pembelajaran online di awal kehidupan mereka.


Post Comment