9 Tips Untuk Para Pejuang Co-Parenting

Karena yang perlu diutamakan adalah kenyamanan anak meskipun kadang berkesan “nggak adil” untuk kita, orangtuanya.

Awalnya, saya berpikir, setelah putusan pengadilan memberikan hak asuh anak ke saya, dan saya berbagi hari dengan mantan suami, maka urusan pengasuhan anak akan beres. Ternyata TIDAK SAMA SEKALI *__*.

Saya berpikir bagaimana cara pembagian waktu antara saya dan suami agar terasa adil bagi kami berdua. Diputuskan bahwa 4 hari di saya dan 3 hari di mantan suami. Cukup adil, kan. Dan seharusnya semua happy. Ternyata saya lupa, bahwa di luar kami berdua dan gerombolan keluarga besar yang merasa perlu untuk ikut urun suara serta pendapat, ada dua pribadi yang sebenarnya paling penting untuk kami perhatikan. Kedua anak kami.

Benar saja, tak lama setelah pembagian waktu dilakukan, muncullah drama-drama. Anak merasa capek karena harus bolak-balik, ada aja barang-barang keperluan sekolah mereka yang ketinggalan, belum lagi kalau saya harus business trip , maka berubah jadwal, atau ketika si ayah terlambat terus menerus mengantarkan anak-anak pulang ke saya sehingga membuat waktu cuti saya terbuang percuma.

Hingga di satu titik, saya sempat merasa lelaaaaah banget dan curhat sama mbak Vera Itabiliana. Sampailah kepada tulisan pembuka dari artikel ini. Mbak Vera mengingatkan, bahwa yang paling penting adalah kenyamanan anak-anak, pun itu membuat salah satu orangtua mungkin merasa tidak mendapat keadilan.

9 Tips Untuk Para Pejuang Co-Parenting - Mommies Daily

Jadi, untuk semua di luar sana yang sesama pejuang co-parenting, coba tolong diingat beberapa hal berikut ini:

1. Buat pembagian jadwal yang pasti dan patuhi

Menghadapi orangtua yang bercerai, perubahan suasana di rumah, terpaksa tinggal hanya dengan satu orangtua, tentu cukup membuat anak merasa bingung dan tidak nyaman. Jadi, sebisa mungkin buat pengaturan waktu yang tidak membingungkan dan jangan berubah-ubah. Ingat, bahwa pembagian waktu juga harus memikirkan kepentingan anak-anak.

2. Jangan pernah menjelek-jelekkan pasangan di depan anak-anak

Mungkin mantan suami bukan suami yang baik untuk kita. Atau sebaliknya, kita bukan istri yang baik untuk suami. Namun, kita pasti tetap akan menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak. Di saat kita sibuk menjelekkan pasangan, anak akan merasa kalau mereka sama buruknya dengan ayah atau ibu mereka. Dan, omongan buruk tentang orangtua, kerap akan diingat oleh anak hingga mereka dewasa kelak.

3. Selalu ingat bahwa parenting is forever

Ada mantan istri atau mantan suami, tapi nggak ada yang namanya mantan ayah atau mantan ibu. Anak-anak perlu diyakinkan bahwa hubungan mereka dengan ayah atau ibunya akan selalu ada selamanya.

4. Pilih topik obrolan yang pas di ‘depan’ anak

Entah itu ketika sedang bicara langsung atau melalui telepon bahkan melalui Whatsapp. Sebisa mungkin jangan berdebat atau berantem ketika kita tahu ada kemungkinan anak-anak mendengar apa yang kita bahas. Bahkan ketika berkomunikasi melalui whatsapp atau SMS. Bisa saja kan, tanpa sengaja anak membuka ponsel kita dan membaca percakapan di dalamnya.

5. Jangan memaksa anak untuk berpihak

Saya paling benci ketika mantan suami saya mengatakan kalimat seperti ini: “Kalau kamu sayang Ayah, jangan belajar agama Mamah,” atau “Kalian kan sayangnya sama mamah, makanya nggak suka lama-lama nginep di tempat Ayah.” Please lah, jangan tempatkan anak di posisi yang tidak nyaman. Mereka nggak perlu memilih salah satu pihak.

6. Berhenti mengorek informasi dari anak

Setiap kali anak selesai menghabiskan waktu bersama Ayahnya, kemudian kita sibuk mencari tahu apa yang mereka lakukan di rumah ayah atau ketika sedang bersama Ayahnya. Sebaliknya, mantan suami juga sibuk mencari tahu apa yang dilakukan anak bersama kita. Stop! Jangan jadikan anak sebagai ‘mata-mata.’ Ini hanya akan menambah rasa tidak nyaman pada anak.

7. Jangan jadikan anak sebagai pengantar pesan

Karena kita malas berkomunikasi dengan mantan, maka anaklah yang kita jadikan pengantar pesan. Ini sama saja seperti mengajak anak masuk ke dalam medan pertempuran. Sampaikan sendiri. Komunikasikan langsung.

8. Pastikan kebutuhan anak selalu terpenuhi

Mulai dari pakaian, uang sekolah, les, baby sitter, dan sebagainya. Komunikasikan dengan baik agar anak tidak merasa ada yang berubah dengan perpisahan orangtuanya.

9. Selalu tepati janji yang kita ucapkan ke anak-anak

Di awal-awal, anak biasanya akan sangat menguji kesabaran kita karena mereka ingin tahu, sejauh mana kita mampu membuat mereka nyaman. Jadi pastikan bahwa kita selalu menepati janji yang pernah kita buat dan sampaikan ke anak-anak.

Di luar sekian tips yang sudah saya bagikan, dan mungkin ribuan tips lain yang bisa kita kumpulkan, selalu ingat, bahwa hal yang paling utama sudah pasti kenyamanan dan kebahagiaan anak. Jadi, ketika kita mungkin merasa tidak adil, ingat saja, apakah ini yang terbaik dan yang diinginkan oleh anak-anak? Semoga perjuangan kita tidak dipenuhi dengan drama nggak penting ya mom :).


Post Comment