Percaya Diri dan Berani Ambil Risiko, Tidak Hanya Berlaku Untuk Anak, Lho!

Ditulis oleh: Febria Silaen

Ketika kita mati-matian mendidik anak kita untuk percaya diri, apakah kita sebagai orangtua sudah lebih dulu memiliki rasa percaya diri terhadap diri kita sebagai orangtua?

“As a leader one of the things that’s most important is to know your team needs to see you as confident.” – Steve Kerr, Golden State Warriors coach

Setiap orangtua tentu ingin anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri. Berbagai pendapat dari pakar parenting mengatakan banyak manfaat untuk anak ketika orangtua bisa menanamkan rasa percaya diri pada anak sejak dini.

 Anak yang percaya diri, biasanya tahu apa yang ia inginkan untuk hidupnya. Dan ketika sudah menentukan pilihan, mereka akan fokus mencapai tujuannya tercapai.

 Anak yang percaya diri selalu memiliki semangat positif.

 Rasa percaya diri juga mampu mengusir rasa takut yang menjadi salah satu penghalang ketika seseorang ingin mengembangkan dirinya.

 Dan paling penting, anak yang memiliki rasa percaya diri, secara fisik maupun mental akan memiliki kesehatan yang baik. Anak jarang memiliki rasa khawatir berlebihan yang dapat berpengaruh pada kesehatan fisik serta mentalnya.

 Rasa percaya diri juga membuat anak berani mengambil risiko.

Makanya, nggak jarang kan kita sebagai orangtua mati-matian menanamkan rasa percaya diri kepada anak-anak kita, dengan berbagai macam cara, bahkan sejak anak masih bayi. Salah satunya membebaskan anak untuk bereksplorasi, tidak terlalu banyak memberi batasan agar anak memuaskan rasa ingin tahunya!

Masalahnya adalah, ketika kita cenderung mendorong anak untuk percaya diri dan berani mengambil risiko, apakah kita sendiri sudah juga memiliki itu semua?

Percaya Diri dan Berani Ambil Risiko, Tidak Hanya Berlaku Untuk Anak, Lho!  - Mommies Daily

Kita tahu, anak itu peniru ulung! Mereka akan melihat contoh terdekat yaitu orangtua. Jadi kalau kita ingin anak percaya diri, mulai dulu dari diri kita sendiri!

Buat saya, hal paling mudah adalah ketika kita dipilih menjadi panitia atau kordinator acara di sekolah anak atau acara keluarga besar. Jangan langsung menolak apalagi kalau tanpa alasan yang jelas. Terima aja dulu, yakin deh bahwa kita bisa learning by doing! Atau dalam kasus saya, ketika saya dan teman-teman membuat satu acara komunitas namun menjelang hari H, jumlah peserta belum memenuhi kuota. Duh, bawaannya mau mundur teratur. Tapi kemudian saya mikir, kalau ini terjadi pada anak saya, saya pasti akan menguatkan dia untuk terus maju dan mencari cara agar kuota peserta terpenuhi. Mosok, giliran saya yang mengalami saya malah mundur teratur dan kecil hati?!

Dari sini saya belajar, bahwa acapkali orangtua kerap lupa mempraktikkan ke diri sendiri segala macam ilmu kehidupan yang kita ajarkan ke anak-anak kita.

Ingin anak berani? Jadilah orangtua yang pemberani.

Ingin anak kreatif? Ya jadilah orangtua yang selalu menggunakan akal dalam setiap kesempatan.

Ingin anak hemat? Tunjukkan contoh bagaimana kita sebagai orangtuanya juga berhemat.

Ingin anak berani ambil risiko dan percaya diri? Ya jadilah orangtua yang memiliki dua value itu dalam diri dan kepribadian kita.

Dengan begitu, anak bisa melihat dan belajar meniru dari kita, orangtuanya!


Post Comment