Anak Manja Adalah Hasil Karya Orangtua, Benarkah?

Suka gregetan kalau anak kita manjanya keterlaluan? Coba ingat, jangan-jangan anak jadi spoiled brat karena kita melakukan 8 hal ini.

Saya pernah cerita nggak sih, tentang keponakan saya yang demanding banget, sampai kalau lagi menonton aksi-aksinya yang ajaib menjurus nyebelin, saya sampai takjub dan membatin “kok bisa sih orangtuanya diam aja?”

Bayangin,

Dia minta bukain bungkus permen ke mamanya dengan cara dia lempar itu permen dan nyuruh mamanya buka tanpa ada kata tolong.

Kalau marah sama kakaknya, dia bisa nampar muka kakaknya dan jambak rambut kakaknya.

Kalau keinginannya nggak terpenuhi sama orangtuanya, dia bisa nendang si bapak atau meludah ke si ibu.

Umur 8 tahun masih nggak mau mandi sendiri, makan maunya disuapin dan apa-apa diambilin. Padahal, anaknya sehat sentosa.

Nah, gregetan nggak berujung kan bawaannya? Saya dari yang awalnya niat mau ikut campur ke dalam pola asuh ini anak, sampai akhirnya nyerah sendiri. Kenapa saya menyerah? Karena orangtuanya tidak mau dibantu dan cenderung mendiamkan perilaku si anak.
Jadi, begitu suatu hari mamanya duduk di samping saya dengan wajah lelah sambil bilang “Mbak, aku tuh nggak ngerti lagi deh ngadepin si Rafi (bukan nama sebenarnya_red), dia salahnya di mana ya?

Dengan lempeng saya menjawab “Salahnya? Di kalian orangtuanya. Karena kalian selama ini membiarkan dia bersikap seperti itu dan cenderung melindungi ketika orang lain menegur. Jadi kalau mau diubah, ya cara kalian mendidik dulu yang diubah.”

Ini yang menjadi concern saya, ketika orangtua mengeluh tentang perilaku anaknya tapi mereka lupa berkaca dan melihat diri mereka sebagai orangtua. Banyak banget saya temukan anak-anak yang manjanya luar biasa, karena orangtuanya terbiasa melakukan 8 hal ini:

Anak Manja Adalah Hasil Karya Orangtua, Benarkah? - MommiesDaily

1. “Namanya juga anak-anak, nanti juga berhenti sendiri.”

Sekecil apa pun usia anak, saya berprinsip mereka harus tahu aturan, mereka harus tahu kapan sikap mereka bisa ditoleransi dan kapan harus ditegur. Salah satunya, ketika anak menyakiti orang lain (entah disengaja atau tidak), jangan pernah memaklumi. At least ajarkan mereka untuk meminta maaf. Ketika sebuah perilaku salah selalu dimaklumi, jangan heran jika mereka tumbuh menjadi anak yang manja.

2. Orangtua tidak membiarkan anak memiliki tanggung jawab

Banyak orangtua yang selalu menganggap anak-anak masih terlalu muda untuk diberikan tanggung jawab. Bahkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga yang sederhana sekali pun. Anak terbiasa menerima segala sesuatunya sudah beres.

3. Orangtua sibuk menyalahkan pihak lain

Ketika anak menangis, yang disalahin lantainya.

Ketika mainan rusak, yang disalahin pengasuhnya.

Saat anak nggak mau makan, yang disalahin rasa makanannya yang katanya nggak enak.

Begitu aja seterusnya.

Kita membuat anak tidak menyadari bahwa dia bisa berbuat salah, dan kalau dia salah ya harus minta maaf. Kita tidak mengajarkan sebab akibat. Kalau dia tidak hati-hati maka dia akan jatuh. Yang kita ajarkan adalah, dia selalu benar dan dunia yang salah.

4. Terlalu penuh pujian

Coba belajar membedakan antara memberi semangat anak untuk jangan mudah menyerah atau berani mencoba dengan membuat anak ‘halu’. Maksudnya gini lho, ketika anak berani mencoba sesuatu, atau meraih prestasi, memuji itu sah. Tapi kalau misalnya, anak dapat nilai ulangan jelek karena dia tidak belajar, ya jangan tetap dipuji. Atau kasus lain, orangtua selalu meyakinkan anak bahwa dia pasti mampu melakukan SEGALA HAL! Nope, nggak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa melakukan semuanya. Ajarkan mereka bahwa mereka punya keterbatasan. Mereka pintar di matematika, science, art, nggak berarti mereka wajib berprestasi juga di olahraga.

5. Terlalu takut bilang tidak ke anak

Anak yang sepanjang hidupnya selalu mendapat jawaban iya dari orangtua hanya akan tumbuh menjadi pribadi yang manja dan tidak tahan dengan penolakan. Mereka pun jadi nggak biasa untuk berusaha karena masa kecil mereka hanya dipenuhi dengan kemudahan.

6. Karena kita membiarkan mereka bersikap semena-mena

Anak melempar permen ke kita, anak memukul kita atau mengatakan kita bodoh, karena kita membiarkan mereka melakukannya! When you let your child speak to you in a way that you wouldn’t let anyone else speak to you, that’s sign that your kid is BRAT!

7. Menganggap anak masih terlalu kecil untuk diajarkan tentang tata krama

Sekecil apa pun usia anak, kita sebagai orangtua sudah harus tahu, seperti apa kita ingin anak kita bersikap. Paham tentang kata tolong, maaf dan terima kasih, misalnya.

8. Terlalu takut dibenci anak

Kita adalah orangtua dari anak kita. Wajar kalau ada saat-saatnya anak membenci kita karena mereka menganggap displin yang kita berikan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Karena tugas kita nggak hanya menyayangi dengan kalimat-kalimat manis namun juga menegur dan melarang.


Post Comment