Sibling Bullying

Kapan pertengkaran antara kakak adik mulai masuk ke dalam kategori sibling bullying?

Punya dua anak yang beda umurnya cuma dua tahun itu, pasti udah biasalah ngelihat mereka kadang-kadang berantem.

Sebagai ibu, ya tinggal telinga harus kebal mendengar mereka teriak-teriak saat berantem. Harus sabar-sabar saat bolak-balik mencoba melerai mereka. Dan harus siap hati juga kalau salah satu sudah mulai ngomong begini “Mama lebih sayang kakak,” atau “Mama lebih sayang sama adek.

Selama ini saya menganggap kalau Bagus dan Djati (kedua anak saya) berantem, itu hal biasa. Seperti saya dulu berantem sama kedua kakak saya. Dari awalnya saya dan kakak cuma ledek-ledekkan sampai akhirnya pukul-pukulan (hanya pukul-pukul manja tapi lumayan bikin tangan pedih sih).

Tapi kok ternyata makin ke sini, sesekali saya nge-gep-in gaya berantemnya dua anak saya ini kok cukup mengkhawatirkan. Si kakak yang terlihat emosi sekali, si adik yang terlihat ketakutan, atau saat si adik mulai ngata-ngatain si kakak secara fisik. Saya seolah-olah melihat bentuk bullying namun pelakunya anak-anak saya dan dilakukan di antara mereka. Kok sedih ya :(.

Namun, faktanya memang ada lho yang namanya Sibling Bullying. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 pada 3.600 anak usia dua hingga 17 tahun, 38 persen dari mereka mengalami ‘kekerasan’ yang dilakukan oleh saudara kandung. Beberapa jenis kekerasannya termasuk memukul, menggigit, merusak mainan. Sedihnya, ketika banyak dari kita terlalu fokus pada bullying di luar rumah, kita malah skip dengan bullying di dalam rumah.

Sibling Bullying - Mommies Daily

Kapan sebenarnya pertengkaran antar saudara sudah masuk ke dalam kategori bullying? Kalau menurut mbak Vera Itabiliana Psi, ketika salah satu sudah ada pihak yang tersakiti, itu berarti bullying. Tersakiti secara fisik, secara emosi, secara mental, secara verbal. Sesederhana ketika salah mengejek bentuk fisik saudaranya, misal “Dasar gendut,” atau “Dasar sipit,” itu sudah bully.

Jadi, saat kita menyaksikan pertengkaran di antara anak-anak kita dan melihat sudah ada pihak yang merasa tersakiti, itu waktunya kita mengintervensi. Dan bicarakan secara empat mata lalu minta yang bersalah untuk meminta maaf.

Maka, orangtua sebaiknya memang perlu memberikan aturan main jika anak-anak berantem. Contohnya, kalau di rumah mbak Vera, mbak Vera selalu mengingatkan kepada dua anaknya kalau mereka berantem mereka tidak boleh menyakiti fisik atau mengejek fisik. “Di rumah gue, paling mentok anak-anak kalau berantem, paling ngomongnya “Dasar nyebelin,” ungkap mbak Vera. Selanjutnya bisa juga anak-anak dibiasakan berbicara secara terbuka, kenapa mereka marah sama saudaranya atau kenapa sebal sama saudaranya.

Dalam kasus kedua anak mbak Vera, saat si kakak menganggap adiknya menyebalkan, maka si kakak akan menjelaskan kenapa si adik menyebalkan? Ternyata, karena adiknya ngikutin si kakak terus menerus.

Hal berikutnya yang disarankan oleh mbak Vera, ketika anak-anak bertengkar masih dalam tahap ‘wajar’, kita sebagai orangtua jangan terlalu mudah ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan sendiri. Kan, kadang ada tuh anak-anak yang lumayan drama, sedikit-sedikit ngadu dan seolah minta dukungan dari orangtua. Sebelum memutuskan untuk ikut campur, orangtua harus melihat, urgensi untuk ikut campurnya ada atau nggak?

Mengenai aturan lainnya, orangtua perlu memberikan batasan ketika anak-anak berantem. Misalnya, kalau mereka terlalu berisik, kita berhak banget untuk meminta mereka untuk tidak berisik. Atau cara lainnya, tempatkan mereka di dalam situasi di mana mereka harus berkompromi. Misal, “kalau kalian ribut terus, mama akan menyimpan mainan ini.”

Lalu apa penyebab terjadinya bully di antara kakak adik? Biasanya pemicunya adalah perbedaan usia di antara mereka. Tentunya usia yang berbeda otomatis membuat kemampuan mereka juga berbeda satu sama lain. Sayangnya, seringkali orangtua malah menciptakan kompetisi di antara anak. Orangtua menempatkan anak seolah-olah dalam posisi yang sama atau usia yang sama.

Coba diingat-ingat, pernah nggak kita melontarkan kalimat seperti “Kakak dulu seumur kamu bisa lho,” atau “Ayo siapa yang duluan bisa menghabiskan makanannya?” Pada akhirnya anak akan menganggap kalau saudara mereka adalah kompetitor.

Baca juga:

Ketika Kakak dan Adik Selalu Bersaing

Mulai sekarang, penting deh orangtua itu memiliki pemikiran bahwa sibling is different satu dengan yang lain. Bahwa berbeda itu normal. Bahwa berbeda itu wajar-wajar saja. Karena kan ada gap usia di antara mereka. Bangun iklim bahwa mereka berbeda, kalau ada yang butuh bantuan ya harus dibantu. Jangan ciptakan persaingan.

Penyebab lainnya adalah karena anak-anak berebut perhatian dari orangtua. Jadi kembali lagi, orangtua jangan lupa itu yang namanya time alone!

As a mom, we don’t tolerate any kind of bullying or disrespect between our kids!


Post Comment