Saat Hidup Menjadi Ibu Terasa Berat…

Menjadi ibu itu penuh tantangan dan nggak jarang ada masanya saya merasa, kok, jadi ibu itu berat banget ya …. Kalau lagi ‘down’ begini, saya pun mencoba mengingat beberapa momen berikut agar bisa semangat lagi. 

Di suatu Senin pagi, sebelum berangkat kerja, saya dapat laporan dari orang rumah, tentang anak saya yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan (kalau nggak mau dibilang rada nggak manusiawi) dari seseorang (yang sudah dewasa). Intinya anak saya ditegur dengan cara yang nggak kids friendly, plus ditambah dengan kalimat yang nggak pas diucapkan ke anak-anak.

Saat Hidup Menjadi Ibu Terasa Berat… - Mommies Daily

FYI, malamnya saya baru banget pulang liputan dari Hong Kong. Kepala rasanya mau pecah! Badan masih lelah, otak belum siap nerima kabar mengejutkan semacam ini, tiba-tiba jreng jreng, harus nahan diri supaya nggak emosi berlebihan plus mendadak sedih karena nggak terima aja kalau anak saya diperlalukan nggak adil.

Pertama-tama, yang saya lakukan tentu bertanya langsung sama Jordy, dari mana dia mendapatkan kosa kata kasar. Karena rumusnya masih children see, children do – children hear, children say. Karena anak juga punya hak jawab, kan? Berikutnya, saya kroscek dengan pihak sekolah, dan saksi-saksi yang menyaksikan kejadian tersebut.

Seharian dibawa kerja dan olahraga setelah pulang ngantor. Terbukti dapat menetralkan emosi saya, supaya nggak langsung menonjok batang hidung orang yang sudah membuat anak saya menahan nangis. Selain itu, kasih sugesti ke pikiran saya, masih banyak momen menyenangkan yang bisa kasih saya energi dan logika berpikir yang tetap sehat. Menyadarkan seorang Anita Desyanti, kalau kehidupan sebagai orangtua, nggak seberat itu, kok :D

Baca juga: 10 Perubahan Setelah Saya Memiliki Anak

1. Saat ngobrol dengan anak lanang saya eye level

Inget banget deh, saat Jordy lagi semangat cerita tentang kegiatannya di sekolah. Atau gimana serunya dia main di lapangan dekat rumah. Matanya juga berbicara banget, berbinar dan bangga dia sudah bisa mengendarai sepeda pemberian Kakek dan Neneknya. Binar mata Jordy, yang selalu ngingetin saya untuk berusaha dapat semangat baru di antara warna-warni emosi sebagai orangtua.

2. Hadir secara jiwa dan raga saat main sama anak

Menyimpan HP jauh dari jangkauan, dan melupakan sejenak pekerjaan kantor atau tagihan ini dan itu yang menumpuk, ketika main sama Jordy. Seperti mengembalikan energi positif saya sebagai ibu.

3. Ketika sentuhan fisik (berpelukan, pegangan tangan dan kecupan) jadi obat terbaik sepanjang masa

Saya bisa bilang, anak lanang saya jauh romantis dari pak suami. Buktinya? Jordy sering kali minta saya memejamkan mata, terus mencium pipi dan kening saya. Nggak jarang juga, jelang tidur kami berpelukan, dan pagi-pagi pas bangun anak ini bisa-bisanya lho, memandangi saya, senyum dan pegang-pegang tangan bundanya. Oase banget kan? Buat memulai hari, apalagi kalau sudah hari Senin, hihihi.

4. Milestone-nya yang bikin kangen

Mau huru hara segimananya saya menghadapi tantangan dunia parenting, ini sih yang juga bikin saya menyambung napas. Tahapan milestone Jordy sesuai usia, jadi salah satu prioritas saya. Meski nggak berjalan sempurna, setidaknya kami berjalan di atas track yang disarankan oleh dunia kedokteran anak.

5. Mendengarkan detak jantungnya

Ada yang pernah melakukan hal yang sama dengan saya? Saat menempelkan telinga ke dada Jordy, di situlah saya tersadar ada suara kehidupan. Suara yang menandakan, saya punya berkah luar biasa dari Tuhan, dipercayakan makhluk mungil ini untuk kami rawat, hingga sampai waktunya dia mandiri menjalankan takdirnya sendiri.

Satu lagi…, selama mengingat semua itu. Kalau saya nih, jangan lupa sambil minum kopi :)

Baca juga: Monica Christasia Maharani: Dari ibu yang bahagia dan hatinya tenang, menghasilkan hasil kerja maksimal, dan lebih berdaya.

*Artikel ini diadaptasi dari themilitarywifeandmom.com


Post Comment