Life After Divorce: Episode yang Tidak Menyenangkan

Mungkin, sebelum memasuki kehidupan pasca bercerai bagian yang menyenangkan, persiapkan diri kita untuk menghadapi kehidupan pasca bercerai bagian yang nggak menyenangkannya dulu.

Banyak dari kenalan saya yang menganggap bahwa perceraian tidak terlalu mempengaruhi saya. Di mata mereka, saya ya tetap Fia yang judes, jutek, asik-asik nyela orang, dan selalu ketawa-ketawa. Fia yang dunianya nggak berubah. Tetap menyenangkan. Dalam hati saya (yes…sukses pencitraan yang saya lakukan, hahaha).

Padahal, kalau boleh jujur dan nggak malu sama ‘citra diri’ selama ini, ahahaha, ya ada masa-masanya si Fia ini duduk ndeprok di lantai kamar sendirian, terus nangis tanpa suara selama 30 menit.

Beruntungnya saya, menjelang perceraian, seorang teman dekat sekaligus psikolog pernikahan mengingatkan saya bahwa jangan langsung berharap begitu putusan pengadilan keluar dan perceraian sudah sah maka semua masalah langsung hilang. Jadi, walaupun sudah banyak yang saya persiapkan, mulai dari diri sendiri hingga anak-anak, saya tetap menyiapkan diri (termasuk emosi) akan kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak menyenangkan.

Life After Divorce: Episode yang Tidak Menyenangkan - Mommies Daily

Baca juga:

8 Hal yang Saya Sukai Setelah Menjadi Single Mom

Jadi, sebelum kita merasa lega karena kita sudah nggak ribut-ribut lagi dengan pasangan, sebelum kita merasa lega merayakan ‘kebebasan’ kita, sebelum kita merasa lega dengan banyak hal, siapkan diri kita dengan beberapa kemungkinan berikut ini:

1. Anak-anak yang masih berada di dalam tahap marah

Saya pernah cerita kan sebelumnya, bahwa jauuuh sebelum proses perceraian terjadi, anak-anak sudah saya ajak ke psikolog anak agar mereka lebih siap secara mental. Bahkan mereka sempat mengatakan nggak masalah dengan perpisahan mama dan ayahnya. Ternyata yang terjadi, ada masa ketika mereka tidak nyaman dengan perubahan rutinitas yang terjadi lantas membuat mereka marah dengan kondisi yang ada. Saya mengalami betapa sulitnya memahami anak saya terutama yang sulung. Ada kalanya dia bahkan menyalahkan saya. Emosinya berubah-ubah. Sebentar ingin sama saya, kemudian ingin sama ayahnya, begitu terus. Kalau kita nggak sabar-sabarin hati, besar kemungkinan akan terjadi keributan antara kita dengan anak. Ini yang sempat membuat saya down luar biasa.

2. Mantan pasangan yang tiba-tiba merasa kehilangan kita

Yes, dalam kasus saya, tiba-tiba mantan suami mendadak berulang kali mengirimkan WA mengatakan kalau dia merindukan saya. Melakukan hal-hal romantis yang bahkan tidak pernah dia lakukan ketika kami masih menikah dulu. Kalau menurut psikolog saya, ini namanya “perceraian kedua.” Yaitu ketika semua rasa dan kenangan masa lalu tiba-tiba datang menghampiri dan membuat kita merindukan momen kebersamaan bersama pasangan.

3. Keluarga besar yang nggak bisa menghargai kesepakatan bersama

Antara saya dan mantan suami sudah sepakat nih, mengenai jadwal pengasuhan anak, mengenai aturan yang berlaku, dan sebagainya. Kemudian tiba-tiba, nongol keluarga besar yang asik mengacak-acak kesepakatan. Misalnya, ketika jadwalnya anak-anak bersama saya, mereka tiba-tiba mengajak anak pergi tanpa izin dulu ke saya. Atau ketika saya business trip dan menitipkan anak-anak ke ayahnya, kemudian mama saya komplein. Jadi, keluarga besar itu memang hobi ikut campur nggak peduli kita masih terikat dalam pernikahan atau sudah bercerai.

Kuncinya adalah: Sabar. Udah. Itu. Aja!


Post Comment