Pengakuan Mereka yang Merasa Telah Gagal Menjadi Ibu

Ditulis oleh: Febria Silaen

Pertanyaan ini menggelitik saya sebagai seorang ibu. “Kapan sih elo merasa gagal menjadi ibu?

Duh, kok ya kalau mau jawab bisa berlembar-lembar jawabannya. Terserah sih, para ibu di luar sana mau bilang saya lebay. Tapi kalau dilist satu demi satu dalam keseharian saya sebagai ibu bekerja ya, saya sih merasa kerap gagal menjadi ibu.

Hal-hal kecil dalam aktivitas mulai dari mengurus anak di pagi hari sampai menemani anak tidur itu saja sederet hal buruk menurut pandangan saya yang membuat saya suka terbawa perasaan kalau saya telah gagal menjadi ibu.

Misal, ketika anak saya memanggil nama saya berkali-kali di tengah saya lagi konsentrasi di dapur dengan ikan dan minyak panas. Saya sering kali menjawab dari dapur, tetapi tidak menghampiri. Karena saya lebih mementingkan untuk fokus kepada masakan dan takut terkena minyak.

Dan usai masak, biasanya saya baru menghampiri sambil sedikit ngomel bertanya. “Duh, kakak nggak tahu apa ya, ibu lagi menggoreng ikan. Kalau dipanggil terus jadi nggak konsentrasi terus ibu kena minyak panas, terus jadi luka. Kenapa sih, panggil ibu ? “

Begitulah kata pembuka saya yang panjang kali lebar untuk pertanyaan yang pendek. Dan dengan polos dan memelas biasa anak saya menjawab pendek. “Mau minta dipeluk ibu”.

Saya pun terdiam sambil menatap wajah anak perempuan saya yang masih malas-malasan tiduran di sofa. Saya tidak lagi menjawab dengan mulut yang mengoceh seperti di atas. Saya langsung memeluknya dengan erat dan saat itulah saya merasa sudah gagal menjad ibu. Saya gagal menjadi ibu buat anak perempuan saya.

Saya sering bertanya pada diri sendiri dan merasa apa sih susahnya menjadi ibu? Bukankan setelah hamil dan memiliki anak, jiwa keibuan kita seharusnya menuntun kita?

Dan ternyata saya nggak sendirian, yang merasa ada satu waktu atau kondisi yang akhirnya menjadikan kami sebagai ibu yang merasa gagal. Dan kok penyebab perasaan gagal ini disebabkan bukan oleh hal yang besar. Tetapi hal simpel, mudah atau mungkin dianggap remeh temeh oleh para orang lain. Istilahnya, ah baru gitu saja udah baper, merasa menjadi ibu yang tidak sempurna. Santai saja, sis.

Pengakuan Mereka yang Merasa Telah Gagal Menjadi Ibu - Mommies Daily

Berikut ini pengakuan para ibu yang senasib sama saya.

Desi Tamara, 38, ibu tiga anak, Ibu Rumah Tangga

“Pas anak-anak jatuh sakit. Pas anak-anak nggak doyan makan. Padahal sudah menyiapkan makanan yang enak. Di saat itu, saya merasa saya adalah ibu yang gagal. Kok anak-anak sakit, kok anak susah makan. Kok saya nggak bisa apa-apa.”

Sandra, 40, ibu satu anak, Pekerja Swasta

“Saat memutuskan bekerja. Saya merasa gagal plus merasa bukan ibu yang baik ketika tidak bisa menemani saat sakit atau ada acara di sekolah. Dan yang paling berat adalah, saya merasa menjadi ibu yang gagal karena meski sudah bekerja tetapi tetap tidak bisa memberikan sesuatu yang diminta anak”.

Indah Gerhana, 32, ibu satu anak, Ibu Rumah Tangga

“Ngomel dan ngomel. Penyebabnya karena hal sepele. Anak main terus, cengeng kalau diledekin temannya. Saat itu saya langsung menghakimi diri saya sebagai ibu yang tidak sempurna. Sudah memutuskan berhenti bekerja, di rumah kok banyak ngomel sama anak. Sedih.”

Widya, 38 tahun, ibu dua anak, Ibu bekerja

“Ketika baju sekolah anak ada yang robek dan belum sempat dijahit. Pas anak-anak teriak lapar tapi saya belum sempat masak. Ketika anak-anak ngajakin main, saya belum memberikan waktu. Dan sepertinya setiap saat saya merasa gagal menjadi ibu yang diharapkan karena belum bisa mewujudkan keinginana simpel mereka”.

Ina Sirait, 35 tahun, ibu dua anak, Perawat

“Waktu membentak anak padahal mereka hanya minta perhatian. Lelah dengan rutinitas sehari-hari membuat saya merasa bukan ibu yang sempurna.”

Ratu Siti, 37 tahun, ibu dua anak, Blogger

“Kayaknya semua hal bikin saya merasa gagal menjadi ibu. Saat anak jatuh padahal cuma beberapa detik diluar pengawasan. Itu rasanya kok fail banget jadi ibu.”

Siti, 37 tahun, ibu dua anak, Ibu Rumah Tangga

“Melihat anak doyan banget sama masakan buatan tetangga. Eh masakan ibunya sendiri nggak dimakan. Keknya gagal banget jadi ibu sempurna.”

Well, padahal saya dan kita semua tahu, nggak pernah ada kategori ibu yang gagal ataupun ibu yang sempurna. Itu semua hanya mindset, bukan.

Kalau pertanyaan ini diajukan ke mommies, kapan mommies merasa gagal menjadi ibu? Apa jawabannya?


Post Comment