Saat Teman si Anak Bersikap Jahat

Perilaku jahat adalah hasil belajar, sehingga kita perlu berkaca, ketika anak bersikap jahat, sudahkah kita mengajarkan kebaikan? Dan apa yang perlu kita lakukan?

Seorang teman di whatsapp group mengeluhkan soal dirinya yang dipanggil ke sekolah karena anak laki-lakinya dianggap bersikap jahat terhadap temannya. Yang ia keluhkan sebenarnya bahwa anaknya ternyata hanya terbawa dan ikut –ikutan temannya yang melakukan perilaku jahat tersebut, karena sebenarnya menurut teman saya ini, anaknya sebenarnya baik-baik saja.

Saya jadi penasaran, dan langsung diskusi sama mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, sebenarnya yang tergolong perilaku jahat itu yang bagaimana, sih? Bedanya sama perilaku kasar apa? Bagaimana dengan perilaku jahat terhadap binatang?

Saat Teman si Anak Bersikap Jahat - Mommies Daily

Kasar sama jahat itu ternyata berbeda

Kalau menurut mbak Vera, perilaku kasar sebenarnya dilihat lebih kepada seorang anak itu mungkin nggak sadar apa yang dilakukannya bisa menyakiti orang lain. Misalnya, nih, ketika seorang balita belum tahu apa artinya berbagi, sehingga ia suka merebut mainan atau makanan dengan kasar dari temannya. Sementara perilaku jahat bisa disebut bahwa anak secara sadar, dan berniat untuk menyakiti orang lain, baik secara verbal maupun fisik (kata lainnya bullying).

Perilaku jahat adalah hasil belajar

Berlaku jahat kepada teman, atau kepada binatang (dalam hal ini suka menyiksa) bisa dipastikan merupakan hasil belajar anak dari lingkungan. Menurut mbak Vera lagi, nggak ada anak yang terlahir dengan maksud jahat. Sangat mungkin bahwa anak sering melihat perilaku jahat tersebut, atau mengalaminya secara langsung sehingga menurutnya itu adalah hal yang sangat wajar.

Yang harus ditanamkan pada anak supaya nggak ikut jahat seperti teman

Bagaimana pun saat anak sudah masuk usia sekolah, dan bersekolah ia akan bertemu dengan berbagai macam karakter teman. Kita nggak pernah bisa tahu seperti apa karakter yang akan menjadi teman anak. Ketika akhirnya dia memiliki teman yang berlaku jahat, kita bisa tanamkan poin-poin berikut ini:

• Penting bagi anak kita untuk sedikitnya paham, tentang mengapa temannya memiliki perilaku jahat. Jelaskan padanya, mungkin saja ia terbiasa menerima perlakuan kasar juga di rumahnya. Pemahaman ini penting untuk mendukung pemahaman bahwa perilaku tersebut tidak dibenarkan.
• Perilaku jahat bagaimana pun tidak bisa dibenarkan karena sudah pasti akan menyakiti orang lain. Berikan contoh, misalnya ketika ia sendiri diperlakukan seperti itu, tentu dirinya juga akan merasakan sakit, jadi jangan ditiru.
• Tanamkan pada anak bahwa cara menyelesaikan konflik atau masalah dengan kekerasan merupakan cara terendah derajatnya. Kita bisa bantu mendorong anak untuk melakukan solusi yang lebih baik untuk membuktikan bahwa dia tidak sama dengan temannya yang jahat tersebut.
• Carikan kelebihan atau dukung hobi anak yang bisa ia banggakan. Ini sangat berguna untuk mencegah anak ikut-ikutan. Dalam pergaulan, terutama di sekolah, terkadang perilaku jahat atau bully terlihat keren karena mereka merawa powerful dan mendapatkan atensi.

Berikan solusi apa yang harus dilakukan saat melihat temannya berperilaku jahat

Pada dasarnya hal terbaik dan teraman yang bisa dilakukan anak adalah melaporkannya pada guru. Hanya saja terkadang ada anak-anak yg takut dibilang tukang “ngadu” lalu dijadikan sasaran bully berikutnya. Mungkin kita bisa bantu memberikan solusi bagaimana caranya melapor tanpa ketahuan dan nggak kelihatan jadi pengecut. Tekankan bahwa ini menjadi tanggung jawabnya juga untuk menghentikan perilaku jahat temannya itu.

Kalimat yang bisa diajarkan ketika harus menolak diajak berbuat jahat

Butuh bantuan kalimat tepat yang bisa diucapkan anak saat dipaksa ikut berbuat jahat? Anak bisa diajarkan berkata seperti, “Stop! Aku tidak suka berbuat seperti itu” atau “Itu salah, aku tidak mau menyakiti orang lain, atau binatang.” Lalu ajarkan anak untuk langsung menjauh. Jika memungkinkan bantu anak untuk mencari teman yang lain. Terkadang ada anak yang ikut-ikutan hanya demi punya teman saja.

Bagaimana kalau anak sendiri yang berperilaku jahat?

Sebagai orangtua, bantu anak melihat akibat dari perbuatannya, terutama ketika ia sudah menyakiti fisik temannya. Tunjukkan padanya bahwa temannya menjadi sakit, dan minta ia berani untuk minta maaf. Jika ia menyakiti binatang, ajak ia membawa binatang tersebut untuk diobati. Jangan lupa juga untuk mengevaluasi kembali pola asuh yang kita terapkan di rumah dan apa yang selama ini terjadi. Mbak Vera juga menegaskan, khusus untuk anak yang berulang kali menyakiti binatang, perlu diajak berkonsultasi ke psikolog atau psikiater anak.

Semoga membantu ya, Mom. Satu poin yang saya ingat banget saat berdiskusi dengan mbak Vera, bahwa perilaku jahat adalah hasil belajar. Sehingga kita perlu berkaca, ketika anak bersikap jahat kepada teman atau lingkungannya, sudahkah kita mengajarkan kebaikan?


Post Comment