Nak, Jangan Sembarangan Bercanda, ya!

Apa aturan main tentang bercanda yang bisa kita ajarkan kepada si kecil? Menghindari, candaan berujung mencelakai orang lain.

Masih ingat kah dua artikel MD yang baru saja publish? Terkait mencuatnya kasus pemerkosaan yang dilakukan 6 anak, kepada anak perempuan berusia 8 tahun di kawasan Bogor.

Baca juga:

Kenapa Semakin Banyak Anak di Bawah Umur yang Melakukan Tindak Pemerkosaan?

Penanganan Tepat untuk Anak Korban Pemerkosaan

Dari kronologis yang saya baca di Sindonews.com. Disebutkan, kejadian ini berlangsung siang hari, saat korban sedang bermain bersama para pelaku. Korban ditarik oleh salah satu pelaku ke samping rumah.

Nak, Jangan Sembarangan Bercanda, ya! - Mommies Daily

Entah apa yang di benak para pelaku yang masih anak-anak, sampai akhirnya tega menggagahi teman sepermainan mereka. Satu hal yang perlu digarisbawahi, kata Mbak Vera Itabiliana Psikolog Anak dan Keluarga dalam artikel Kenapa Semakin Banyak Anak di Bawah Umur yang Melakukan Tindak Pemerkosaan?, “Pada dasarnya anak tidak terlahir dengan pemikiran dan niat nyang jahat. Anak tidak terlahir dengan guidance bagaimana mereka memperlakukan sesama mereka. Kalau pada akhirnya anak melakukan hal-hal yang mengerikan, semua kembali kepada lingkungan tempat mereka bertumbuh dan berinteraksi.”

Berdasarkan penyataan Mbak Vera di atas, bisa jadi, para pelaku berpikir ini adalah ajang bercanda, dan yang korban juga belum paham, ia sedang berada di tengah kondisi yang mengancam keselamatannya. Terlepas dari kasus tersebut, sering juga kan kita mendengar candaan di kalangan anak-anak, yang berujung salah satunya terluka? Misalnya sepupu saya waktu usia TK, didorong saat main ayunan, hingga mengalami cedera.

Keadaan ini digambarkan Mbak Vera, “Anak belum sepenuhnya paham akan apa akibat atau konsekuensi dari apa yg dia katakan atau lakukan pada orang lain. Jadi mereka perlu diajarkan batasan bercanda itu adalah ketika sudah ada pihak yg tersakiti/tidak nyaman/tidak suka akan hal itu.”

Contoh sangat sederhana yang bisa mommies berikan, misalnya kata Mbak Vera: bilang ke anak bahwa memukul/mendorong/menarik kursi saat ada org yg akan duduk, itu tidak bisa dikatakan bercanda karena sudah menyakiti orang lain. Poinnya, jika teman bermain sudah merasa tidak nyaman, anak harus minta maaf.

Ajarkan pula, mengenali saat temannya merasa tidak suka dengan candaan yang diterima. Signal penting yang wajib dikenali anak: wajah yang cemberut, menjauh, teriak karena rasa jatuh, kesakitan dan sebagainya.

Sebaliknya, anak juga didorong buat berani bilang tidak suka, jika ada temannya yang bercanda kelewatan. Mbak Vera menyebutnya, ajarkan anak untuk ASERTIF. “Stand up form him/herself”, artinya mampu mengutarakan perasaan/pikirannya tentang sesuatu khususnya saat dia merasa tersakiti. Caranya? Melalui role play. Mommies bisa jadi teman yang “bercanda” dengan si kecil, dan latih dia bagaimana untuk bersikap. Contohkan pada anak, saat role play itu, anak bercanda mendorong misalnya, mommies merespond dengan kalimat, “ Stop! Aku nggak suka!.” Sambil kasih ekspresi marah.

Khusus soal ekspresi ini, saya jadi teringat buku cerita anak-anak, yang menyelipkan nilai edukasi pentingnya, mengenali bentuk emosi pada dirinya sendiri maupun orang lain. Salah satunya, buku dongeng untuk bayi dan anak seri “Hmm…” dari Rabbit Hole. Di situ, mommies bisa mengajarkan cara anak mengenali bentuk ekspresi dengan cara menyenangkan.

Selama masih ada di tahap perkembangan anak, Mbak Vera mengingatkan anak masih butuh bimbingan untuk membedakan, mana yang benar-benar bercanda, mana perlakuan yang sedang mengancam keselamatan dirinya. “Saat remaja pun mereka masih sulit untuk tidak melakukan bercanda berlebihan karena ada dorongan untuk mengambil risiko/melakukan hal-hal berbahaya dan mereka juga belum mampu melihat konsekuensi dari apa yang mereka katakan atau lakukan,” tutup Mbak Vera.

Jadiii, diperlukan pembelajaran seumur hidup untuk mendampingi anak-anak kita, ya, mommies. Semangat, dan jangan pernah lelah untuk belajar :)

 


Post Comment