Penanganan Tepat untuk Anak Korban Pemerkosaan

Di tengah situasi marah, kesal bahkan kalut. Apa yang bisa dilakukan orangtua dan support system untuk membuat anak (kembali) mendapatkan kenyamaman dan merasa dilindungi?

Lagi dan lagi, pelecehan seksual terhadap anak-anak terjadi. Saya yang tidak kenal siapa korbannya, merasa marah, sedih, ingin menghampiri dan peluk dia. Tak ingin membayangkan, perasaan dan pemikiran seperti apa yang berkecamuk dalam diri seorang anak perempuan 8 tahun, pasca mengalami kejadian keji yang dilakukan 6 pelaku yang juga di bawah umur. *ya Tuhan makin ingin nangis.

Baca juga: Kenapa Semakin Banyak Anak di Bawah Umur yang Melakukan Tindak Pemerkosaan?

Penanganan Tepat untuk Anak Korban Pemerkosaan - Mommies DailyImage: Tai Jyun Chang on Unsplash

Perasaan marah wajar saja muncul, tapi kata Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog Anak dan Keluarga, jika ingin memberi pertolongan pertama pada korban pemerkosaan di bawah umur. Kendalikan emosi kita terlebih dahulu, terutama orangtua dan support system-nya. “Tenangkan diri, walau berat untuk dilakukan, harus diingat: anak ini butuh kita orangtuanya. Untuk tidak marah dan lebih hancur dari dia. Terlebih usia 8 tahun sudah cukup mengerti apa yang terjadi pada dia. Peluk dia, biarkan anak ini menumpahkan berbagai bentuk emosinya. Marah, kesal, bingung, dan sebagainya. Tenangkan dia. Pastikan dia aman.”

Berikutnya, Mbak Vera menekankan, jangan pernah memojokkan atau menyalahkan korban. Pilih dengan sangat hati-hati setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita. Misalnya, hindari mengatakan:

“Kamu sih, mainnya di sana.” “Kamu sih, nggak pamit.”

Kalimat semacam ini kalau didengar anak, maka persepsi yang muncul dirinya yang bersalah. Padahal dia adalah korban. Ganti dengan pernyataan yang mempunyai makna:

Kejadian ini bukan salahnya dia, tapi salahnya para pelaku. Ceritakan juga, sekarang para pelaku sedang diproses hukum, pelakunya sudah ditangkap dan segera mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya. Dijelaskan apa yang sedang terjadi sekarang.

Mengapa hal di atas sangat penting untuk dilakukan?

“Tujuannya untuk kepentingannya korban. Justru hal ini dilakukan untuk menenangkan dia. Kita kan juga harus menyiapkan anak ini untuk proses pengadilan, masih panjang  sekali perjalanannya. Itu berat untuk anak. Menceritakan dan mengulangi apa yang ia alami,” jelas Mbak Vera.

Fase emosi yang akan dialami korban pemerkosaan

Tahapan emosi yang akan dialami korban tergantung dari kemampuan kognitif atau berpikir anak. Semakin memahami apa yang telah terjadi, justru emosinya semakin kompleks.

Contoh:

Sekarang, misalnya anak hanya memahami, “Teman-teman laki-laki aku menyakiti aku.” Yang terbatas pada pemahaman, dampak rasa sakit pada bagian tubuh tertentu yang anak rasakan. Namun tetap ada kemungkinan, akan muncul bentuk emosi ringan, seperti marah dan takut ketemu dengan teman laki-laki.

Beda hal, kata Mbak Vera. Jika yang bersangkutan sudah memahami dirinya menerima perlakuan tidak senonoh dari laki-laki. “Akan lebih banyak lagi atau komplek warna emosi yang bisa keluar. Itu nggak harus terjadi sekarang, itu bisa terjadi nanti. Tergantung perkembangan usia dia. Misalnya, akan meningkat pas dia sudah mau pacaran atau cari pasangan hidup. Itu pasti akan teringat lagi peristiwa tersebut seperti apa, artinya akan menjadi referensi dia lagi. “Saya pernah diperkosa. Pasangan saya mau terima nggak ya?.”

Selanjutnya Mbak Vera menjelaskan. Korban pemerkosaan, penting untuk bisa menerima bahwa hal ini sudah terhadi. Mind set “Kejadian ini tidak mengubah dirinya sendiri, dan dia tetap bisa jadi seseorang nantinya. Itu PR-nya dia, dibantu sama lingkungan,” harus ditanamkan pada si anak.

Jangan paksa anak langsung beraktivitas seperti sedia kala

Kuncinya ada di kesiapan anak! Jika anak masih dalam keadaan shocked, Mbak Vera menyarankan, nggak masalah di rumah dulu. Atau mulai dari teman-temannya yang dating ke rumah. Tapi harus dipantau juga, jangan sampai tamu yang datang membicarakan hal ini terus menerus sama korban. Jadi jangan diungkit terus menerus. Begitupun dengan orangtua.

Dalam kasus serupa yang pernah ditangani Mbak Vera, scenario terburuk jika anak masih enggak bersosialisasi. Orangtua bisa mencari lingkungan baru untuk meringankan beban anak. Artinya, pindah rumah dan sekolah.

Pembahasan kejadian ini, cukup pas ada kebutuhan saja. Misalnya pas mau ke kantor polisi. Poinnya, kalau anak nggak memulai pembicaraan, jangan pernah membahas kejadian pilu yang ia alami.

Di tengah proses hukum dan recovery anak. Mbak Vera berpesan, waspada juga dengan ciri-ciri anak yang mengalami depresi. Di antaranya:

  1. Murung, mood-nya datar saja. Nggak kelihatan bahagia
  2. Terus dia menarik diri. Tidak mau bergaul, maunya di rumah saja
  3. Mulai ada gangguan pola makan dan tidur. Nggak mau makan atau malah makannya sangat banyak. Tidur juga seperti itu, nggak bisa tidur atau tidur terus menerus.
  4. Ada keinginan untuk bunuh diri.

Siapapun kita, saatnya bersuara melawan kekerasan seksual pada anak.


Post Comment