Helga Angelina, Ganti 4 Asupan Ini untuk Menikmati Hidup Berkualitas di Hari Tua

Pola makan sehat nggak cuma membebaskan Helga Angelina dari berbagai penyakit ia yang idap. Hikmah paling besar, kini Helga dan suaminya punya restoran Bugreens. “Curi” ilmu gaya hidup sehat Helga, yuk! Dari hal yang paling mudah, dan bisa dipraktikkan untuk keluarga.

Sempat mengalami ashma, sinusitis, exim dan alergi terhadap 20 jenis makanan. Helga Angelina, lelah menjalani berbagai macam pengobatan. Di usianya yang menginjak 15 tahun, ia dirawat karena ada kristal di ginjal dan masalah liver, penyebabnya, akumulasi mengonsumsi obat-obatan untuk berbagai penyakit yang ia derita.

Helga Angelina, Subtitusi 4 Asupan Ini untuk Menikmati Hidup Berkualitas di Hari Tua - Mommies Daily

Langkah awal Helga terbebas dari obat-obatan

Merasa tak bisa terus-terusan menjalankan hidup yang tergantung dengan obat. Helga dewasa mulai melakukan riset. Di antaranya membaca buku yang ditulis oleh dokter, dengan tema yang berkaitan dengan isu kesehatan yang ia alami.

“Yang pertama buku dr. Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme. Dia melakukan percobaan membedah manusia yang sehat dan sakit. Sakit yang tidak menular, seperti kanker, jantung, dan lain-lain. Sama satu lagi, teori Bruzzone, ini adalah medical research, yang mempelajari pola makan orang-orang yang umurnya paling panjang di dunia dan paling sehat,” kata Helga.

Menurut Helga, dari buku dr. Hiromi Shinya yang ia baca, , 85% orang yang sehat, itu 85% makanannya plant based. Yaitu buah-buahan, gandum, buah-buahan, kacang-kacangan dan biji-bijian. Jadi kalau orang yang dikatakan makan sehat, tidak hanya makan sayur-sayuran saja. Harus ada unsur lain, seperti protein dan lemak.

Berikutnya, teori Bruzzone, yang mengatakan 95%, yang dimakan sama orang-orang yang hidupnya paling panjang, adalah plant based, terus 5%-nya mereka makan animal protein, animal fat dan procced food, misalnya roti putih. “Terus teori itu bilang, cara sehat itu simple banget: 50% sayuran, sebisa mungkin dalam bentuk paling alami, atau mentah, 25%-36% karbohidrat baik/lemak baik,” jelas Helga mengulang esensi teori Bruzzone.

Setelah mengadopsi pola makan dari dr. Hiromi Shinya dan teori Bruzzone, selama dua tahun. Helga benar-benar terbebas dari sekian penyakit yang sempat ia alami, “Saya berangsur sembuh, sampai sekarang malah benar-benar hilang. Sudah 10 tahun, bebas dari mengonsumsi obat-obatan. Saya ke dokter, hanya ke dokter gigi saja. Karena itu juga, membuat bisnis yang mempromosikan gaya hidup sehat,” pungkas Helga.

Helga dan suami giat belajar

Selain buku dan teori tentang kesehatan, ada lagi sumber Helga belajar, yaitu film dokumenter yang juga mengangkat isu kesehatan manusia. Film “What the Health” dan “Forks Over Knives.” “Film-film tadi melibatkan dokter-dokter, jadi bukan yang orang yang berpendapat, tapi film yang dibuat berdasarkan penelitian dokter atau evidence based yang sudah puluhan tahun. Misalnya “Forks Over Knives”, film dari hasil penelitian selama 20 tahun, tentang pola makan dan hubungannya dengan kesehatan,” jelas Helga.

Helga Angelina, Subtitusi 4 Asupan Ini untuk Menikmati Hidup Berkualitas di Hari Tua - Mommies DailyImage: IG @helgaangelina

Begitupun dengan Max Mandias, suami Helga. Semaca masa pacaran, dirinya sudah terpapar kebiasaan pola makan sehat Helga. Kini Mx bertindak sebagai Executive Chef Burgreens. Dia mengambil kursus online sebagai nutrisionis, dengan T. Colin Campbell, PhD . Dokter yang disebut-sebut Helga dalam film “Forks Over Knives”,  yang telah melakukan penelitian 20 tahun untuk film tersebut. Helga akui, kini bahkan Max lebih passionate ketimbang dirinya. Hasilnya juga nyata setelah Max ikutan menjalankan pola makan sehat. Berat badannya menyusut sekitar 20 kg, awalnya 90 kg, kini BB-nya ada di 70 kg.

Kiat Helga, seputar bahan-bahan makanan yang bisa mommies ganti

Tak mau nanggung, dalam sebuah acara yang juga mengusung pentingnya menjaga pola hidup sehat. Saya sekalian saja, “mencuri” ilmu dari perempuan mungil dan ramah ini. Supaya mommies juga bisa praktik, bahan-bahan makanan apa saja sih, yang sebetulnya bisa diganti supaya kualitas kesehatan anggota jauh lebih sehat.

1. Minyak sawit ganti dengna minyak kelapa

Penjelasan Helga:

Minyak kelapa sawit itu sebetulnya berbahaya, meskipun nabati, tapi dia itu kalau misalnya dipanaskan, itu langsung jadi kolesterol, transfat. Bentuknya jadi seperti animal fat. Yang paling baik itu, diganti dengan coconut oil. Jangan ke Canola, Olive atau minyak jagung. Karena tiga minyak yang barus saja saya sebutkan, itu adalah minyak yang bagusnya dimakan tanpa dimasak. Karena mereka titik didihnya rendah. Kalau coconut oil, dia titik didihnya tinggi. Jadi misalnya kita panaskan sekali dia aman, nggak jadi transfat.

2. Gula putih atau gula pasir ganti dengan gula jawa atau madu

Penjelasan Helga:

Saya sudah tidak makan gula. Jadi saya dapat gulanya dari buah, nasi cokelat. Hanya saja kalau orang masih pingin bikin cake, bisa pakai lontar nectar, coconut nectar. Kalau misalnya nggak bisa menemukan dua jenis gula ini. Bisa pakai gula jawa atau madu, karena mereka secara nutrisi, mereka masih mengandung nutrisi, vitamin dan mineral. Tapi glikemik indeks-nya lebih rendah, dibandingkan gula putih. GI, itu kalau kita makan dulu dan tidak banyak bergerak itu akan berubah menjadi lemak. Nah, kalau makanan yang G-nya rendah, dia prosesnya seperti karbohidrat kompleks, lebih lama untuk diubah menjadi gula darah, dan lebih lama juga untuk jadi lemak. Lebih aman, untuk orang yang nggak terlalu banyak aktivitas fisik.

3Alternatif sumber protein

Penjelasan Helga:

Nah, kalau saya memang sudah tidak makan daging, unggas dan ikan. Karena selain masalah kesehatan. Daging dan ikan itu zaman sekarang banyak hormone antibiotic, logam-logam berat, bahkan plastik. Nah saya ganti sumber protein dengan tempe, tahu, kacang merah, kacang hijau, kacang hitam. Bahkan sumber protein kacang-kacangan ini lebih bagus, karena lebih mudah diserap tubuh. Kalau animal protein harus kita breakdown dulu menjadi asam amino. Baru bisa dibangun tubuh menjadi, human protein. Kalau kacang-kacangan, kita langsung makan asam amino. Dan dia mengandung lemak baik, sebetulnya bikin cepat kenyang dan nggak ada efek samping kolesterol dan transfat. Selain itu saya juga makan jamur.

Karena sebetulnya penyakit stroke, kanker, diabetes itu sudah diteliti selama puluhan tahun oleh para dokter. Kalau misalnya animal protein dikonsumsi lebih dari 15% dalam jangka waktu panjang, risiko tiga penyakit ini naik.

4. Alternatif sumber karbohidrat

Penjelasan Helga:

Sumber karbohidrat yang kurang baik itu sebetulnya nasi putih dan roti putih. Karena dia mudah banget diubah menjadi gula, dan sudah melalui proses. Saya gantinya dengan beras merah, beras cokelat, dan umbi-umbian. Jadi kalau ada anggota keluarga yang kena kanker atau mau menurunkan berat badan, perbanyak konsumsi umbi-umbian. Dibakar atau dikukus tapi, ya, jangan digoreng.

Burgreens hadir karena Helga ingin orang makan sehat tapi tetap enak!

Namanya makanan sehat, identik dengan rasa biasa saja. Nah, Helga nggak mau anggapan ini selamanya ada. Ia bilang. “Saya percaya banget kalau mau makan sehat, supaya berkelanjutan, makanannya harus enak. Makanya saya dan suami, Max. Bagaimana caranya kita bisa bikin orang-orang yang mau makan sehat tidak menderita.”

Di akhir tahun 2013 akhirnya Burgreens berdiri. Tantangan terbesar bisnis restoran organic health fastfood yang diusung Burgreens, adalah mengedukasi masyarakat untuk makan sehat. Ia memulai masuk ke berbagai komunitas, untuk sharing ilmu seputar pentingnya makanan sehat untuk tubuh, gizi seimbang dan sebagainya.

Kini Helga dan Max bisa bernapas lega. “Setelah 2 tahun, lama-lama pasarnya juga naik. Dari situ kami merasa masyarakt sudah lebih teredukasi. Kami buka cabang di daerah tertentu, sudah langsung ramai. Karena orang-orang sudah lebih aware, kualitas hidup itu tergantung, dari pola makan sehat!,” tutup Helga.

Bagaimana dengan mommies? Yuk, dimulai dengan ganti 4 asupan atau bahan makanan yang tadi Helga bilang. Saya di rumah, sudah 3 bulan terakhir mengganti minyak sawit ke minyak kelapa. Ternyata dari segi rasa sama saja kok, malah jauh lebih sehat, kan? :)


Post Comment