Single Mom Survival Guide: Ivy Aralia Nizar – Life After Divorce is Fantastic!

“Saya mencoba seimbang dalam arti bahwa saya nggak boleh lupa kalau saya itu juga seorang manusia, yang punya kebutuhan personal. Bahwa hidup saya tidak hanya untuk anak saja, tapi saya butuh memenuhi kebutuhan personal saya.”

Menjalani peran sebagai single mom selama 14 tahun untuk anak semata wayangnya yang bernama Haesel Coryl Nizar sekaligus menjadi founder dari Ampersand Studio tentu bukan hal yang mudah. Namun Ara bisa dengan yakin mengatakan bahwa bercerai adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah dia ambil dalam hidupnya. Bagaimana dia menjalaninya?

Single Mom Survival Guide: Ivy Aralia Nizar – Life After Divorce is Fantastic! - Mommies Daily

1. Moving on tips seorang Ara?

Kebetulan waktu proses perceraian berlangsung, saya baruuuu aja mulai bekerja. Jadi bisa dibilang ada suasana baru yang menjadi distraction bagi pikiran saya. Jadi tips pertama saya adalah lakukan sesuatu hal baru yang berbeda dari kebiasaan kita selama ini untuk menjadi good distraction. Sesuatu yang baru, namun berdampak positif bagi hidup kita. Do something new yang menambah skill kita.

Kedua, lakukan sesuatu yang membuat KITA happy. Go out, meet with our friends, have a weekend getaway with your best friend dan lainnya. Intinya adalah diri kita sendiri dulu. Jangan malah hanya fokus sama anak, takut anak sedih, takut anak ini itu, sampai kita lupa untuk bahagia. Saya percaya banget kalau anak itu tergantung sama kita sebagai orangtua. Kalau kita bahagia, anak otomatis terbawa bahagia. Kalau kita nggak happy, anak juga bisa merasakan itu dan kebawa nggak happy.

2. Bagaimana life after divorce?

Bercerai adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya lakukan di sepanjang hidup saya. Mungkin karena saat mau bercerai saya sudah merasa yakin, saya nggak bertanya ke siapa pun, bahkan ke orangtua saya, saya percaya penuh pada feeling saya, jadi ya hidup saya dan Haesel juga baik-baik saja setelah perpisahan ini terjadi. Sepanjang kita yakin dengan keputusan yang akan kita ambil, percaya deh, semua akan berjalan baik.

Apalagi memang hubungan saya dan mantan suami itu dulu parah banget, dan saya nggak mau Haesel berpikir bahwa pernikahan itu ya seperti itu, which is not! Saya ingin Haesel tumbuh dalam rumah yang penuh cinta, saya ingin ngasih lihat Haesel kalau love can be good with the right person.

Saya bersyukur punya support system yang menunjukkan banyak cinta bagi saya dan Haesel. Kami nggak pernah kekurangan kasih sayang, perhatian dan perlindungan serta cinta. Life after divorce is fantastic.

3. Bagaimana menjaga hubungan baik dengan mantan suami?

Well, setelah bercerai, mantan suami ‘menghilang’, dia menikah lagi dan sibuk dengan keluarga barunya. Karena dia nggak pernah ada, jadi saya nggak perlu menjaga hubungan apa pun, hahahaha. Tapi satu hal yang selalu saya jaga, saya tidak pernah menutup jalur komunikasi. Dia tahu semua kontak saya, sehingga kapan pun dia mau menghubungi saya, dia bisa melakukannya.

Prinsip saya, bagaimanapun bentuk hubungan saya dengan mantan suami, dia tetap ayah dari anak saya dan Haesel tetap mempunyai hak untuk bertemu ayahnya. Saya juga kadang-kadang menyapa mantan suami, bertanya kabarnya, untuk memastikan kalau dia masih hidup, ahahahaha, semua demi Haesel. Kalau suatu hari Haesel ingin bertemu ayahnya, saya harus bisa mencari ayahnya.

Satu hal lagi, saya tidak pernah menjelekkan mantan suami satu kali pun ke anak saya. Kalau Haesel bertanya kenapa kami berpisah, saya hanya mengatakan bahwa pernikahan saya dan ayahnya tidak bisa berjalan dengan baik, dan it’s better this way. Akhirnya Haesel bisa melihat sendiri karena ayahnya memang tidak pernah ada.

4. Tiga kekhawatiran terbesar pasca bercerai dan bagaimana menyiasatinya?

Di awal perceraian, saya takut jika mantan suami mengambil anak saya. Akhirnya saya memastikan bahwa Haesel tidak pernah sendirian, bahkan saat di rumah sekali pun. Selalu ada anggota keluarga yang menemani Hae. Di sisi lain, saya juga bersikap terbuka mengenai perceraian saya pada pihak sekolah.

Berikutnya adalah masalah kewarganegaraan, karena kan ayahnya Hae adalah WNA. Saya berusaha sebisa mungkin mengganti kewarganegaraan Hae melalui bantuan pengacara.

Dan terakhir adalah, saya sempat khawatir jika suatu saat Haesel bertanya apa yang terjadi pada orang tuanya. Biasanya kalau dia bertanya, saya menjelaskan satu per satu agar tidak terlalu banyak informasi pada waktu bersamaan. Bersyukurnya saya adalah, sekolah Haesel bukan tipe sekolah yang menganggap bahwa konsep keluarga itu harus terdiri dari Ayah, Ibu dan anak. Sekolahnya mengajarkan bahwa konsep keluarga itu bisa berbeda-beda dalam setiap keluarga.

5. Tiga hal yang membuat life after divorce akan baik-baik saja!

Saya hanya mencoba menjalankan tanggung jawab saya sebagai seorang ibu dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja. I have my faith, itu yang pertama.

Kedua, saya mencoba seimbang dalam artian saya nggak boleh lupa kalau saya itu juga seorang manusia, yang punya kebutuhan personal. Bahwa hidup saya tidak hanya untuk anak saja, tapi saya butuh memenuhi kebutuhan personal saya. Menjadi orangtua kan bukan berarti kita nggak boleh bersenang-senang, kan?! Kita memiliki kebutuhan dan keinginan. Lakukan dalam batas-batas wajar. Dua aja ya, ahahaha.

6. Punya sosok single mom yang menjadi panutan?

I don’t have, to be honest. Saya selalu menaruh respek terhadap seluruh ibu yang bisa seimbang dalam menjalani hidupnya. Maksudnya, dia bisa seimbang mengurus anak, mengurus pekerjaannya, namun juga tidak melupakan kehidupan personalnya. Setiap ibu yang bisa juggling dengan kesehariannya, buat saya , itu keren!


Post Comment