Haruskah Selalu Anak yang Jadi Prioritas Dalam Segala Suasana?

Betul, ketika kita memiliki anak, kita harus mampu menekan ego hingga kebutuhan kita sendiri (yang setuju, cung!) Tapi apa semua-muanya, anak harus jadi selalu nomor 1? Buat saya nggak. Sebelum kontra, mungkin mau baca dulu alasan-alasan saya di bawah ini.

Haruskah Selalu Anak yang Jadi Prioritas Dalam Segala Suasana? - Mommies Daily

Saya mau anak-anak belajar sabar

Saat saya lagi makan dan tiba-tiba Awan minta dibikinkan teh, saya nggak serta merta berhenti makan dan memprioritaskan bikin teh. Saya minta dia menunggu, baru bikin teh manis kesukaannya. Waktu sedang deadline menyelesaikan pekerjaan, dan Rimba out of the blue punya kesadaran tinggi minta diajarkan membaca pakai buku favoritnya, saya nggak lantas memundurkan deadline dan langsung mengajarkannya membaca. Saya minta ia menunggu hingga waktu tidur, dalam keadaan relaks, kami membaca bersama buku kesayangannya.

Kenapa? Iya, saya nggak mau anak-anak jadi egois. Saya mau anak-anak belajar sabar. Nggak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga, lho. Kalau di rumah saja ia sudah nggak sabaran, bagaimana dia menghadapi hal sederhana semacam antre di tempat umum misalnya?

Saya nggak mau anak-anak semena-mena

Ini, nih, yang paling saya anti. Contohnya nyata, seorang teman yang berniat pergi ke kondangan. Hanya karena si kecil ngamuk, ngambek, dan maunya cuma pergi ke Mal, maka prioritas mereka berubah. Padahal pergi ke kondangan sudah jadi daftar prioritas mereka hari itu. Buat saya, prioritas nggak bisa diubah dengan cepat cuma karena anak ngambek. Kalau anak tiba-tiba demam, ya, saya setuju untuk nggak jadi pergi. Stand by di rumah karena anak panas tinggi. Buat saya, bahaya kalau anak sadar betul, bahwa dirinyalah prioritas utama orangtuanya. Kecenderungan untuk bersikap semena-mena jadi lebih besar.

Saya mau anak-anak juga belajar apa itu prioritas

Dengan dia belajar bahwa nggak semua kebutuhan dan keinginan dia itu diprioritaskan, secara nggak langsung saya juga bisa mengajarkan mereka apa makna prioritas itu sendiri. Mungkin nggak secara teori, tapi secara praktik. Misalnya, ketika saya berniat membelikan Awan laptop untuk kebutuhan belajarnya, ia malah nawar. Ketika tahu harga laptop mirip dengan harga console game idamannya, ia bilang nggak butuh komputer. Komputer bisa pakai punya mama. Jadi ia memprioritaskan console game daripada komputer. Saya nggak langsung melarang, sih, tapi kemudian menjelaskan fakta-fakta bahwa saat ini prioritas utama bukanlah console game, tapi laptop. Komputer sendiri lebih dibutuhkan untuknya mengerjakan tugas sekolah atau browsing materi bahan pelajaran. Jauh lebih banyak hal yang bisa dilakukan oleh laptop dibanding console game.

Saya juga butuh quality time

Kedengerannya klise, ya? Tapi itu benar banget. Bayangin aja kalau kita selalu memprioritaskan waktu kita untuk anak, anak, anak terus, kapan punya waktu untuk merawat diri (nanti kalau nggak merawat diri , salah lagi di mata suami *curcol)? Kapan ada waktu bersosialisasi dengan teman senasib sepenanggungan? Ingat, ibu itu juga makhluk sosial, butuh curhat, ceunah. Ya, kan? Ngaku, deh.

Kita juga butuh waktu untuk mengisi kebutuhan fisik dan jiwa dengan ngegym, yoga, baca buku favorit, nonton film, atau serial drakor kecintaan. Nggak, saya nggak lagi becanda. Semua yang saya sebut di atas bisa bikin seorang wanita itu bahagia. Bukankah untuk menciptakan keluarga yang bahagia, ibunya harus dibikin bahagia dulu? *kemudian sayup-sayup terdengar,”Ah aku bahagia kalau anakku bahagia.” Duileee…

Intinya gini, deh. Memprioritaskan anak itu utama dalam mengasuh dan membesarkan anak. Tapi buat saya, lihat prioritas yang gimana dulu. Nggak semua kebutuhan anak harus selalu jadi nomor 1. Seringkali kebutuhan kita sebagai orangtuanya juga ada di atas kebutuhan anak.


Post Comment