8 Negara Terburuk Untuk Melahirkan

Mungkin kecil kemungkinan sih kita melahirkan di negara-negara berikut ini…. Tapi cukup menarik sebagai informasi buat kita para mommies. Ini dia 8 negara terburuk untuk melahirkan.

Bagi kita-kita yang menetas (MENETAS), tumbuh dan terbiasa hidup di kota-kota besar, mungkin nggak pernah berpikir bahwa melahirkan itu bisa menjadi masalah berat dalam hidup (kecuali kalau memang kita ada keluhan atau penyakit di awal). Secara akses ke rumah sakit serta tenaga kesehatan sudah pasti mudah, akses mencari informasi juga cepat, ditambah support system yang semakin melek akan pentingnya menjaga kesehatan emosi ibu hamil.

Pun demikian, di Indonesia sendiri, sepanjang tahun 2011 – 2015 masih ada 126 kasus kematian ibu setiap 100.000 proses persalinan sukses. Nggak heran kalau Indonesia masih masuk ke dalam negara dengan Angka Kematian Ibu tinggi di Asia Tenggara (sedih ih…).

Dan ternyata, di negara- negara lain pun juga mengalami hal yang sama, terutama negara-negara berkembang. Beberapa di antaranya adalah ….

8 Negara Terburuk Untuk Melahirkan Anak - Mommies Daily

South Korea
Kesulitan di sini lebih karena faktor tradisi. Ibu yang akan melahirkan jika menggunakan obat penghilang rasa sakit akan dianggap sebagai perempuan lemah dan dinilai tidak mampu menjadi ibu yang baik.

Amerika Serikat
Rada mengagetkan yaaa, secara AS dikenal sebagai negara maju dan super power! Namun, ketidak adilan untuk urusan kesehatan sangat-sangat mencolok, lho! Para ibu yang secara ekonomi kurang bagus mempunya akses terbatas untuk ke kesehatan. Masalah lainnya adalah semakin meningkatnya perempuan bawah umur yang terpaksa menjadi ibu. Serta belum adanya aturan yang jelas mengenai cuti melahirkan.

Baca juga:

Perusahaan dengan Aturan yang Ramah Untuk Ibu Bekerja di Jakarta

Pakistan
Minimnya tingkat pendidikan di negara ini membuat perempuan hamil tidak memiliki informasi memadai tentang kesehatan di saat hamil serta perawatannya. Problem umum lainnya adalah banyaknya perempuan Pakistan yang menikah dini (bahkan sebelum memasuki usia 15 tahun) sehingga sangat bergantung pada suami.

Nepal
Ada perbedaan yang sangat besar antara akses untuk masyarakat perkotaan dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan. Di pedesaan, hanya satu dari tiga perempuan yang bisa memperoleh pelayanan kesehatan di saat hamil. Dan hanya 4 dari 10 perempuan Nepal yang mungkin bisa dilayani oleh dokter, suster atau bidan. Tak jarang banyak dari mereka yang harus pergi ke dukun beranak dan menjalani perawatan dengan peralatan tidak memadai bahkan tidak steril.

Filipina
Di negara ini, perbedaan akses untuk perempuan di kota besar dengan di daerah terpencil juga sangat menjadi-jadi. Para perempuan di daerah terpencil seringkali dipaksa untuk memiliki anak banyak dengan jarak usia yang dekat antara satu anak dengan anak lainnya. Makanya tak heran kalau keluarga dengan ekonomi rendahlah yang memiliki anak lebih banyak. Dan penyebab kematian terbesar ibu hamil di sini disebabkan oleh Preeklampsia.

Baca juga:

Preeklampsia Wajib Dipahami Ibu Hamil

Papua New Guinea
Ini juga negara yang tingkat kematian dari ibu hamilnya sangat tinggi. Rumah sakit maupun klinik kesehatan kecil selalu padat pengunjung. Salah satu alasannya, karena negara ini memiliki sangat sedikit tenaga kesehatan, dengan perbandingan 0.006 tenaga kesehatan untuk setiap 1000 orang. Ditambah tidak adanya aturan baku tentang cuti melahirkan bagi ibu.

Baca juga:

7 Negara dengan Cuti Melahirkan Terbaik

Afganistan
Selama belasan tahun, Afganistan memiliki sejarah buruk berkaitan dengan kematian ibu dan bayi baru lahir. Mencapai puncak kekelamannya pada tahun 1996 – 2000 ketika Afganistan dikuasai oleh Taliban. Taliban mengeluarkan banyak kebijakan yang merugikan perempuan. Belum lagi anggapan bahwa pekerja kesehatan itu adalah pekerja yang dianggap kotor!

Afrika Barat
Negara yang penuh dengan intrik politik, pemberontakan hingga konflik antar suku mau tidak mau membuat proses ‘pembuatan’ generasi berikutnya menjadi sangat menantang. Ditambah tradisi di sini tentang kawin paksa. Minimnya pengetahuan juga membuat banyak bayi tidak mendapat layanan kesehatan seperti vaksin.

Mari kita banyak-banyak bersyukur ya, kalau kita tidak mengalami kondisi-kondisi seperti para perempuan di beberapa negara di atas.


Post Comment