Mengintip Pelajaran yang Didapat Pengusaha Startup di 2017

Jumlah startup di Indonesia menurun di kuartal kedua di 2017. Namun kabar baiknya, ada 4 startup unicorn yang muncul di Indonesia. Apa ya, yang bisa pelajari dari para pengusaha startup, menikmati jatuh bangun usaha mereka?

Meski jumlahnya menurun, tahun lalu ada empat startup tanah air yang berhasil menjadi unicorn, yaitu startup yang memiliki valuasi senilai 1 miliar dolar Amerika (sekitar 13,1 triliun rupiah) atau lebih. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. Menyusul Bukalapak juga mengumumkan dirinya menjadi next startup unicorn.

Mengintip Pelajaran yang Didapat Pengusaha Startup di 2017 - Mommies DailyImage: financialtribune.com

Sedikit pengetahuan startup untuk mommies, kita patut berbangga lho. Karena pemerintah kita lewat Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara. Menargetkan 2020, ada 44 startup unicorn yang muncul. Hal ini diharapkan bisa menggenjot perekonomian Indonesia.

Baca juga: Plus Minus Bekerja di Perusahaan Start Up

Pencapaian startup unicorn ini, pasti melalui perjuangan yang tanpa lelah. Dan banyak belajar dari pengalaman juga, ya. Menurut Forbes.com. Kesalahan dalam berbisnis penting banget, sebagai catatan perjalanan sang entrepreneur.

Lalu apa saja, pelajaran yang bisa diambil oleh kita, mommies? Yang berhubungan dengan kegagalan-kegagalan dari para pengusaha startup ini. Dari situs Forbes.com, dan contoh-contoh kejadian di luar negeri. Saya rangkum untuk, mommies. Semoga berguna untuk membangun bisnis mommies, atau juga bisa diterapkan di dunia pekerjaan.

1. Lakukan saja! Jangan terlalu banyak pertimbangan

Sebuah Digital Marketing dan Content Agency, Maade, yang berbasis di London. Mencatat hal penting untuk bisnisnya di tahun 2017 lalu. Matthew Rose, sang direktur mengatakan. Di tahun lalu mereka sempat mengeluarkan biaya besar untuk bisnis barunya. Dan tidak akan mengulanginya lagi di tahun 2018.

Matthew bilang, 2017 mereka terlalu hati-hati. Ingin keahlian dan pendekatan yang timnya lakukan sempurna. Namun, dampaknya, pendekatan yang lamban, justru lebih sedikit menghasilkan klien. Sementara perusahaan kompetitor Maade, berhasil menggaet klien dengan pendekatan yang tidak memakan waktu lama.

Pelajaran yang bisa diambil menurut Matthew. Tahun 2018 akan jauh lebih agresif dalam menemukan strategi dan memenangkan pertarungan bisnis. Belajar dari pengalaman 2017

2. Hindari mengandalkan satu strategi

Perusahaan bernama Vieve Protein Water, akhirnya diluncurkan, setalah dua tahun proses pembangunan. Kata CEO-nya Rafael Rozenson, enam bulan pertama jadi tantangan tersendiri. Meski strategi yang dia jalankan cacat. Di sisi lain, bisnisnya tetap menguntungkan walau sedikit.

Saat pertama kali diluncurkan. Rafael mencoba model berlangganan untuk produknya. Tidak butuh waktu lama, untuk mengetahui, ternyata model tersebut ternyata tidak berhasil. Tapi Rafael dan timnya tetap berusaha memperbaiki pelayanan mereka. Dan faktanya, memengaruhi penjualan mereka mereka di beberapa bulan pertama.

Pelajaran yang bisa dipetik oleh Rafeal: belajar untuk bisa jauh lebih fleksibel. Mencoba berbagai strategi lainnnya.

3. Skill tetap penting, jangan hanya mementingkan personality-nya

Salah satu faktor penting dalam sebuah bisnis, tentu saja SDM, dong, ya, mommies. Memiliki tim yang tepat dan bisa mengembangkan bisnis, ibarat nyawa dari strategi bisnis di sebuah perusahaan.

CEO, perusahaan Communicarion Agency, Noir, belajar banyak seputar perekurtan SDM ini. Kesalahan yang pernah dilakukan tim HR-nya, dalam merekrut pegawai, fokus kepada kepribadiannya. Tapi justru mengabaikan pengalaman kerja orang tersebut. Walau lingkungan kerja yang dibuatnya sudah sangat menyenangkan, program review pegawai juga baik dan gaji yang layak. Faktanya pengalaman seseorang dan pertumbuhan perusahaan harusnya berbanding lurus.

Kesalahan seputar rekrutmen terbukti tidak hanya mahal secara finansial. Tapi juga berdampak pada psikis dan beban kerja tim yang ditinggalkan. 2018, Noir fokus untuk mengembangkan tim terbaiknya. Tentu saja, lebih jeli melihat kandidat tim yang gabung di perusahaannya.

Baca juga: 4 Cara Merekrut Karyawan Potensial untuk Startup Company

4. Buat rencana yang punya tujuan. Dan biarkan anda terinspirasi dari orang lain

Wajeeha Husain, waktu kecil tidak pernah diizinkan makan coklat, karena berisiko tinggi terkena diabetes. Ketika besar, ia malah membuat usaha coklat yang bisa dimakan kapan saja, Chocolateeha, namanya. Tujuannya supaya pecinta coklat bisa makan coklat, sesuai keinginan mereka. Tapi sayang, rencananya di 2017 silam, gagal karena justru orang-orang yang ia ajak kerja sama bukanlah orang yang memiliki bisnis dan tidak bisa mengerti diri Wajeeha seutuhnya sebagai seorang pengusaha.

Rencana  Wajeeha tahun 2018, ia ingin menghadiri lebih banyak acara yang berhubungan dengan bisnisnya, sambal menjalin networking. Dari situ ia berharap, bisa dikeliling banyak entrepreneur seperti dirinya. Bisa belajar dan terinspirasi dari mereka.

5. Kesehatan tetap menjadi prioritas

Sehebat apapun manusia yang punya usaha sukses, dia tetaplah manusia, ya, mommies. Bukan mesin, yang bisa bekerja nonstop. Bahkan mesin ada kalanya harus istirahat.

Contoh kasus yang di tulis Forbes.com, datang dari business coach, Tasmin  Sabar. Sanking fokus sama bisnis yang ia jalankan, ia mengabaikan kesehatannya. Terlalu obesesi. Sampai pada waktunya liburan, justru dia sakit. Dan harus mengambil jatah cuti beberapa minggu lagi, untuk masa penyembuhan.

Masalah berat badan juga muncul, Tasmin bertambah gemuk. Dampaknya ia gampang lelah. Namun, akhirnya dia sadar, Tasmin juga harus memerhatikan kesehatannya sebagai investasi untuk bisnisnya dan komitmen dirinya harus tetap menjadi prioritas.

Buktinya sekarang dia, meditasi dan yoga dan tidur yang cukup. Asupan makanan juga diperhatikan dengan baik, begitu pula dengan minum. Ia akui, gaya hidup sehatnya ternyata juga memengaruhi produktivitas kerja. Tentu kebiasaan baiknya ini, akan dibawa di 2018.

*Artikel ini adaptasi dari Forbes.com


Post Comment