Dear Orangtua Baru, Bersiap Hadapi 5 Tantangan Ini, ya! - Mommies Daily

Dear Orangtua Baru, Bersiap Hadapi 5 Tantangan Ini, ya!  

Jatuh cinta, pacaran, menikah lalu komitmen punya anak. Apakah setelah ada bayi, kehidupan pernikahan akan tetap indah seindah pak suami PDKT ke kita? Setidaknya ada 5 masalah yang biasanya akan dihadapi orangtua baru. Yuk, cari tahu untuk tindakan antisipasi.

Baru-baru ini saya terlibat obrolan seru sekaligus berat, dengan sahabat dari luar kota. Biasa deh, obrolan seputar pasangan. Bedanya, saya sudah menikah dan punya anak. Sahabat saya ini, masih menunggu pangeran tampan dan mapan untuk meminang, good luck for that, ya!

Dear Orangtua Baru, Bersiap Hadapi 5 Tantangan Ini, ya! - Mommies DailyImage: Drew Hays on Unsplash

Di tengah  waktu penantiannya ini. Dia dihadapkan dengan kemantapan memilih di antara dua kandidat. Saya tidak bisa bicara banyak soal dua calonnya itu. Pertama, saya nggak pernah interaksi intens dengan mereka. Kedua, ini masalah keselarasan hati dan logika, jadi pelakunya sendiri yang bisa memutuskan terbaik untuk masa depannya. Yang bisa saya sumbang, adalah gambaran perjuangan dan kehidupan sesungguhnya setelah pernikahan.

Bagaimana (buat saya) pas hari H nikah, akan terlewat begitu saja. Sekian jam salaman sama ratusan tamu (ada yang kenal banget, sampe yaaang, “Ini siapa, siiihhh?”), dan drama-drama kecil usai pesta berlangsung. Yang nyata adalah: sejumlah tantangan yang harus dihadapi, sebagai orangtua baru dan harus dihadapi bersama setelah mempunyai anak. Sebelum itu, bolehlah menikmati mesra-mesran selama bulan madu dan baby moon, hihihi.

Baca juga: 10 Perubahan Setelah Saya Memiliki Anak

1.Waktu untuk “kita” layak diperjuangkan

Pas anak brojol, fokus utama sudah beralih ke bayi mungil dan masa recovery kita sebagai ibu setelah melahirkan. Bukannya nggak kangen sama masa-masa pacaran, nonton ke bioskop, ngopi-ngopi lucu di café favorit, datang ke pameran foto, hunting buku-buku foto dan sebagainya. Belajar dari kasus saya terdahulu, kalau nggak dibuat waktu khusus buat kencan, yang nggak ada tuh, quality time dengan suami.

Dalam situs todaysparent.com, ada saran dari Ann Douglas penulis 19 buku parenting dan ibu dari 4 anak, dari Peterborough, Ontario, Canada. Katanya, dalam sehari coba luangkan waktu beberapa menit untuk menikmati teh atau kopi bareng. Mungkin usai pak suami pulang ngantor. Dan pas baby kita, sedang nyenyak-nyenyaknya tidur. Setidaknya 15 menit, sudah cukup, asalkan obrolannya berkualitas. Selain itu, coba memaksimalkan fungsi stroller baru yang dikasih kolega pak suami. Tentukan taman kota dekat rumah, bangun pagi, terus jalan-jalan saja menyusuri taman. Apapun yang mommies dan pasangan lakukan, Ann Douglas menyarankan, pokoknya teruslah ngobrol. Saya sendiri? Suka curi-curi waktu pas menyusui Jordy tengah malam dan suami ikutan bangun *walau cuman hitungan menit, sih :p

2.Tidur nyenyak, jadi barang langka (tapi 3 bulan pertama saja, kok!)

Selain saya yang sudah mengalami. Setelah tanya-tanya dan survei ke beberapa teman. Ritme tidur si anak bayi ini, mulai terbaca polanya, jelang dan di atas tiga bulan. Jadi, jangan berharap banyak, mommies dan pasangan bisa tidur nyenyak, saat si kecil masih di bawah 3 bulan. Tapi bukan berarti nggak bisa diakali, ya. Papa saya bilang, “Kalau anak kamu tidur, kamunya juga tidur, ya. Jadi pas dia bangun, kamunya juga punya energi yang cukup,” begitu petuah papa saya yang seringkali mampir di telinga.

3.Literally NO SEX!

Ini disebabkan alasan medis. Perempuan yang habis melahirkan, normal maupun caesar akan mengalami masa nifas. Yaitu masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil. Lamanya sekitar 6 minggu. Normalnya, ibu yang mengeluarkan darah, layaknya menstruasi . Selama itu pula, tidak terjadi hubungan intim suami isteri. Supaya nggak terlalu “dingin”, pintar-pintar saja mencari alternatif lain, memupuk keharmonisan. Tapi di kasus saya sih, malah sementara waktu, lupa dengan sendirinya. Prioritas sedang ke baby dan saya yang sedang recovery. Para suami, tolong mengerti hal ini, ya. Habis itu “tancap gas” lagi boleh, kok :D

4.Perbedaan gaya pola asuh antara pasangan, dan support system

Saya akui, dulu telat mengetahui hal ini. Rumus yang saya jalanin, doing by learning. Pas sudah merasakan, baru deh, cari jalan tengahnya. Idealnya, sih, bisa dikomunikasikan dengan pasangan. Dan dengan orangtua atau ibu dan bapak mertua jika tinggal satu rumah dengan mereka. Misalnya sesederhana, merencanakan, “Kapan nih, si kecil bisa tidur di kamarnya sendiri?”. Di sisi lain, ini adalah kesempatan untuk tetap menjalin komunikasi pasutri, negosiasi dan kompromi.

5. So much to do list!

Masing-masing pasangan otomatis punya job desc baru, sebagai ayah dan ibu. Pekerjaan remeh temeh yang terlihat sepele, namun sungguh menguras tenaga. Mandiin si kecil, menjemur si kecil di matahari pagi, rajin pumping, buat memastikan pas bekerja, stok ASIP cukup buat si kecil. Tak terkecuali untuk ayah. Tugas-tugas yang sekilas hanya bisa dilakukan ibu, bisa lho mulai dipercayakan ke ayahnya.

Semakin anak besar. Akan ada penyesuaian tugas yang juga mengikuti. Saya sih akan senang hati, mendelegasikan sebagian pekerjaan ke suami. Yang namanya parenting, kan ada unsur ayah dan ibu, yang harus kerja sama toh? Jadi mari bagi tanggung jawab itu dengan adil.

Baca juga: Benarkah Ada Tanda Khusus, Suami Belum Siap Menjadi Ayah?

Oh iya, masih ingat scene obrolan saya dengan sahabat yang disinggung di atas? Sedikit solusi dari saya. Sebaiknya pasangan yang ingin menikah, menyempatkan ikutan konsuling pra-nikah. Sekarang sudah banyak tuh, perkumpulan psikolog yang mengadakan kelas tersebut. Harapannya, sudah terbayang dari awal, perubahan apa saja sih, baik itu fisik maupun psikis yang akan dihadapi sama orangtua baru. Nah, pas lahir si kecil, kita nggak buta-buta banget, nih sama ilmu parenting. Kan, dampak ke anak dan diri sendiri juga baik :)

Artikel ini diadaptasi dari todaysparent.com


Post Comment