Imperfect Relationship

You come to love not by finding the perfect person, but by learning to see an imperfect person, perfectly!

Masuk bulan Februari, bulan yang dikenal sebagai bulannya sayang-sayangan, saya malah mau menulis tentang imperfect relationship!

Perceraian mengajarkan saya banyak hal baru, salah satunya adalah, bahwa sama seperti pernikahan yang sempurna itu hanyalah mimpi belaka, ternyata perceraian yang sempurna pun juga sama sulitnya. Jangan dikira begitu palu diketuk dan keputusan keluar berarti drama juga berakhir! No way, masih ada drama-drama lanjutan yang cukup menguras emosi.

Dari sinilah saya jadi kepikiran kalau pada bulan Februari ini saya dan juga Mommies Daily ingin memberikan porsi yang lebih besar untuk membahas mengenai hubungan-hubungan yang tidak sempurna.

Imperfect Relationship - Mommies Daily

Bukan maksudnya membuat orang pesimis, niatnya sih hanya ingin memperlihatkan kenyataan-kenyataan yang ada aja, bahwa di balik romantisme dan harapan-harapan indah kita terhadap sebuah hubungan, entah itu hubungan dengan pasangan hidup, dengan anak, dengan sahabat, dengan rekan kerja, ya kita harus sadar bahwa kadang, harapan kita suka berbanding terbalik dengan realita yang kita hadapi.

Selalu ada dua sisi bukan? Sisi bahagia dan sisi sedih, sisi sempurna dan sisi tidak sempurna. Terima saja, bahwa mungkin hubungan kita dengan orang-orang sekitar kita memang tidak seindah bayangan, tidak seharmonis quotes-quotes cinta di Instagram. Sekarang tinggal bagaimana kita mencoba menikmati ketidaksempurnaan itu. Bagaimana kita berdamai dengan ketidaksempurnaan yang harus kita jalani.

Seperti kalimat pembuka di atas, bagaimana kita belajar untuk melihat orang-orang yang tidak sempurna di sekitar kita menjadi sosok yang ‘sempurna.’ Maka dibutuhkan keahlian juga dari kita untuk melihat hubungan yang tidak sempurna menjadi sempurna.

Idealnya, keluarga itu terdiri dari ayah, ibu dan anak. Tapi kalau perceraian harus terjadi, ya sudah, jalani saja dan ciptakan kesempurnaan versi kita sendiri.

Idealnya, suami isteri itu tinggal bersama. Tapi kalau tuntutan pekerjaan atau pendidikan membuat kita menjalani long distance relationship, ya nggak masalah juga. Toch banyak cara untuk menyiasatinya.

Idealnya, kita sih pingin seluruh anggota sehat tanpa kurang suatu apa pun. Tapi kalau ternyata pasangan hidup atau anak atau kita sendiri tergolek lemah karena sakit, ya siapa yang bisa mengatur itu semua? Tinggal bagaimana kita bersikap optimis dan memberikan yang terbaik untuk satu sama lain.

Kalau kita terlalu berambisi mengejar sesuatu yang ideal menurut standar orang lain atau dunia, pada akhirnya kita hanya akan menyakiti diri sendiri dan orang lain. Kita bisa kok menciptakan versi ideal sendiri. Kita bisa kok menjadikan hidup kita terasa sempurna kalau kita tidak sibuk mengukurnya dengan standar orang lain. Karena kita yang paling paham, sempurna seperti apa yang kita inginkan dan kita butuhkan!


Post Comment